“Turunkan SBY!” teriak udin dalam sebuah orasi di Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
“SEPAKAT!!!” saut rekan-rekan sesama aktivis mahasiswa dengan semangat walau mentari tak letih menyirami tubuh dengan terik yang amat sangat.
“Dia melindungi antek-anteknya. Orang lain akan dihukum sangat berat. Tapi orang dekatnya dibiarkan pergi ke Singapura. Korupsi dibiarkan meraja lela. Kasus Century belum juga selesai sudah ditambahi kasus-kasus lainnya. SBY hendak membangun gurita untuk anggota keluarganya. Siapa dekat dia dapat. Dia membangun monarkrat dengan demokrat. Apakah kalian, mahasiswa melihat ini semua hanya bisa diam?!”
“TIDAK!”
“Untuk itu, Para Mahasiswa yang peduli dengan kondisi bangsa, jangan hanya diam, ayo teriakkan. Turunkan SBY…!!!”
“Turunkan SBY Turunkan SBY Turunkan SBY Turunkan SBY Turunkan SBY Turunkan SBY Turunkan SBY Turunkan SBY Turunkan SBY Turunkan SBY Turunkan SBY Turunkan SBY Turunkan SBY Turunkan SBY”
Parau, keringat, dahaga, dan lapar tak terkira, tak dipedulikan mereka demi bangsa Indonesia yang merdeka untuk selama-lamanya. Teriakkan yang akhirnya menjadi lagu, Turunkan SBY, adalah perjuangan atas ketidakpuasan. Mahasiswa adalah penguasa jalanan. Inilah bentuk nyatanya. Mahasiswa melimpah ruah, menyemut, menginjak aspal kelam yang teguh. Niat mereka adalah satu, menyuarakan keadilan sekeras-kerasnya. Terserah mereka akan mendengar atau tidak. Mahasiswa sudah terbiasa bila tidak didengar. Terserah masuk TV atau tidak. Mahasiswa sudah sering ikut audisi mencari bakat atau diliput dalam reality show Sengsaranya Hidup ini. Udin, koordinator aksi itu semua, merasa itulah jalan hidup yang akan ditempuhnya. Dia berasal dari keadilan, menemui dunia penuh ketidakadilan, ingin memperujung hidupnya dalam keadilan hakiki alias sejati. Dia kuliah di jurusan hukum, setiap pagi membaca koran dengan rubrik favorit opini dan hukum serta bumbu-bumbu politiknya. Sore datang, dia sudah dalam sebuah forum, dikusi dan diskusi, kemanapun dan dengan siapa pun itu. Intinya hanya satu, indonesia dikelola dengan ketidakadilan yang dilindungi, itulah korupsi. Bahkan dalam lelapnya, udin masih bermimpi, memenjarakan koruptor kelas teri, gurameh, lumba-lumba, lele, kakap, serta paus. Semuanya diciduk dan meratapi kesalahan yang telah dibuatnya, dan bertobat lalu melakukan perbaikan untuk bangsa.
***
Nunun, ibu udin yang kemana-mana mengenakan baju merah semerah pipi lesungnya yang merekah kala tersenyum sambil melambaikan tangan dari dalam mobil mewah. Apalagi ketika kampanye, senyum adalah hal paling mudah dan murah. Di jalan, di jamban, di kecamatan, dia tersenyum manis dan sekali lagi, mudah dan murah. Tangannya selalu di atas dalam setiap kesempatan. Pidatonya berapi-api, selalu teriak Merdeka! ketika mengawali dan mengakhiri pidatonya. Tak ayal, pemilih pun berhasil mendudukkannya dalam salah satu singgasana di senayan sebagai paduan suara yang dibayar mahal untuk mengamini segala keinginan pemerintah. Tapi senyum itu sedikit menghilang setelah itu. Bahkan dengan tetanga sebelah sekalipun, apalagi dengan pembantunya, selalu marah-marah adalah pekerjaannya.
