Selasa, 22 Februari 2011

Semburat Kehidupan

Sebuah renungan (yang harusnya) pada penghujung 2010
Entah kenapa renungan ini telat adanya. Walau sebenarnya setiap tahunnya tidak pasti ada, tapi aku rasa renungan ini sangat
aku butuhkan. Setidaknya untuk “berpikir”, sejauh mana yang sudah aku raih 2010 ini. Tentunya langkah tersebut ada prestasi dan sesuatu yang layak dimaki. Tapi inilah langkah yang sudah aku tapaki menuju kelanjutan kisah seorang hamdan –konon, ingin mengembangkan hamdanisme.
Maka, tak apalah aku jentikkan jemariku, mengalirkan kata-kata, untuk menggoreskan permasalahan pada tapak kisah. Aku dulu hanya ingin yang sederhana, maka kesederhanaan itulah yang aku dapatkan. Aku dulu tak ingin yang luar biasa, maka yang biasa saja itulah yang aku hinggapi. Tentang semuanya, tentang kuliah dan kerja, tentang cinta, dan juga karir serta keuangan. Tak berlebihan, karena memang tak ada yang bias dilebihkan.
Semburat kuliah..
Aku menggayang tujuh semester kuliah di UNY. Tak tanggung-tanggung, ada enam sks kosong, dan beberapa nilai C. hem, IPK cuman 3,37, jauh menuju cum loude –karena yang penting bagiku lulus kuliah walaupun kemeloud. Tingkat kehadiran yang mengkawatirkan alias memaksimalkan 25% disetujui mengikuti kuliah kehidupan selain kuliah biasa. Memang di kelas sudah tidak suka mengantuk lagi, tapi sama saja, tak pernah membaca referensi untuk persiapan, dan tak pernah mengulang pelajaran untuk menajamkan ingatan. Tugas rajin dikumpulkan, tapi dikumpulkan hingga menumpuk di to do list hingga akhir masa kesempatan. Tak pernah berdiskusi di kelas, tak pernah menunjuk langit untuk menjawab pertanyaan dosen, dan tak memperpanjang kartu perpustakaan selama 3 tahun. Sebagai mahasiswa telad(t)an yang suka bikin keributan. Di kelas di kenal teknisi LCD, sama sekali tidak berlabel sastrawan atau linguis kelas dunia.
Ah, sungguh menyuramkan gambaran kondisi kuliahku. Aku sudah lupa betapa bangganya bapakku apalagi ibuku melihat anaknya bisa kuliah, di PTN lagi. Tak ingat modal menebang kayu di hutan sebagai modal kuliah. Tak ingat kalau masih mengemis bapak dan beasiswa tiap awal bulan. Tak ingat sebagai siswa terbaik sejak SD, SMP, dan SMK –boleh jadi sejak TK seandainya dulu sudah ada di kampungku. Tak ingat kalau aku pernah juara provinsi, kota, kecamatan, bahkan sekampung. Tak ingat peluh yang berlari-lari dari penyokong kehidupanku. Tak ingat dengan apa yang aku sampaikan dalam setiap pelatihan. Dan, tak ingat kalau aku tuh Hamdan, sang pelopor, pelangsung, dan penyempurna amanah. Serta, tak boleh lupa, caon Mendiknas yang akan mendirikan UHN (Universitas Hamdan Nugroho).
Pernah ada sahabatku yang mengirim sms kurang lebih seperti ini, “Inilah khasiat O sebagai sebuah HARAPAN. O muncul satu kali dalam kata TODAY. Tidak muncul dalam kata YESTERDAY. Tapi muncul berkali-kali dalam TOMMORROW.”
Selamat datang HARAPAN. Selamat berjuang. Aku teriakan, Semangat Pagi! Aku pasti sukses! Aku pasti Aku pasti lulus! Aku pasti kaya!.
Aku sematkan penggalan ini dalam semburat kuliah. Karena semburat ini yang pertama dan utama tapi sering menjadi yang terakhir dan “sebaiknya disingkirkan saja”. Bahkan seringkali aku berprinsip, Kuliah jangan sampai mengganggu organisasi. Biarlah yang bernama kuliah berjalan seperti adanya, dan organisasi adalah raja. Tak apalah waktu kuliah lama, tapi ambisi organisasi harus semua terlampaui. Biarlah kuliah menjadi emban, organisasi adalah raja.
Namun, aku akan mengubah itu. Aku ada karena aku bisa. Aku akan menjadikan makhluk paling luar biasa sedunia. Aku ada karena memang kesempatan aku gunakan sebaik-baiknya. Semburat kuliah akan menjadi sorot kuliah. Aku berjanji untuk itu.
Semburat Organisasi...
Aku adalah seorang Wakil Ketua BEM FBS UNY dan Ketua Perkaderan PW IPM DI Yogyakarta. Aku merasa dan menikmati amanah itu. Walau mungkin hanya berkesan di mata orang, aku adalah penghuni asrama PKM dan pengungsi di Kantor PW IPM. Lebih kogkretnya aku adalah seorang wakil ketua yang paling bawel sedunia. Seseorang yang suka sms, entah mengundang, menanyakan, atau ge je –tapi dikit lo... Aku benci sama kotornya PKM, tapi jarang ikut membersihkan. Anehnya sering tidur, atau tertidur di sana. Sembarangan tempatnya dan mandi di kamar mandinya. Aku kadang terlihat rajin, kadang menghilang entah kemana. Sering dibilang bengal karena susah diatur, tapi kalau ngatur begitu kejamnya. Sering bikin ketawa, tapi kikuk dalam menyapa. Terkesan vokal dan kritis, tapi melankolis. Tak bisa diam, tapi sering kelelahan. Aku merasa kadang seorang alim ulama. Tapi tak jarang merasa paling hina dina sedunia. Atau aku bermuka dua ya?! Yah, begitulah aku.
Dalam dunia pelatihan adalah duniaku. Mungkin semisal ada organisasi mati, yang pertama kali aku rekomendasikan pasti pelatihan. Aku memang lahir dari pelatihan, oleh pelatihan, dan untuk pelatihan. Tiada bulan yang terlewat tanpa sebuah pelatihan. Makanya wajar, ketika menjadi Ketua Perkaderan sangat biasa saja bagiku. Mengonsep, menawarkan, mengelola, dan menuntaskan dengan lancarnya. Bahkan sekarang sudah bisa dikatakan guru pelatihan.
Kedua organisasi itulah yang mengubek-ubek hati dan pikiranku. Kalau aku tidak ada di BEM, berarti di IPM. Kalau tidak ada dua-duanya, berarti sedang Pub atau Facebookan. Aku menjiwai dan terjiwai. Aku bahkan mendapatkan kehidupan, percintaan, dan keuangan pasti ada hubungannya dengan organisasi ini. Aku bisa menjadi hamdan yang praktis dan futuris karena organisasi. Aku bisa menjadi hamdan yang memiliki sekian pasangan –periodenya setahun sekali- karena organisasi. Aku selalu bertemu dan jatuh hati karena cinta lokasi dalam kegiatan organisasi, berarti karena organisasi lagi. Aku mendapat pekerjaan, karena kenalan organisasi.
Tapi di akhir masa ini langkah yang aku ambil sangat tidak terbaca oleh rekan-rekan. Dulu aku menginginkan menjadi Ketua Umum PW IPM DIY dan atau Presiden Rema UNY, tapi aku berbalik ketika peluang ada di depan mata. Aku tak seperti biasanya. Prinsipku dulu, dimana saja jabatannya, terserah. Dan aku menikmati itu karena aku rasa tidak ambisius, praktis, dan produktif. Aku hanya bisa meminta maaf kepada seluruh rekan-rekan yang sempat menyematkan harapan. Walau kecewa, tapi ya begini jalan cerita yang aku jalani, dan aku rencakanan dengan sesadar-sadarnya tanpa tekanan. Mari kita tunggu saja masa depan. Entah apa yang terjadi semua memang masih misteri. Tapi aku harap itu yang terbaik untukku, kalian, dan semuanya saja.
Sebuah alasan, itulah yang ditunggu oleh sahabat-sahabatku.
Baiklah, aku hanya ingin kuliah Kawan. Sepele kan? Kamu liat segala keluhanku tentang kuliah kan? Tapi toh semua Ketua Umum atau Presiden juga kuliah, bisa lulus kan? Tapi aku ingin yang beda. Aku ingin seperti orang yang mempersiapkan UNAS. Mereka seakan-akan mendapatkan SIM B umum yang bisa digunakan untuk izin dalam apapun kegiatan. Aku ingin skripsi. Aku ingin lulus bulan Agustus 2011. Aku optimis hal itu. Makanya aku mempertaruhkan segalanya untuk itu. Aku hanya punya sekali kesempatan, berhasil atau sudah. Dan hasilnya memang entah. Tapi ini awalan yang aku buat, harus aku kerjakan, dan aku selesaikan. Aku yakin, aku bisa, karena aku mau.
Semburat Asmara...
Tak kukira sama sekali akan menjadi seperti ini. Tak kuduga, tak kusangka. Semua yang aku bangun dan susun musnah begitu saja. Setahun lalu dengan Nadia Adibie, setahun ini dengan Kunty Fajar Kusuma Wardani. Aku yang dulu sangat menikmati bahagia berpasangan, menjadi kisruh tiap akhir tahun. Aku tidak pernah bermain, tapi menghadapi permainan. Aku menggapai masa depan, tapi harus bertoleransi dengan kenyataan. Aku yang meyakini pacaran, dikhianati oleh pacaran. Sepertinya aku harus mengganti anggapan, pacaran memang tidak menyenangkan.
Penasaran ketika mengawali, sungguh membahagiakan ketika tidak bertepuk sebelah tangan, berbunga-bunga ketika bersama, tapi pahit dan sungguh menyakitkan ketika prahara. Entah kenapa dengan diriku, dan dengan lawan mainku, sepertinya mengisyaratkan bahwa tidak bisa disatukan karena berbagai hal. Aku yang terasa selalu memulai permasalahan dan harus mengakhiri dengan kekalahan. Aku dengan keterbatasan harus berhadapan dengan tuntutan. Aku yang multi dimensi kehidupan –hehe, mengerikan- tak bisa selalu menjadi yang terbaik untuk permasalahan asmara.
Semuanya bermula dan bermuara dari gayaku menghadapi wanita. Memang sering tidak menyenangkan, tapi pola itu sedang aku bangun. Sebuah pola yang semoga menyenangkan. Sehingga luka tak harus tertoreh lagi. Aku tak bisa bermain api tanpa mengenai kulit ini. Sepercik sekalipun pasti meninggalkan goresan bahkan borok besar yang mengganyang kemulusan. Makanya, mending aku mnecari jalan aman, tak usahlah bermain-main api lagi. Tak perlulah ngotot dalam permasalahan ini. Biarlah semua seperti air, mencair dan mengalir. Menguap ketika panas dan mencair juga ketika panas. Membeku ketika dingin dan mencair juga ketika dingin. Semuanya mungkin tergantung dari mana kita mengawalinya.
Pada sebuah hari coklat penuh rekonsiliasi aku berkata bahwa cinta, kata orang adalah tai kucing rasa coklat. Esensinya tidak enak dan menyakitkan tapi seolah-olah suatu hal yang menyenangkan sekaligus mengenyangkan. Walau aku tahu, yang namanya cinta adalah cinta, coklat adalah coklat, yang manis dan membahagiakan. Begitulah cinta kasih dan persahabatan, mendamaikan Kawan. Tapi perlu dicermati, cinta yang bagaimana dulu?! Jawabannya jelas, cinta yang sesungguhnya cinta. Cinta sejati yang tidak pake luntur tapi pakai lama. Cinta yang tidak selamanya, tapi sepanjang hayat.
Kedepannya, entah siapapun bidadari itu, aku tidak ingin bermain-main. Aku akan bilang, aku mencintaimu. Apakah kamu mencintaiku juga? Kalo iya aku akan bertemu orang tuamu. Kalau boleh, kapankah itu? Kalau direstui, kapan kita nikahnya? Kalau sudah rapi direncanakan, bagaimana kita meraihnya dengan baik dan benar? Tapi kalau ada jawaban tidak, aku akan berhenti. Setelah itu sudah.
Aku hanya berharap semuanya berjalan baik-baik saja. Terserah dengan siapa. Terserah orang mana. Terserah bapaknya kerjanya apa. Terserah kaya atau miskin. Terserah cantik atau tidak. Terserah soleh atau begundal. Karena yang aku harapkan asalkan tidak beda jauh dengan aku. Dengan agama, dompet, tampang, dan struktur sosial, semuanya boleh disesuaikan asal dikomunikasikan.
Aku pikir aku tak akan menentukan dalam jangka waktu dekat ini. Aku ingin membujang lebih lama lagi. Aku ingin hidup tak begitu bahagia, karena katanya kawin adalah aktivitas paling membahagiakan sedunia. Aku tak ingin ada yang protes ketika pulang larut atau pagi, bahkan tidak pulang pada suatu hari. Aku tak berharap ada yang mencucikan dan menyetrikakan karena aku masih mencintai mereka sepenuh hati. Aku tak berharap ada weker yang hidup dalam waktu sebentar. Aku ingin bertahan separuh agama, karena yang separuh agama alias pernikahan akan aku tangguhkan niatnya.
Kata ibuku, belajar dulu yang bener, nanti kalau sudah mapan pasangan akan hinggap sendirinya. Kata mas mukti, hamdan itu dicari bukan mencari, karena merupakan spesies yang sudah langka di dunia. Kata arif, jangan menentukan secepatnya, masih banyak peluang di depan sana. Kata dibie, kalau misal baru saja ketemu seseorang yang menakjubkan dalam waktu sebulan, bayangkan bertemu berapa orang menakjubkan selama setahun, dua tahun, atau lebih. Dan kata hamdan, menikah itu bertuah, sebagai kamar rahasia yang bagai penjara, makanya jangan berharap kalau belum berjaga-jaga dan bersedia. Makanya, Srikandiku, tunggulah sebentar, Arjuna akan segera menjemputmu.
Aku ingin lulus kuliah dulu lalu kerja mapan. Bisa punya lap top sendiri dulu, ingin memodifikasi beat biru manisku, juga printer, bisa ngontrak sendiri, syukur-syukur punya rumah sederhana –yang penting sendiri. Aku ingin menjadi tokoh nasional. Aku ingin menjadi guru nomor satu di dunia. Aku ingin merintis Universitas Hamdan Nugroho. Aku ingin menjadi Mendiknas juga. –haha, mimpi..-
Semburat karya...
Aku harus lebih nyata melihat dunia. Kedepannya, aku harus dan harus menjadi mandiri. Tidak sekedar omong, tapi harus nyata. Aku harus berani berujar, Bapak, sekarang gak usah lagi memberikan aku uang bulanan lagi. Titik. Gak pake koma. Hem, sungguh kata keramat yang amat menarik tapi sangat susah untuk diutarakan. Aku rasa sekarang aku sudah terlambat. Tapi aku pikir tak ada salahnya aku masih menyimpannya sebagai niat yang tak kunjung padam. Aku tahu aku bisa, tapi aku tahu bukan saat ini. Makanya, tiada pilihan lain menjadikannya sekedar niat saja dulu. Biarlah seperti itu hingga tahun 2011 ini, entah aku bisa kapan, tapi aku yakin inilah saat tepat. Saat untuk berpikir mencari kehidupan, dari Hamdan, oleh Hamdan, dan untuk Hamdan.
Aku sekarang menjadi pemateri di beberapa kajian atau pelatihan, pengajar KIR di SMP Muhammadiyah 9 Yogyakarta, pendampingan keislaman di SMP Negeri 5 Sleman bersama tim PMJ-PMS, dan les privat SD di Wiyoro (adik sepupu). Aku dengan sesadar-sadarnya mundur dari Lembaga Pendidikan Edu College, dunia percetakan, dan dunia tulis menulis. Kesemuanya sebenarnya menantang dan mengasyikkan. Tapi aku harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang aku hadapi. aku pilih mana yang sesuai dengan bidang keinginanku dan mana yang tidak begitu sesuai. Aku mengerucutkan minatku dalam dunia bicara dan organisasi. Tapi kemampuan lainnya harus menopang kesuksesan minatku yang utama tersebut.
Sekarang pendapatanku masih pas-pasan. Pas butuh, pas gak ada. Makanya sering gali lubang, tutup lubang. Untung saja, aku masih ditopang dengan beasiswa dan subsidi keluarga. Bapakku dengan uang bulannya dan mbakku dengan tempat tinggal yang nyaman. Sering juga ada bantuan dari yang tak terduga dan tak kusangka.
Permasalahan ini juga semakin diperparah dengan gaya hidupku yang kadang berlebihan. Aku sering belanja sesuatu yang tidak aku butuhkan, sekedar aku inginkan. Prioritas belanja sering amburadul. Urutan antara kebutuhan primer, sekunder, dan tersier terbolak-balik. Kadang sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan dikalahkan dengan hiburan dan perjalanan. Atau sebenarnya aku tidak bisa memilih. Sama-sama makan, memang kebutuhan, tapi makan apa, dimana, dan harganya berapa, itulah yang aku kurang tepat.
Cita-cita yang aku susun, 2011 lulus kuliah, 2011 bisa dapat kerja mapan. Dengan begitu aku akan mendapat jembatan emas menuju kemerdekaan dari dunia pengemisan. Selamat tinggal memelas, selamat tinggal hutang, dan selamat tinggal beasiswa dan bapakku. Aku berlatih mencari, berlatih menyimpan, dan berlatih menggunakan.
Semburat 2011…
Aku menapaki tahun ini dengan awalan yang meyakinkan. Maka, aku harus menjalani dengan menyenangkan, dan menyelesaikan tanpa penyesalan. Aku ingin membuat perubahan, yang kecil gak masalah. Yang penting aku memulainya dan akan menjaganya.
1. Aku ingin lulus bulan Agustus 2011.
2. Aku ingin menjadi pimpinan PP IPM dan menyempurnaka amanah di PW IPM DIY.
3. Aku tak ingin cari pacar -tapi kalo ada yang mau gak papa sih-. Tapi aku tidak akan menyakiti dan disakiti sehingga kehidupan hati terjaga betul.
4. Aku ingin menjadi guru bahasa Indonesia yang sudah memiliki jam kerja dan gaji pokok.
5. Aku ingin mengawali peluang studi lanjut.

0 komentar: