Ini adalah kisah
lanjutan dari kisah inspiratif sebelumnya. Kisah-kisah kali ini merupakan kisah
ketika aktif di PW IPM DI Yogyakarta sebagai Ketua Perkaderan dan Ketua
Organisasi. Kali ini bukan lagi berpikir mau atau tidak mau di IPM, tapi
bagaimana mengembangkan IPM dengan jalan lebih kreatif dan produktif. Apalagi
masa-masa di PW IPM adalah akhir masa studi S1 dan akhir dari remaja menuju
manusia dewasa sesungguh-sungguhnya. Inilah saat tidak lagi mencari siapa aku, tapi
sudah kutemukan inilah aku, dan bagaimana aku bisa berkembang melesat lebih
jauh lagi.
Cerita di PW IPM
DIY bermula ketika aku mengadakan Pelatihan Fasilitator Pendamping (PFP) I.
Sebenarnya program ini tidak tepat untuk level PW IPM DIY karena harusnya PFP I
dilaksanakan oleh PD IPM. Tapi karena ketika itu di DIY belum ada dan belum
menjamur PFP I, akhirnya PW IPM berinisiatif mengadakan terlebih dahulu dengan
harapan PD IPM segera melakukan program serupa dengan frekuensi yang lebih
sering dan lebih massif. Kegiatan ini hanya satu hari, pagi dibuka dan sore
ditutup. Semacam parade materi dan
ceramah lah. Tapi dari
penerawanganku, seluruh peserta bahagia dengan acara ini, terlihat dari tidak
adanya yang membolos atau ngambek.
Walau kalau boleh jujur, tidak efektif pelatihannya. Tapi ya lumayan sebagai
bentuk awalan. Yang lucu, aku salah kostum. Ketika itu aku mengenakan celana
yang terbuat dari kain sarung warna merah kotak-kotak. Memang sih baru, tapi malah terlihat kayak
badut.
Untuk perkaderan,
aku memiliki idealisme-idealisme yang menggebu-gebu. Aku benci orang yang sudah
tua tapi tidak mau meninggalkan PC atau PD IPM-nya. Mau cari apa coba?
Kebanyakan mereka berdalih tidak ada kader, mau siapa lagi kalau bukan yang
tua, dan apa jadinya kalau misalkan mereka tidak ada. Aku pikir mereka orang
yang sombong. Bukankah merekalah yang malah tidak memberi kesempatan kepada
yang muda untuk memimpin? Apakah hanya mereka saja yang bisa mengaktifkan
sehingga kalau tidak ada mereka, kiamat bagi organisasinya. Kenapa tidak dari
dulu memikirkan perkaderan dan menyiapkan penggantinya. Aku yakin kader itu
pasti ada. Tapi kalau hanya dicari memang tidak ketemu. Bisanya ya dibentuk.
Terus diberi kesempatan. Serahkan selanjutnya terhadap Tuhan.
Kaderisasi
sepertinya masih menjadi permasalahan IPM yang seksi sampai beberapa tahun
lagi. Di IPM yang kutemui selalu dengan periode yang kekurangan personel.
Banyak jumlah pimpinan ketika pelantikan, tapi kebanyakan titip nama,
pelantikan bagi sahabat-sahabatku tadi adalah sekaligus pamitan dan pembubaran
pimpinan. Kalaupun aktif, banyak yang aneh-aneh, termasuk diriku, hehe. Ada
yang getol banget berdakwah, bahkan bawaannya semua dihukumi benar salah.
Pokoknya kayak majelis tarjih berjalanlah, gak bisa membedakan ilmu tabligh dengan
tarjih, dikit-dikit dolalah. Ada yang suka berbicara setinggi langit,
kakinya memang masih menginjak bumi, tapi otaknya dipenuhi idenya para dewa.
Habis ngomong sebuah wacana, terus pergi begitu saja. Ada lagi yang taunya
masalah teknis saja. Kalau kumpul yang diomongkan masalah parkir terus,
pembagian snack, kapan mau nyari sponsor, udah, itu saja. Masih banyak lagi
sebetulnya, ada yang malah jualan kalau acara IPM, gak bisa membaca Al Quran
atau takut kultum walau sampai PW, nongolnya pas pleno terus sehingga bingung
caranya mau mecat, kemana-mana bawaannya curhat, dan lain rupa-rupa warnanya.
Kesunyian
kaderisasi terus berasa. Setelah selesai di PW IPM kemudian berlanjut naik ke
PP IPM, aku sendirian se-Indonesia. Seluruh PW IPM sedunia kompakan membiarkan
aku tak ditemani siapapun. Aku ikut Taruna Melati Utama yang pesertanya 13 biji,
mengadakan Taruna Melati III pesertanya 11 patriot, mengadakan tabligh akbar
jadinya tabligh sughro, sebenarnya ingin kunamakan liqo walau lebih tepatnya
privat. Mengadakan suatu kegiatan jabatannya Perpubdekdokhumtrans
(perlengkapan, publikasi, dekorasi, humas, dan transportasi jadi satu). Silaturahmi
kemana-mana masalahnya IPM ternyata masih klasik, atau mungkin abadi, yaitu
pimpinannya tidak banyak yang aktif dan kurang militan. Berkunjung ke daerah
satu terjadi gerimis keluhan, ke daerah yang lain banjir keluhan, bahkan ke
daerah antah berantah sekalipun tetap badai keluhan. Tapi begitulah perkaderan,
sedikit jumlahnya karena memang untuk menjaga kualitas. Kalau misal dihitung
kecewanya, mungkin aku sudah bebal kecewa saking banyaknya stok alasan untuk
kecewa terhadap IPM.
Aku melakukan
kampanye TM-isasi untuk segala bentuk kondisi IPM, berbagai level, dan berbagai
cita-cita. Pokoknya TM adalah obat mujarab ampuh untuk segala penyakit IPM,
baik panu, kadas, kurap, kutu air, atau jantungan IPM. IPM sering kali
menganggap malas TM karena dinilai tidak efektif untuk kaderisasi. Kalau
begitu, dengan apa lagi kalau tidak dengan TM kita bisa mengaktifkan IPM? Kalau
misal perkaderan formal saja tidak direngkuh, bagaimana dengan perkaderan
bentuk yang lainnya. Biarlah terkesan formalitas, tapi toh kelak selangkah demi
selangkah akan menjadi matang. Taruna Melati, itulah wahana untuk meningkatkan
kapasitas anggota dan pimpinan, peserta bahkan fasilitatornya, karena semakin
lama jam terbang kefasilitatorannya semakin baik dan militan kemampuan
seseorang. Alhamdulillah, kampanye TM-isasi di DIY kian membumi dengan adanya
TM yang bertebaran di sekolah-sekolah. Kelak, jumlah alumni TM I banyak,
peserta TM II akan banyak, dan TM III dan TM U tak lagi sunyi.
Akhirnya, aku
mengadakan Taruna Melati III. Sebagai Cagur (calon guru), aku “memaksa” seluruh
fasilitator untuk menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP). Anehnya, semua
menyusun, tapi semua tak ada yang sesuai dengan RPP-nya. Tapi tak apalah,
inilah TM terbaik yang pernah ada –hehe, karena aku jadi MOT-nya-. Pelatihan
yang berlangsung 7 hari inipun berlangsung –insyaAllah- sukses. Peserta yang
berjumlah 11 semuanya aktif berdiskusi, bahkan sampai larut pagi, hingga susah dibanguninnya.
Setelah selesai, sertifikatnya sudah jadi, dan inilah prestasi tertinggi. Soalnya
sering kali acara IPM tak jadi sertifikatnya. Idealisme pelatihan yang tidak
parade materi pun terpecahkan. Peserta merasa pelatihan 7 hari masih kurang,
kalau perlu ditambah lagi. Mereka banyak merasa belum merasakan orgasme
intelektual tapi harus disudahi karena terbelit masalah waktu.
Aku membunuh
setahun akhir di PW IPM DIY sebagai ketua Organisasi. Dihadapkan pada masalah
IPM yang klasik tadi. Bahkan ditambahi masalah IPM paling purbakala, yaitu
dualisme IPM-(S)OSIS. Parahnya, PW IPM belum juga memiliki data valid siapa,
bagaimana, dan seperti apa kondisi IPM se-DIY. Akhirnya mau tidak mau melakukan
pendataan untuk merekapitulasi kondisi IPM. Terkumpullah data yang menyebutkan
bahwa IPM ternyata buta dengan kondisinya sendiri dan orang yang buta ini
hendak mengobati penyakit pasien dengan terapi yang asal-asalan. Boleh
diibaratkan orang yang sakit jantung stadium 3 diobati oleh alumni pelatihan
P3K PMR. Silakan dibayangkan.
Alumni pelatihan
P3K ini –termasuk aku-, mencoba mengobati dengan menerbitkan buku IPM Guide
Book. ‘Ini adalah resep mutakhir yang mujarab untuk mengobati penyakit tadi.’
kata aktivis IPM yang suka ice breaking ini.
Tentu saja syarat dan ketentuan berlaku, yaitu ada pendamping yaitu PD dan PC
IPM yang mau dan mampu memperhatikan PR IPM, pembina yang tahu tentang IPM, dan
kepala sekolah yang mengizinkan siswa dan dananya untuk pembinaan IPM. Kenyataan
ternyata berkata lain. PD IPM yang ada sibuk mengurusi permasalahan internal (sudah miskin, pimpinannya sedikit, dananya
juga sedikit, gak terkenal, tapi kisruh terus, bawaannya mau Musydalum saja), guru pembinanya bingung apalagi muridnya,
kepala sekolahnya ikut-ikutan bingung sehingga lebih memilih (S)OSIS sebagai
organisasi intra sekolahnya.
IPM Guide Book
dicetak harapannya memandu, menolong, dan menerawang masa depan IPM yang
gemilang. Buku ini dicetak 500 eksemplar, disebarkan ke segala penjuru mata
angin, dipromosikan kayak kacang goreng, dan dianakemaskan seperti bawang
merah. Alhamdulillah buku ini menguntungkan secara finansial dan menggemaskan
secara fenomenal. Mana ada PW IPM yang mampu menerbitkan buku seperti ini
coba?! Mau nanya tentang IPM, ideologinya, cara membuat surat, cara membuat up grading, cara mengadakan pelantikan,
cara mengadakan fortasi, cara mengadakan Taruna Melati, bahkan cara Out Bond
pun tersedia. Ya kita tunggu saja efeknya sampai batas waktu yang tidak
ditentukan.
Administrasi
sepertinya menyusahkan, tapi sebenarnya memudahkan. Kelengkapannya mendukung
seluruh kegiatan yang diadakan. Maka dari itu, terjadilah IPM DIY Award sesion
I. Kegiatan ini adalah kegiatan kompetisi mendapatkan IPM teladan dengan
melombakan kategori tingkat PD, PC, PR SMA sederajat, dan PR SMP sederajat.
Alhamdulilah telah berhasil memaksa beberapa pimpinan untuk mengadakan
sekretariat, papan nama, pengarsipan yang rapi, kegiatan yang terdata, dan
banyak kemajuan lainnya. Selamat kepada PD IPM Kulon Progo, PC IPM Imogiri, PR
IPM Muallimaat Muh. Yk., dan PR IPM SMP Muh. 9 Yk. telah menjadi IPM teladan
tingkat DIY. Semoga semakin jaya dan mengilhami bagi yang lainnya. Mengingat,
menimbang, menetapkan, dan memutuskan acara ini sangat baik, pernyataan akhir
ketika aktif di PW IPM adalah menginstuksikan –bagi yang mau diinstruksi- untuk
mengadakan kegiatan serupa tingkat PD IPM. Untuk pembaca, saya sarankan untuk
mengadakan kegiatan serupa, insyaAllah segala amal perbuatannya diterima di
sisi-Nya.
Di akhir masa
aktif di PW IPM, aku mendapatkan rezeki yang terduga. Aku mendapatkan pekerjaan
yang kesemuanya “dibantu” aktifnya aku di organisasi. Yang pertama, aku menjadi
tutor Bahasa Indonesia di Homeschooling Kak Seto Yogyakarta karena diajak rekan
di IPM, Kak Arif, sebagai kepala cabang Yogyakarta. Yang kedua, aku mengajar
Bahasa Indonesia di MBS Prambanan karena direkomendasikan rekan IMM UNY dan
mendapat restu Pak Agus, Kepala Sekolah SMP yang juga aktivis muda
Muhammadiyah. Yang ketiga, di sebagai pembina KIR di SMP Muhammadiyah 9
Yogyakarta karena diajak Pak Bakti, pembina IPM di sana dan kenal gara-gara
sering berdiskusi tentang IPM. Selain itu, aku juga aktif di MPK PWM DIY karena
rekomendasi PW IPM DIY. Kadang-kadang mengisi training motivasi baik sendiri
atau bersama Tim Pesantren Masyarakat Jogja (PMJ) karena mendapat kepercayaan
dari Kang Kurni, alumni IPM. Kini, aku adalah pimpinan PP IPM dunia akhirat
sebagai anggota ASBO.
Ternyata IPM
memuluskan jalan yang semula tak terbayang. Aku menjadi seperti ini karena IPM
hingga dewasa di IPM, mungkin akan menghidupi IPM –Muhammadiyah dan Islam-,
menemani jalan hidupku hingga akhir hayatku. Tunggu saja, aku akan menjadi
seperti apa kelak. Sampai jumpa di puncak kesuksesan.
Namun, kehidupan
dan ber-IPM tidak semudah kata-kata Mario Teguh, hehe. Pasti lebih banyak
alasan daripada yang dilakukan. Tapi tak apalah, yang penting mari kita aktif
di IPM manapun, posisi apapun. Syukur-syukur bisa menjadi pelopor, pelangsung,
dan penyempurna amanah umat dan persyarikatan. Toh, di IPM kan memang tidak
dibayar langsung, tapi kita sedang bekerja di perusahannya Allah, DAKWAH
CORPORATION. Direkturnya Allah, gajiannya pahala, dan kelak dapat kapling surga
untuk orang-orang IPM. Pastilah sekarang atau kelak akan ada kebaikan dan akan
terus mekar sebagaimana bunga di musim semi.
0 komentar:
Poskan Komentar