“Tukatmi, kenapa kamu tidak membeli ayam lagi?! Kan aku dah mencatat daftar menu yang aku inginkan hari ini. Apa kamu tidak bisa baca, hah? Hari ini akan ada menteri yang bertandang ke sini. Aku tidak mau tahu, pokoknya harus segera sediakan hidangan yang istimewa setelah saya mandi.” kata Bu Nunun pada suatu petang, sepulang sidang, menunggu tamu penting datang.
“Tapi tadi ibu tidak menuliskannya?!” timpal Tukatmi dengan wajah menunduk sedalam-dalamnya.
“Walau tidak ditulis, ya kamu kreatif dikit dong. Beli apa yang kira-kira sedang aku inginkan.”
“Tapi Ibu pernah melarang membeli apa yang tidak ibu tuliskan, katanya itu pemborosan.”
“Heh, kamu berani membantah ya, tau gak, ada banyak orang lain yang siap untuk menjadi pembantu di rumah ini selain kamu. Apa harus aku panggil mereka untuk menggantikanmu?”
“Jangan Bu, maaf, saya masih ingin bersama di rumah ini.”
“Ya sudah, sana pergi.”
Malam itupun malam yang tak sepenuhnya kelam dalam sebuah rumah di kawasan Real Estate yang ada kolam renangnya. Udin datang, memutar musik, lalu mendengkur kencang. Bu Nunun menemui tamu seorang menteri Komunikasi dan Informasi yang akan mencanangkan pemblokiran situs favorit milik bangsa, situs porno. Si Menteri menginginkan bantuan DPR untuk menganggarkan porsi yang besar dan basah dalam kementerian tersebut. Pak Nazar, suami Bu Nunun pulang larut tapi masih semangat. Pak Nazar langsung menuju kamar tidur yang ada kamar mandi dalamnya, tentunya sudah disambut Bu Nunun dengan senyum merekah. Tukatmi, masih menangisi TV yang getol memutar sinetron romantis melankolis tapi tidak puitis.
***
“Baiklah, acara selanjutnya adalah sambutan ketua KPK. Kami persilakan Bapak Nazar untuk menyampaikan sambutannya.”
Pak Nazar menaiki podium dengan berjalan tegap. Langkahnya panjang-panjang. Setelan jas hitam, kopiah juga hitam, dan sepatu mengkilap, hitam juga. Dia mulai menyampaikan sambutannya dalam rapat koordinasi nasional pemberantasan korupsi yang mengundang seluruh Gubernur.
“Koruptor adalah pencuri tak terampuni. Keberadaannya harus kita berantas. Jangan sampai pandang bulu. Tak usah ragu-ragu, silakan laporkan kepada pihak berwenang, yang akan menang adalah keadilan. Uang rakyat adalah untuk rakyat. Mereka harus dilayani oleh pemerintah dengan uang yang sebenarnya adalah hak mereka. Pemerintah bersih, rakyat sejahtera. Saat ini, masih sangat parah. Banyak pejabat yang menyalahgunakan wewenangnya untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Ketika dimejahijaukan belum mendapatkan hukuman semestinya. Malah jauh lebih lama untuk pencuri semangka, atau pencuri ayam kampung yang dipukuli sampai mati.” kata-kata dari pak Nazar yang mengalir dan mempesonakan hadirin.
Posisi pak Nazar sebagai ketua KPK menjadikannya disegani siapa saja. Kemampuan akses terhadap berbagai data rekening, kelenturan untuk mengungkap kejahatan, dan kejujuran yang selalu dipegang teguh. Orangnya memang tenang dan bersahaja. Tapi tindakannya sudah membuat beberapa koruptor bertekuk lutut.
Kini, pak Nazar sedang suntuk menyelidiki sebuah kasus korupsi yang melibatkan salah satu kementerian. Korupsi ini termasuk korupsi besar yang menurut sumber melibatkan orang pejabat teras dalam kabinet. Kasus ini belum tersentuh oleh media massa demi keefektifan proses penyelidikan. Kelak ketika sudah berhasil diungkap akan segera diadakan konferensi pers. Tapi kalau tidak juga berhasil diungkap, tak perlu konferensi pers. Pak Nazar takut ada yang meragukan sepak terjang lembaganya.
***
Keluaga Nazar adalah keluarga yang tenang, mesra, dan penuh kasih sayang. Mereka jarang bertengkar, komunikasi lanca, walau memang jarang bersama-sama. Semuanya sibuk dengan urusan dan kepentingan masing-masing. Pak Nazar sibuk menyelidiki kasus-kasus korupsi besar, Bu Nunun anggota sidang dan jalan-jalan, sedangkan Udin demo-diskusi-rapat lagi.
Pada suatu hari, Pak Nazar pulang dari kantor tidak seperti biasanya. Wajahnya muram, sepertinya ada yang dipendam. Setengah jam kemudian keluar bersama istrinya, Bu Nunun mengendarai mobil sedan mewah berplat merah. Mereka melaju kencang, mengusik jalanan malam Jakarta menuju Bandara Soekarno-Hatta. Seperti semua terburu-buru, mereka lalu memesan sati tiket perjalanan ke Singapura. Tak lama kemudian, Bu Nunun sudah berangkat dengan pesawat sampai Singapura dengan selamat tanda ada suatu halangan apapun. Tapi Bu Nunun tetap tidak bisa tersenyum, dia hanya bisa tertunduk mengeja lantai sambil menitikkan air mata.
Dua hari kemudian, pak Nazar bertengkar dengan Udin di rumah.
“Pak, jangan pangil saya anakmu lagi!” seru Udin dengan suara parau dan mata setengah mendelik.
Pak Nazar pun menjawab, “Kamu lihat dulu situasi bapakmu ini udin. Apa kamu tidak sayang sama ibu? Apa kamu rela dia dipenjara? Apa kamu tidak malu kalau ibumu ketahuan dan ditangkap karena terlibat kasus korupsi?”
“Tapi Pak, hukum tak pandang bulu. Aku rela ibu dihukum kalau memang salah. Bahkan aku dengan suka hati dihukum mati sekalipun kalau memang terbukti bersalah. Hukum di atas kekeluargaan Pak.”
“Kamu masih muda Nak, tak mengerti apa yang bapakmu ini rasakan. Mau ditaruh mana muka Bapakmu ini kalau kasus itu sampai bocor.”
“Terus, mau sampai kapan? Toh suatu saat akan terbongkar. Apalagi Menteri Komunikasi dan Informasi itu masih bisa berkeliaran. Dia belum menyadari kalau kasus korupsinya sudah diendus KPK. Hanya saja ada satu hal yang Bapak tidak tahu. Dia memanfaatkan Ibu, Pak. Situasi ini yang diinginkannya Pak. Dia mendekati Ibu supaya Bapak tidak bisa menjegalnya. Ibu secara tidak sadar dilibatkan dan menjadi penadah sekaligus pengawal korupsi itu Pak.”
“Ngawur kamu. Ibumu itu korban. Hanya saja sekarang aku belum bisa membuktikannya. Aku akan menutupi semua ini dari media. Biar aku urus dulu.”
“Pak, aku mohon buka mata. Ada lagi satu rahasia Ibu yang sepertinya sekarang harus Bapak ketahui. Ibu selingkuh dengan Menteri itu. Suatu hari aku memergoki mereka sedang bersenggama di rumah pada suatu malam ketika Bapak ada tugas ke Papua dan…”
“Stop, apa maksud kamu hah? Kamu memfitnah Ibumu?”
“Tidak, sama sekali tidak. Aku jujur, aku bahkan ada bukti fotonya di HP ku.”
“Lalu, kenapa kamu tidak memberitahuku selama ini.”
“Ya aku ingin keluarga kita tetap satu Pak.”
“Aku tidak percaya, kamu pasti ada maksud tertentu hingga mau tutup mulut sampai sejauh ini.”
“Aku tahu Bapak akan mengira hal ini. Bapak memang berpengalaman di KPK. Aku memang mendapatkan satu milyar untuk menyelesaikan ini semua.”
“Hah, ternyata kamu sama saja, koruptor licik.”
0 komentar:
Poskan Komentar