Barusan aku pulang. Bertemu dengan
ibu Jumini di dekat rumahku. Dia menyapaku dan menanyakan kabarku. Aku pun
hanya bisa tersenyum. Aku merasa belum menjadi manusia sepenuhnya. Kuliah belum
selesai, kerja pun belum mapan.
Tapi dia malah cerita tentang
anaknya, Windri yang dulu seumuran, berdekatan waktu lahirnya. Sekarang Windri
sudah mau menikah. Hadew, ini lagi. Masalah nikah emang menarik tapi
menyebalkan. Tak dinyana, bu Jumini melanjutkan cerita yang di luar dugaanku
sama sekali. Asal muasal kelahiranku yang “tidak sengaja”.
Sebelumnya, aku punya kakak terdekat
bernama Jumratul Khatimah. Kalau yang namanya khatimah berarti dia adalah
penutup. Ealah, muncul aku satu lagi dengan jarak 6 tahun dan kondisi ibu
bapakku yang lumayan tua. Kalau tidak salah ibuku sudah berumur lebih dari 35
tahun dan bapakku 50 tahun ketika aku hadir ke dunia. Mbak Argo dan Lek Isti
marah besar ketika tahu ibukku mengandung seorang bayi imut ini. Makanya namaku
Hamdan Nugroho yang artinya memuji atas anugerah Tuhan. Yah, kalau memang sudah
rezekinya ya mau gimana lagi?!
Jadi begini, kata bu jumini, “Le,
dulu tuh kenapa kamu seumuran dengan Windri karena sama-sama salah minum pil
KB. Dulu kami (Bu Jumini dan Ibuku) ganti minum pil KB yang putih kecil. Padahal
sebelumnya cokelat dan besar. Nah, aku tuh mengambil pil itu juga dari ibumu.”
Yah, padahal ibuku dulu kader KB
yang baik dan benar. Ketika mbak Jumrotul Khatimah lahir, sudah didenda 5 ribu.
Ketika aku lahir didenda 20 ribu. Ketika tahun 1990 nilai segitu masih sangat
besar. Gaji bapakku aja konon cuman belasan ribu.
Hehe. Aku sadar aku ternyata
adalah “produk tak sengaja” dari kedua ortuku karena “kecelakaan” pil KB. Tapi
tak apalah yang penting ibuku tidak menggencet aku seketika setelah lahir. Ibu merawatku
sejak kecil hingga dewasa seperti sekarang ini. Sebagai anak terakhir aku pun
bahagia. Banyak kakak banyak bantuan. Begitulah kiranya.
0 komentar:
Poskan Komentar