Selasa, 06 Juli 2010

PKM Milik Kita Bersama

Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) FBS UNY sudah diresmikan Rektor UNY, Dr. Rohmat Wahab. Penggunaan oleh Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) dan Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) semakin semarak terlihat sudah mulai digunakannya untuk aktivitas permusyawaratan dan kegiatan serta penyimpanan inventaris administrasi maupun segala kekayaan. Pendopo PKM juga banyak digunakan pula oleh berbagai kegiatan mahasiswa UNY dari luar FBS.
Namun, pengelolaan PKM sebagai sekretariat bersama kurang tertata. Di beberapa titik terdapat sampah berserakan, kertas baik surat ataupun koran berhamburan, parkir semrawut, penempatan tas, jaket, dan pakaian serta peralatan kerja organisasi kurang tertata, dan sebagainya. Selain itu, pengguna PKM juga belum sepenuhnya memanfaatkannya sebagai sekretariat untuk organisasinya. Luas ruangan menjadi masalah klasik yang sudah diangkat berkali-kali, tapi sepertinya bukan ruangan yang harus menyesuaikan kebutuhan tetapi kebutuhanlah yang harus dimampatkan dengan ruangan. Peristiwa besar, boyongannya sekretariat dari FBS timur menuju barat ternyata masih menyisakan banyak inventaris di sekretariat lama. Almari, buku, raknya, karpet, dan benda lain tidak mungkin dipaksakan di PKM kecuali dibuatkan ruangan khusus misalnya gudang penyimpanan. Mau tidak mau sepertinya peluang lelang inventaris akan benar-benar terjadi ketika FBS timur jadi diluluhlantakkan. Terdengar lucu pula, ternyata di PKM terjadi berkali-kali kasus kehilangan HP, speaker, mouse, dan benda lainnya sebagai bentuk kecintaan berlebihan terhadap benda yang bukan miliknya.
Pengelolaan PKM secara umum diampu oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FBS UNY yang tahun ini bernama Kabinat Oke Kencana. Tapi Ormawa dan UKMF di FBS tetap memiliki tanggung jawab sekretariat masing-masing. Harapan untuk menjadikan PKM yang bersih dan rapi tidak perlu didiskusikan lagi karena ini keharusan. Pertanyaan yang diajukan bukan apakah PKM harus bersih tapi bagaimana caranya PKM itu bersih apapun caranya.
Bersih maksudnya pengelolaan limbah penghuni dan organisasi yang tertata. Saat ini baru ada satu tong sampah, butuh tambahan lagi minimal tiga buah. Seluruh “penghuni” PKM diharapkan segera “menghuni” kemudian piket masing-masing sekretariat harus diefektifkan. Untuk kerja bakti besar alias massalnya harus diefektifkan. Selama ini pelaksanaan piket besar yang harus menguras bak mandi, menyikat WC, mengepel pendopo, menyiangi tanaman, menyedot debu karpet, dan kerja lain direncanakan setiap dua minggu sekali, minggu kedua dan keempat tiap bulannya belum berjalan baik. Peserta kerja bakti ini hanya secuil dari seluruh penghuni. Sehingga kerja bakti itu tidak dapat tuntas dan rutin.
Pengelolaan dan sekretariat masing-masing pengguna juga harus lebih ditata. Benda-benda organisasi mungkin saja hilang jika penjagaan dan perawatannya kurang. Model sekber seperti ini memungkinkan banyak pengguna untuk satu inventaris sehingga kemungkinan hilangnya juga lebih besar. Tanggung jawab mengembalikan seperti semula harus dicamkan untuk masing-masing pengguna. Benda apa dan posisi dimana seharusnya juga harus dijaga.
Ketika PKM sudah bersih dan rapi tertata, aktivitas organisasi akan lebih nyaman dan efektif. Pengguna maupun tamu akan senang ketika berada di PKM dan penggunaannya pun akan maksimal. Efektif berarti waktu, tenaga, dan pikiran yang dihabiskan untuk berkarya lebih sedikit dengan hasil yang lebih baik dan banyak. Misalnya urusan pembuatan surat, akan cepat ketika komputer tersedia, printer siap, amplop sudah tersedia, stempel dan bantalan di almari, dan ketua beserta sekretarisnya sering beraktivitas di satu tempat, PKM. Tinggal pengiriman kepada tujuan. Organisasi yang profesional akan lebih mudah berkarya dengan kondisi seperti ini. Kebersihan yang juga mencerminkan tingkat keimanan seseorang akan terwujud tanpa perlu adanya polisi pengaman kebersihan PKM.

0 komentar: