Selasa, 06 Juli 2010

Tentang Sastra Anak

1. Pilihlah salah satu definisi sastra anak yang paling anda pandang terbaik. Beri argumentasi dan uraikan mengapa anda memilih itu?
Saya memandang pengertian sastra anak terbaik adalah pengertian sastra anak menurut Saxby. Dia mengemukakan bahwa jika citraan dan atau metafora kehidupan yang dikisahkan itu berada dalam jangkauan anak, baik yang melibatkan aspek emosi, perasaan, pikiran, syaraf sensori, maupun pengalaman moral, dan diekspresikan dalam bentuk-bentuk kebahasaan yang juga dapat dijangkau dan dipahami oleh pembaca anak-anak, buku, atau teks tersebut dapat diklasifikasikan sebagai sastra anak.
Pengertian sastra anak menurut Saxby tersebut cukup luas tapi spesifik. Cukup luas maksudnya pengertian tersebut dapat mencakup berbagai aspek yang tidak sedikit sehingga segala bentuk dan macam karya sastra yang luas. Tapi keluasan tersebut terbatas hanya untuk anak-anak.
Hal ini dapat diterima bahwa sebuah karya sastra dapat dipandang sebagai sastra anak jika citraan dan metafora kehidupan yang dikisahkan baik dalam hal isi (emosi, perasaan, pikiran, saraf sensori, dan pengalaman moral) maupun bentuk (kebahasaan dan cara-cara pengekspresian) dapat dijangkau dan dipahami oleh anak sesuai dengan tingkat perkembangan jiwanya.
Karya-karya sastra yang diluar definisi atau batasan tersebut secara otomatis tidak termasuk dalam karya sastra. Semisal ada karya sastra yang mengungkapkan isi untuk dewasa, bukanlah karya sastra anak walaupun disusun oleh remaja sekalipun. Makanya, tema terhadap lawan jenis, lelaki terhadap perempuan atau sebaliknya secara romantis tidak muncul dalam karya sastra anak.
2. Pilihkan salah satu pembagian genre sastra anak yang anda pandang terbaik? Beri argumentasi dan uraikan hal tersebut serta berikan contoh konkret!
Saya memilih pembagian genre sastra anak menurut Lukens, yaitu sastra anak dibagi menjadi:
a. Realisme
i. Cerita realisme
ii. Realisme binatang
iii. Realisme historis
iv. Realisme olahraga
b. Fiksi formula
i. Cerita misterius dan detektif
ii. Cerita romantis
iii. Novel serial
c. Fantasi
i. Cerita fantasi
ii. Cerita fantasi tinggi
iii. Fiksi sains
d. Sastra tradisional
i. Fabel
ii. Dongeng rakyat
iii. Mitos
iv. Legenda
v. Epos
e. Puisi
f. Non fiksi
i. Buku informasi
ii. Biografi
Saya lebih memilih pembagian genre sastra ini karena pembagian genre ini lebih spesifik atau rinci. Pembagian ini akan mempermudah suatu karya menjadi genre tertentu. Setiap genre memiliki elemen struktural yang khusus atau memiliki karakteristik khusus. Hal ini akan semakin khusus karena pembagiannya juga khusus. Pembagian ini akan memperjelas suatu karya sastra masuk menjadi suatu genre walau pun sudah familiar terlebih dahulu.
Memang pembagian ini menjadikan kemungkinan tumpang tindih lebih besar. Tapi ketumpangtindihan suatu keniscayaan. Artinya pasti terjadi karena pembagian genre tidak mungkin benar-benar mensparasikan secara jelas karena karya sastra memiliki aspek multi dimensi. Penulis dan pembaca akan lebih menyukai karya yang semakin kompleks unsur-unsur yang dibangun.
3. Ambil masing-masing nyanyian daerah dan nasional yang termasuk kategori sastra anak! Analisislah aspek keindahan dan kandungan isinya!
a. Nyanyian nasional
Menanam Jagung
Penyanyi Umay
Ayo kawan Kita bersama
Menanam jagung di kebun kita
Ambil cangkulmu ambil paculmu
Kita bekerja tak jemu-jemu
Cangkul-cangkul yang dalam
Tanah yang longgar jagung kutanam
Cangkul-cangkul yang dalam
Tanah yang longgar jagung kutanam
Beri pupuk supaya subur
Tanamkan benih dengan teratur
Cangkul yang besar lebat buahnya
Tentu berguna bagi semua
Cangkul-cangkul aku gembira
Menanam jagung di kebun kita
Cangkul-cangkul aku gembira
Menanam jagung di kebun kita

