Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) siap menjadi lebih unggul. Itulah jargon akhir-akhir ini dan belum berakhir. Prodi yang merupakan bagian dari Jurusan PBSI berakreditas A. Tak pernah kekurangan mahasiswa dan meraih prestasi sudah hal biasa. Alumni sudah dimana-mana, nama besar telah melebihi umurnya. Catatlah Suminto A. Sayuti, sastrawan kenamaan indonesia dengan sepenuh hati mengajar di PBSI. Ahmadun Yosi Herfanda, seorang pengasuh rubrik budaya Republika, alumni PBSI. Herlinatiens, penulis novel, alumni PBSI juga. Serta Hamdan, penulis artikel ini, masih suntuk di PBSI. Tak ayal, para juara SMA dan kampung masing-masing berebut juga masuk PBSI –sudah biasa juga-.
Prodi sekaligus jurusan PBSI saat ini dipimpin oleh Pangesti Wiedarti, Ph. D. yang enerjik. Melakukan aktivitas yang mulia menuju tujuan mulia pula. PBSI hendak mewujudkan program studi yang memiliki jati diri kependidikan yang mampu menghasilkan tenaga akademik dalam bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan mampu mengembangkan ilmu pendidikan dan ilmu keguruan bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia agar mampu menjadi program studi yang berkualilas unggul dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Ketika ditanya oleh masyarakat dimana kuliahnya, mahasiswa sering menjawab di UNY. Tapi malah sering terdengarnya UMY. Baru setelah dijelaskan, itu loh, dulu yang namanya IKIP. Khalayak baru tau secara benar dan pasti kampus yang kita maksudkan. Perbincangan tersebut pasti selalu dikomentari, wah, ini calon guru?!. Kita, mahasiswa hanya bisa tersenyum, kecut campur manis. Kecut karena apa kelak hanya guru pilihan hidup kita? Manis karena ya besok ada kemungkinan kita menjadi pahlawan tanpa tanda jasa –walau sekarang dikenal pahlawan tanda terima-. Memang inilah dan beginilah PBSI, jurusan berkependidikan dan berarti bukan tidak berkependidikan, adalah sebuah lembaga pencetak tenaga kependidikan. Jalan yang sedang ditempuh PBSI adalah mengembangkan dan memantapkan secara sistemik dan sinergis kemampuan kelembagaan dan program studi secara efektif dan efisiensi sebagai program studi yang memiliki jati diri kependidikan
Selain itu, PBSI juga menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang sinergis dengan program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra indonesia. Mahasiswa berasal dari masyarakat, sedang melepaskan diri dari masyarakat dan membentuk masyarakat akademis yang idealis, dan akan kembali juga ke masyarakat. PBSI adalah mesin guru Bahasa Indonesia yang siap diluncurkan ke medan Indonesia untuk mengindonesiakan Indonesia. Produk PBSI tidak sekedar guru yang mengajar untuk mengejar gaji. Tapi guru yang menebar bakti membangun negeri, karena PBSI untuk semua. PBSI adalah keeper yang akan menjaga identitas bangsa –bahasa Indonesia- sekaligus striker yang mengegolkan Bahasa Indonesia menuju Go International.
PBSI adalah jurusan yang memiliki profesor (guru besar) terbanyak se-UNY, bahkan se-Indonesia. Dosen lainnya yang ada hanya yang berkualitas tinggi walau masih bergelar “guru kecil”. Seluruh dosen enerjik dalam mengajar, terutama dalam memberikan tugas. Seluruh dosen berkarakteristik –lebih tepatnya unik- dengan spesialisasi sastra, linguistik, ataupun pengajaran. Ada dosen berinisial PTT yang selalu membimbing mahasiswa dengan pendekatan kekeluargaan yang sangat dekat, memberikan tugas sebanyak layaknya seorang ibu kepada anaknya, penuh semangat walau berusia senja, dan selalu menyapa mahasiswa terlebih dahulu ketika berpapasan. Ada lagi dosen AK yang menguasai berbagai strategi mengajar yang menyenangkan, mencerdaskan, tidak menidurkan, penuh dengan prinsip partisipatoris, tapi tanpa suguhan makanan. Dosen tersebut sangat inspiratif dan berjiwa muda karena masih muda. Selain itu, ada dosen yang menulis berjibun-jibun buku yang bisa –sebenarnya wajib- menjadi pegangan bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah yang diampunya. Dia adalah BN yang selalu tepat waktu. Mengajar adalah nomer satu, baru setelah itu rapat dengan Rektor, mengabdi kepada masyarakat, dan menulis jurnal. Pembawaannya tegas, berwibawa, dan selalu mengedepankan kepentingan pancasila.
Dari dosen-dosen istimewa tersebut telah memunculkan varietas bibit unggul yang berkarya tak hanya dua atau tiga. Para dosen selalu menyirami dan memberi pupuk dengan jenis dan takaran yang tepat untuk menjadi manusia yang sesungguhnya untuk mewujudkan peradaban utama. Membawa nama baik PBSI dan UNY yang tak terkira beratnya ke penjuru, pelosok, dan ujung nusantara bahkan dunia dan akhirat. Ketika mahasiswa saja sudah bisa berjaya, apa lagi kalau kelak menjadi sarjana, apa kata dunia?! Mereka bermula dari mahasiswa biasa, tapi berniat dan berproses luar biasa, akhirnya berprestasi sehingga mendapat pengakuan tak biasa. Inilah yang bisa menjadi teladan bagi mahasiswa untuk menuju mahasiswa berprestasi.
Sebut saja ET, dia adalah sastrawan yang populer. Sejak semester pertama hingga akhir kuliahnya sudah memenangkan perlombaan penulisan puisi, karangan fiksi, atau artikel tingkat kelas, jurusan, fakultas, universitas, provinsi, dan indonesia. Dia bisa menaklukkan redaksi kompas, horison, jawa pos, kedaulatan rakyat, minggu pagi, dll sampai bertekuk lutut sehingga sehingga memuat karya-karyanya. Penampilannya biasa saja dan pacarnya hanya satu. IPKnya lebih dari 3,5 alias cumloude. Keuntungan materi, ketenaran, karier, serta masa depan sudah di genggamannya. Fotonya sudah pernah dipajang di depan kampus saking terkenalnya. Tulisannya mahal “harganya”. Walau kita patut bersedih, dia tidak akan bisa memenangkan lomba kepenulisan lagi di UNY. Dia sudah di-blacklist sebagai peserta tetapi langganan menjadi jurinya dan pembicara di mana-mana.
Ada lagi seorang istimewa bernama MS. Dia mahir bermain, menjadi sutradara, penulis naskah, dan teknisi teater. Vokalnya lantang, fisiknya kuat, sangat ekspresif, dan segudang kemampuan teaterikal dikuasainya. Selain itu, dia juga mahir bermonolog. Dia sejak dahulu menekuni teater dan merasa hidup dan dihidupi di teater. Pengalaman pentasnya sudah menasional. Dia sudah berkali-kali menjadi langganan supervisor mahasiswa PBSI yang mengambil mata kuliah drama. Dia menjalaninya dengan senang hati tanpa pamrih walau kerjanya sangat berat dan melelahkan karena satu semester membimbing mahasiswa yang belum mengenal teater menjadi pemain teater yang profesional. Bahkan karena kemampuannya berteater menjadikannya pemain yang sering menjadi pemain tamu di berbagai pentas.
Tak cukup sampai di situ, ada lagi civitas PBSI yang menjadi organisatoris sejati, dia dikenal SDA. Dia memiliki pengalaman yang menumpuk bahkan menggunung, yaitu menjadi ketua Hima PBSI, Ketua BEM FBS, dan Presiden BEM REMA UNY. Sebagai retor, dia bagai singa podium yang siap mengangakan pendengarnya. Banyak orang terinspirasi dari pemikiran dan motivasi yang ditularkannya. Prinsipnya yang menarik, peluang membolos sebanyak 25 % dari seluruh kehadiran kuliah jangan disia-siakan. Ada banyak peluang dan karya yang bisa diraih yang tidak didapat dari memakan bangku kuliah. Pengalaman dan kemampuan managerial tak ada di kuliah, maka gunakan organisasi sebagai alat untuk meraup sebanyak-banyaknya ketika kuliah. Mumpung masih muda dan masih diberi kelapangan yang maha raya.
Mahasiswa PBSI tak mesti menjadi guru, tapi setidaknya mampu menjadi guru. Apapun kemampuan, minat, dan bakat silakan disadari sepenuh hati dan ditekuni. Inilah masa dimana jati diri dicari, diakuisisi, dibentuk, kemudian dikembangkan. Terserah suka dangdut-rock, cadar-rok mini, aktivis-pasivis, konservatif-liberal, pecinta bolliwood-holliwood, dan apapun itu, tak ada yang sepenuhnya peduli. Semua perbuatan dari kita (mahasiswa), oleh kita, dan kembali untuk kita. Orang tua kita sudah tak punya kuasa melarang apa pun yang kita lakukan karena kita menapaki fase dewasa. Kinilah kita ada karena kita, be your self! Lalu tekuni apapun itu, karena nantinya sesuatu yang ditekuni akan lebih berharga dari pada melakukan banyak hal tapi tidak ada yang ditekuni. Semakin mendalami suatu hal, semakin baik dan bermanfaat.
0 komentar:
Poskan Komentar