Mahasiswa dalam permasalahan. Budaya free
sex, suka berhura-hura, tidak peka sosial, dan permasalahan lain yang
menunjukkan akhlak mahasiswa menurun. Belum lagi motivasi dan prestasi yang
rendah. Hal ini diperparah semakin banyaknya mahasiswa yang enggan mengambil
peluang menambah pengalaman selain dari memakan bangku kuliah, yaitu organisasi
mahasiswa dan atau UKM. Tapi walau masuk sekalipun, ternyata masih banyak yang
sekedar mendapatkan ilmu event organizer.
Padahal misi sebenarnya tak hanya itu, misalnya mahasiswa mendapatkan
pengalaman kepemimpinan, menambah wawasan keilmuan, dan pendidikan politik
untuk usia dini. Meskipun begitu, perpolitikan kampus malah menyediakan budaya
politik yang tidak santun untuk ditiru.
Mahasiswa untuk masa depan. Mahasiswa seyogyanya menjadi agen of change, bahkan kalau bisa
menjadi architect of change. Mahasiswa
adalah penerus sekaligus pengembang bangsa indonesia yang dalam kondisi kritis
stadium tiga ini. Mahasiswa adalah bijih besi yang masih mungkin ditempa
menjadi benda apapun itu, bisa pedang, pisau, atau silet saja. Mahasiswa
bukanlah air di sungai yang mengalir begitu saja ke lautan dengan membawa
segala kotoran kemudian hilang.
Mahasiswa adalah kepompong yang ketika selesainya menjadi kupu-kupu
pemimpin yang terbang bebas ke sana kemari untuk mengepakkan sayap kepedulian
sosial dan intelektualnya. Mahasiswa adalah gatotkaca yang sedang berlatih ilmu
kanuragan di lembah candradimuka untuk menjadi kader yang berotot kawat
bertulang besi.
Mahasiswa harus menyadari, mengenali, dan menggali siapa sebenarnya
dirinya, atau bisa menjawab pertanyaan Who
am I? Mahasiswa harus menyandarkan idola mereka kepada orang-orang yang
tepat sehingga menambah semangat untuk meneladaninya. Mahasiswa marilah
perpegang teguh pada prinsip-prinsip sederhana namun mulia untuk meneguhkan sikap
kita akan jelasnya masa depan kita. Marilah kita hargai pengalaman terbaik
kita, bakat, minat, dan potensi yang kita miliki. Semuanya itu adalah bekal
untuk menggapai mimpi dan cita-cita kita masing-masing.
Untuk itu, mahasiswa memang selayaknya menjadi mahasiswa yang aktif
mengikuti perkuliahan dan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Mahasiswa penuh
karya nyata yang bermanfaat untuk umat dan masyarakat. Saat di kampus adalah
saat paling tepat untuk menunjukkan eksistensi dengan prestasi yang
membanggakan. Dengan jiwa mudanya, mahasiswa mampu melakukan lebih banyak hal,
berpikir lebih berat, nafas yang lebih panjang, untuk berakselarasi tinggi
menjadi mahasiswa yang progressif. Mahasiswa yang begitulah yang memiliki masa
depan yang dan selalu dirudung keceriaan.
Kunci-kunci kesuksesan mahasiswa adalah dengan menekankan prinsip 3T. Apa
saja 3T itu? Prinsip 3T yaitu Tertib Ibadah, Tertib Belajar, dan Tertib
berorganisasi. Mahasiswa menunjukkan kepada dirinya dan Tuhan bahwa inilah
manusia religius yang selalu mendasarkan hidupnya untuk mencari ridho-Nya dan
menyandarkan hidupnya dengan menaati segala aturan berupa perintah dan
larangan. Mahasiswa yang baik adalah yang lulus tidak terlalu lama dengan IPK
minimal tiga. Terkesan konvensional tapi inilah kenyataan menyakitkan yang
harus kita tuntaskan. Sebenar-benarnya mahasiswa tentunya memiliki keterampilan
tinggi dalam hal kreativitas, kepemimpinan, dan kewirausahaan yang disediakan
oleh organisasi kemahasiswaan dan UKM yang bertebaran.
Yang terakhir, sampai jumpa di puncak kesuksesan.
0 komentar:
Poskan Komentar