Digunakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Wacana dengan Dosen Pengampu Yayuk Eni Rahayu, M. Hum.
Oleh Hamdan Nugroho (07201241024)
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2010
1. Pengertian wacana?
Makna wacana secara etimologi adalah ‘ucapan’, ‘perkataan’, ‘bacaan’, yang bersifat kontekstual.
Anton M. Moeliono mengatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan yang lainnya dalam kesatuan makna. Di samping itu, wacana juga berarti satuan bahasa terlengkap, yang dalam hirarki kebahasaan merupakan satuan gramatikal tertinggi dan terbesar.
Kridalaksana menyebutkan bahwa wacana dapat direalisasikan dalam bentuk kata, kalimat, paragraf, atau karangan utuh (buku), yang membawa amanat lengkap. Satu kata, dalam hal ini, sudah harus mengandung potensi sebagai kalimat. Jadi, bukan semata-mata kata yang tercabut dari konteksnya.
HR Tarigan mengemukakan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan koherensi yang baik, mempunyai awal dan akhir yang jelas, berkesinambungan, dan dapat disampaikan secara lisan atau tertulis. Jadi, suatu kalimat atau rangkaian kalimat, misalnya, dapat disebut sebagai wacana atau bukan wacana tergantung pada keutuhan unsur-unsur makna dan konteks yang melingkupinya.
2. Posisi wacana dalam tataran/hirarki linguistik?
Dalam satuan kebahasaan atau hirarki kebahasaan, kedudukan wacana berada pada posisi paling besar dan paling tinggi. Hal ini disebabkan wacana sebagai satuan gramatikal dan sekaligus objek kajian linguistik mengandung semua unsur kebahasaan yang diperlukan dalam segala bentuk komunikasi. Tiap kajian wacana akan selalu mengaitkan unsur-unsur satuan kebahasaan yang ada di bawahnya, seperti fonem, morfem, frasa, klausa, atau kalimat. Di samping itu, kajian wacana juga menganalisis makna dan konteks pemakaiannya.
3. Perbedaan wacana dengan unit bahasa yang lain?
Semakin ke atas, satuan kebahasaan akan semakin besar (melebar). Artinya, satuan kebahasaan yang ada di bawah akan tercakup dan menjadi bagian dari satuan bahasa yang berada di atasnya. Demikian seterusnya, hingga mencapai unit ’wacana’ sebagai satuan kebahasaan yang paling besar.
Ilmu Bahasa terdiri dari empat pokok, yaitu Fonologi (tata bunyi), Morfologi (pembentukan kata dan kategori kata), Sintaksis (pembentukan kalimat dan macam ragamnya), dan perpaduan kalimat yang membentuk wacana.
Fonologi menyelidiki bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang berperan di dalam bahasa. Bunyi bahasa yang minimal yang membedakan bentuk dan makna itulah yang dinakan fonem.
Jika dalam bahasa ada bentuk (seperti kata) yang dapat ”dipotong-potong” menjadi bagian yang lebih kecil, yang kemudian dapat dipotong lagi menjadi bagian yang lebih kecil lagi sampai bentuk yang jika dipotong lagi tidak mempunyai makna, itulah yang dimaksud dari morfem. Adapun bentuk utuh dalam satu struktur konsep disebut dengan kata.
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam betuk lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Kalimat inilah yang menjadi satuan dasar wacana. Artinya, wacana hanya akan terbentuk jika ada dua kalimat atau lebih yang letaknya berurutan dan berdasarkan kaidah kewacanaan.
Namun, di bawah kalimat ada satuan sintaksis yang lebih kecil, yaitu Klausa dan Frase. Klausa merupakan satuan sintaksis yang terdiri dari atas dua kata atau lebih yang mengandung unsur predikasi. Sedangkan frase adalah satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak mengandung unsur predikasi.
4. Pengertian kewacanaan?
Kewacanaan merupakan segala sesuatu yang memiliki hubungan dengan hal wacana. Entah itu berupa unsur, struktur, lasifikasi, ataupun bentuk aplikasi analisis wacana.
0 komentar:
Poskan Komentar