i. Aspek keindahan
Lagu tersebut merupakan lagu anak-anak karena pilihan kata yang diusung sederhana sehingga anak-anak paham dengan apa yang dimaksud lagu tersebut dengan mudah. Kata-kata banyak yang diulang dan liriknya sangat indah. Pengulangan bunyi tersebut menimbulkan kesan indah untuk didengar. Pengulangan tersebut mewujudkan kesan kebahagiaan dan kegembiraan yang enak didengar anak-anak. Selain itu banyak menggunakan fonem “a” yang memberikan kesan keceriaan juga.
ii. Aspek kandungan
Isi dari lagu tersebut sangat bermanfaat dan praktis. Tema bercocok tanam sudah terasa “kuno”, mengingat pertanian dengan segala tetek bengek-nya sudah jarang diminati apalagi anak-anak perkotaan. Arus globalisasi sudah menggusur keberadaan minat anak-anak untuk bersifat dan bersikap metropolis.
Dengan judul menanam jagung menjadikan penanaman jagung yang sudah jarang dilakukan oleh anak-anak kota menjadi indah dan mudah untuk dilakukan sepertinya. peralatan cangkul yang sudah langka untuk anak kota menjadi familiar dengan banyak sekali disebutkan. Keberadaan pupuk untuk mempersubur juga mengenalkan ilmu pertanian.
b. Nyanyian daerah
Jaranan
Jaranan-jaranan jarane jaran teji
Sing numpak ndara bei
Sing ngiring para mantri
Jeg-jeg nong jeg jeg gung
Turut gunung
Gedebug krincing gedebug krincing
Pok!
Gedebug jeder
i. Aspek keindahan
Ritme lagu Jaranan ini cepat. Kegembiraan sangat tergambar. Liriknya juga kuat. Pengulangan-pengulangan tidak hanya perbait, tetapi perkata. Pengulangan ini meningkatkan keriangan yang amat.
ii. Aspek kandungan
1. Lagu ini mengenalkan jaranan sebagai alat transportasi tradisional. Dulu jaran (kuda) merupakan alat transportasi utama yang juga menunjukkan identitas. Kini sudah digusur oleh transportasi ber-BBM yang lebih tidak ramah lingkungan.
2. Lagu ini mengenalkan kasta sosial, yaitu ada bei dan mantri sebagai golongan-golongan sosial. Bei dan mantri merupakan kerabat dekat kraton. Dan hanya orang kaya atau kerabat bangsawan yang mampu menggunakan kuda sebagai transportasi.
3. Lagu daerah ini mengenalkan aspek pedesaan yang kental dengan turut gunung. Perjalanan panjang dengan kuda melewati desa-desa yang kental dengan dunia agraria dan suasana pedesaan.

4. Ambil dua cerita tradisional (fabel, mitos, legenda, atau dongeng) dan kemudian analisislah aspek tema, moral, dan penokohan!
a. Bawang Merah dan Bawang Putih
Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.
Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.
Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.
Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.
Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwa salah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.
“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”
Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibu tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.
“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.
“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.
“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.
Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.
Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.
Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.
Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.

i. Aspek Tema
1. Tema utama
Tema utama dalam cerita ini adalah rajin dan tulus pangkal keberuntungan. Bawang putih memiliki sifat rajin untuk mengerjakan banyak pekerjaan, sehingga hasilnya pun baik dan banyak. Dalam mengerjakannya dilakukan dengan sepenuh hati untuk kebaikan bersama. Akhirnya Bawang Putih mendapatkan balasan emas dan permata.
2. Tema tambahan
a. Hubugan kekeluargaan
Cerita ini menceritakan perjalanan Bawang Putih dalam menjalani keluarganya. Sejak masih utuh hingga tinggal bersama ibu dan saudara tirinya. Cerita ini menyuguhkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi ketika hubungan kekeluargaan itu berlangsung.
b. Kesederhanaan
Dari cerita di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa salah satu tema tambahannya adalah kesederhanaan. Hal ini dapat terlihat kisah Bawang Putih yang tidak berharap muluk-muluk selain kasih sayang dari ibu tirinya supaya bagaikan ibu kandung.
ii. Aspek Moral
1. Baik hati dan jujur membawa kepada keberuntungan
Seorang Bawang putih walau sering kali diperlakukan semena-mena oleh ibu tiri dan Bawang Merah tetap saja memperlakukan mereka dengan baik. Begitu juga terhadap nenek tua yang menemukan baju ibu tirinya. Hasilnya, Bawang Putih beruntung mendapatkan labu yang berisi intan permata.
2. Kebohongan dan keserakahan membawa kepada kecelakaan
Akhir yang buruk yang dialami oleh ibu tiri Bawang Putih dan Bawang Merah karena mereka berlaku bohong dan serakah. Mereka tidak berniat lurus membantu nenek tua, atau menyembunyikan niat aslinya tapi mengaku ingin membantu paman. Padahal keinginan mereka hanya ingin memperoleh harta yang sebenarnya bukan hak mereka. Ternyata kecelakaanlah bagi mereka.
3. Menangnya kebaikan terhadap keburukan
Kebaikan akan selalu menang terhadap keburukan. Kisah Bawang Putih ini contoh nyatanya. Ibu tiri dan Bawang Merah tewas sedangkan Bawang putih selamat membawa keberuntungan. Hal ini disebabkan kebaikhatian Bawang putih dan kejahatan atau sifat buruk yang dilakukan oleh Bawang Merah dan Ibu tirinya.
iii. Aspek Penokohan
Deskripsi tokoh dalam cerita Bawang Putih dan Bawang Merah.
Macam Tokoh Nama Pelukisan Fisik dan Watak
Utama 1. Bawang Putih 1. Gadis remaja yang cantik.
Utama tambahan 2. Bawang Merah


3. Ibu Tiri Bawang Putih/Ibu kandung Bawang merah 2. Seorang janda tua yang tiap hari dia menghabiskan waktunya sendirian, karena tidak memiliki seorang anak.
3. Janda yang memiliki anak.
Tambahan 4. Ayah kandung Bawang Putih
5. Ibu Kandung Bawang Putih

6. Paman


7. Nenek 4. Pedagang biasa.

5. –



6. Seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya

7. Seorang perempuan tua

Tokoh Bawang Putih merupakan tokoh utama dan protagonis. Tokoh ini tergolong penting dan ditampilkan terus-menerus baik secara langsung maupun tak langsung sehingga terasa mendominasi hampir sebagian besar cerita. Tokoh Bawang Putih tergolong penting dan ditampilkan terus menerus, berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, dan menentukan perkembangan plot secara keseluruhan. Tokoh inilah yang pembaca kagumi, yang menampilkan sesuai dengan pandangan, harapan-harapan pembaca.
Tokoh Bawang Merah dan Ibu Tiri Bawang Puith/Ibu Kandung Bawang Merah merupakan tokoh utama tambahan dan antagonis. Mereka sangat berperan dalam alur cerita. Tokoh-tokoh ini merupakan penyebab terjadinya konflik dan beroposisi dengan tokoh Bawang Putih secara langsung, dengan bersifat fisik dan batin.
Tokoh Bawang Merah dan Ibu Tiri Bawang Puith/Ibu Kandung Bawang juga merupakan tokoh berkembang. Tokoh ini mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan peristiwa dan plot yang dikisahkan. Semula mereka bersikap baik terhadap Bawang Putih. Tapi setelah Bapak Bawang Putih pergi berdagang akan berbuat jahat. Apalagi setelah meninggal dunia, mereka menjadi lebih semena-mena.
Ayah kandung Bawang Putih, Ibu Kandung Bawang Putih, Paman, dan Nenek adalah tokoh tambahan. Tokoh ini dimunculkan sekali atau dalam cerita dan dalam porsi penceritaan yang relatif pendek.

b. Timun Emas
Di suatu desa hiduplah seorang janda tua yang bernama mbok Sarni. Tiap hari dia menghabiskan waktunya sendirian, karena mbok Sarni tidak memiliki seorang anak. Sebenarnya dia ingin sekali mempunyai anak, agar bisa membantunya bekerja.
Pada suatu sore pergilah mbok Sarni ke hutan untuk mencari kayu, dan ditengah jalan mbok Sarni bertemu dengan raksasa yang sangat besar sekali. “Hei, mau kemana kamu?”, tanya si Raksasa. “Aku hanya mau mengumpulkan kayu bakar, jadi ijinkanlah aku lewat”, jawab mbok Sarni. “Hahahaha.... kamu boleh lewat setelah kamu memberiku seorang anak manusia untuk aku santap”, kata si Raksasa. Lalu mbok Sarni menjawab, “Tetapi aku tidak mempunyai anak”.
Setelah mbok Sarni mengatakan bahwa dia tidak punya anak dan ingin sekali punya anak, maka si Raksasa memberinya biji mentimun. Raksasa itu berkata, “Wahai wanita tua, ini aku berikan kamu biji mentimun. Tanamlah biji ini di halaman rumahmu, dan setelah dua minggu kamu akan mendapatkan seorang anak. Tetapi ingat, serahkan anak itu padaku setelah usianya enam tahun”.
Setelah dua minggu, mentimun itu nampak berbuah sangat lebat dan ada salah satu mentimun yang cukup besar. Mbok Sarni kemudian mengambilnya , dan setelah dibelah ternyata isinya adalah seorang bayi yang sangat cantik jelita. Bayi itu kemudian diberi nama timun emas.
Semakin hari timun emas semakin tumbuh besar, dan mbok Sarni sangat gembira sekali karena rumahnya tidak sepi lagi. Semua pekerjaannya bisa selesai dengan cepat karena bantuan timun emas.
Akhirnya pada suatu hari datanglah si Raksasa untuk menagih janji. Mbok Sarni sangat ketakutan, dan tidak mau kehilangan timun emas. Kemudian mbok Sarni berkata, “Wahai raksasa, datanglah kesini dua tahun lagi. Semakin dewasa anak ini, maka semakin enak untuk di santap”. Si Raksasa pun setuju dan meninggalkan rumah mbok Sarni.
Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama, karena itu tiap hari mbok Sarni mencari akal bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa si Raksasa. Hati mbok Sarni sangat cemas sekali, dan akhirnya pada suatu malam mbok Sarni bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia diberitahu agar timun emas menemui petapa di Gunung.
Pagi harinya mbok Sarni menyuruh timun emas untuk segera menemui petapa itu. Setelah bertemu dengan petapa, timun emas kemudian bercerita tentang maksud kedatangannya. Sang petapa kemudian memberinya empat buah bungkusan kecil yang isinya biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. “Lemparkan satu per satu bungkusan ini, kalau kamu dikejar oleh raksasa itu”, perintah petapa. Kemudian timun meas pulang ke rumah, dan langsung menyimpan bungkusan dari sang petapa.
Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. “Wahai wanita tua, mana anak itu? Aku sudah tidak tahan untuk menyantapnya”, teriak si Raksasa. Kemudian mbok Sarni menjawab, “Janganlah kau ambil anakku ini wahai raksasa, karena aku sangat sayang padanya. Lebih baik aku saja yang kamu santap”. Raksasa tidak mau menerima tawaran dari mbok Sarni itu, dan akhirnya marah besar. “Mana anak itu? Mana timun emas?”, teriak si raksasa.
Karena tidak tega melihat mbok Sarni menangis terus, maka timun emas keluar dari tempat sembunyinya. “Aku di sini raksasa, tangkaplah aku jika kau bisa!!!”, teriak timun emas.
Raksasapun mengejarnya, dan timun emas mulai melemparkan kantong yang berisi mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun menjadi terhambat, karena batang timun tersebut terus melilit tubuhnya. Tetapi akhirnya si raksasa berhasil bebas juga, dan mulai mengejar timun emas lagi. Lalu timun emas menaburkan kantong kedua yang berisi jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah karena tertancap bambu tersebut si raksasa terus mengejar.
Kemudian timun emas membuka bingkisan ketiga yang berisi garam. Seketika itu hutanpun menjadi lautan luas. Tetapi lautan itu dengan mudah dilalui si raksasa. Yang terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika itu terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, dan si raksasa tercebur di dalamnya. Akhirnya raksasapun mati.
Timun Emas mengucap syukur kepada Tuhan YME, karena sudah diselamatkan dari raksasa yang kejam. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sarni hidup bahagia dan damai.

i. Aspek Tema
1. Tema utama
Tema utama dari kisah rakyat timun emas ini adalah kasih sayang. Hal ini terlihat dari betapa besarnya pengharapan seorang janda tentang kehadiran seorang anak. Kehadirannya disambut dengan suka cita dan dididik dengan sepenuh jiwa. Usaha raksasa untuk memakannya pun dihalangi dengan sekuat tenaga bahkan rela mengorbankan dirinya sendiri demi keselamatan Timun Emas.
2. Tema tambahan
a. Terkabulnya cita-cita
Cita-cita seorang janda untuk memiliki seorang anak akhirnya terwujud walau dengan perjanjian anaknya akan menjadi santapan raksasa.
b. Kemenangan golongan tertindas
Timun Emas menang dalam pelarian dari kejaran raksasa karena berbagai senjata yang diberikan pertapa. Walau raksasa memiliki tenaga yang digdaya tapi akhirnya dikalahkan oleh gadis kecil karena raksasa berada di pihak kuat yang menindas anak lemah.

ii. Aspek Moral
1. Kekejaman akan terkalahkan
Timun Emas menang dalam pelarian dari kejaran raksasa karena berbagai senjata yang diberikan pertapa. Walau raksasa memiliki tenaga yang digdaya tapi akhirnya dikalahkan oleh gadis kecil karena raksasa berlaku kejam menindas anak lemah. Itu berarti kejahatan apapun itu akan dikalahkan oleh kebaikan pada akhirnya.
2. Pentingnya keluarga
Mbok Sarni merasa sangat membutuhkan keberadaan seorang anak. Ini menunjukkan anak sebagai bagian dari keluarga sangat dibutuhkan. Walau seorang anak lebih banyak merepotkan, tetapi keberadaannya lebih menggembirakan dan menenteramkan. Selain itu, kelak ketika beranjak dewasa akan sangat membantu berbagai pekerjaan rumah tangga maupun untuk mencari nafkah.
iii. Aspek Penokohan
Deskripsi tokoh dalam cerita Timun Emas.
Macam Tokoh Nama Pelukisan Fisik dan Watak
Utama 8. Timun Emas 1. Semakin hari semakin tumbuh dewasa.
Utama tambahan 9. Mbok Sarni


10. Si Raksasa 8. Seorang janda tua yang tiap hari dia menghabiskan waktunya sendirian, karena tidak memiliki seorang anak.
9. Raksasa yang sangat besar sekali.
Tambahan 10. Petapa 4. Tinggal di gunung.

Tokoh Timun Emas merupakan tokoh utama dan protagonis. Tokoh ini tergolong penting dan ditampilkan terus-menerus baik secara langsung maupun tak langsung sehingga terasa mendominasi hampir sebagian besar cerita. Tokoh inilah yang pembaca kagumi, yang menampilkan sesuai dengan pandangan, harapan-harapan pembaca.
Tokoh Mbok Sarni merupakan tokoh utama tambahan dan protagonis. Tokoh mbok Sarni tergolong penting dan ditampilkan terus menerus, berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, dan menentukan perkembangan plot secara keseluruhan. Tokoh ini juga sesuai dengan jalan pikiran yang diharapkan pembaca.
Tokoh si Raksasa merupakan tokoh utama tambahan dan antagonis. Dia sangat berperan dalam alur cerita. Tokoh ini merupakan penyebab terjadinya konflik dan beroposisi dengan tokoh Timun Emas dan Mbok Sarni secara langsung, dengan bersifat fisik dan batin.
Tokoh Petapa adalah tokoh tambahan. Tokoh ini dimunculkan sekali dalam cerita dan dalam porsi penceritaan yang relatif pendek.

5. Ambil dua buah puisi anak dari koran/majalah anak ! Analisislah aspek keindahan dan kandungan isinya!
a. Bulan dan Matahari
Di malam yang kelam
Kulihat sang bulan
Datang menjemputku
‘Tuk tidur malam
Di pagi yang terang
Kulihat sang surya
Datang menjemputku
‘Tuk pergi ke sekolah
Malam-malam yang kelam
Pagi-pagi yang terang
Semua itu ciptaan Tuhan
Semua itu anugerah

Karya Hapsari Sulistyorini
Dalam Majalah Bobo No 8 tahun XIX tgl 30 Mei 1990

i. Aspek keindahan
Puisi ini memiliki lirik abac-abac-deff pada huruf awalannya. Terlihat bahwa puisi ini menonjolkan juga unsur pengulangan bunyi untuk menimbulkan keindahan dari keteraturan. Puisi ini juga memiliki semacam bait yang diulang sehingga menunjukkan perbandingan antara bulan dengan matahari sesuai dengan judulnya. Pengulangan bait itu menunjukkan struktur pemilihan kata yang sebunyi dalam penyusunannya sehingga menimbulkan keindahan.
ii. Aspek kandungan
Puisi ini sarat pengetahuan alam yang erat hubungannya dengan dunia anak karena memang keberadaan bulan dan matahari sangat erat dengan dunia anak. Anak mudah kagum terhadap matahari terbit, terik siang hari, atau senja yang oranye. Anak juga kagum dengan keelokan bulan purnama yang temaramnya menyejukkan.
Puisi ini menjelaskan salah satu keuntungan yang bisa dirasakan dengan keberadaan bulan dan matahari. Penjelasan itu dengan menggunakan jalan membandingkan masing-masing fungsi sehingga menimbulkan kesan keserasian.
Yang terakhir, puisi ini mengajak menuju kondisi sadar tentang eksistensi Pencipta dan Penguasa bulan dan matahari serta segala alam berserta isinya. Manusia sebagai makhluk hanya bisa menikmati dan mensyukuri. Sehingga alam segala isinya bisa menyuguhkan keindahannya sebagai bentuk pelayanannya terhadap manusia.

b. Yogyakarta
Yogyakarta,
kota yang indah dan berwibawa
tempat aku dilahirkan
tempat aku dibesarkan

Yogyakarta,
kota yang sering disebut orang
sebagai kota pelajar
sebagai kota budaya
dan sebagai kota yang nyaman

Di sudut-sudut kota
banyak sajian khas berselera
penuh dengan kenangan

Yogyakarta yang nyaman
semoga abadi sepanjang zaman

Karya Eko Yulianto
Dalam Majalah Siswa No 13/XXII/1991

i. Aspek keindahan
Puisi ini memiliki bait-bait yang diawali dengan kata Yogyakarta. Terlihat bahwa puisi ini menonjolkan keindahan dengan pengulangan kata.

ii. Aspek kandungan
1. Puisi ini mengenalkan Yogyakarta dengan bahasa dan cara yang sederhana. Profil Yogyakarta telah tersaji secara singkat tapi mampu mempengaruhi pembaca untuk tertarik dengan Yogyakarta dan syukur-syukur mau menetap untuk menempuh pendidikan dan berinvesatasi jangka panjang, atau sekedar berwisata.
2. Puisi ini mengenalkan kemenyeluruhan profil Yogyakarta. Unsur kebudayaan, pendidikan, hingga ranah aktivititas akademik. Titel dan nama besar Yogyakarta sudah begitu baik. Puisi ini ternyata mampu merangkum itu semua.
3. Keoptimisan tercermin pada bait terakhir. Yogyakarta memiliki banyak keterbatasan untuk bisa disebut sebagai kota besar dengan segala titelnya tadi. Usaha untuk menjadi lebih baik menjadi pesan utama selama menggerakkan roda organisasi.

0 komentar: