Digunakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Filologi dengan dosen pengampu Ibnu Santoso, M. Hum.
Oleh
Hamdan Nugroho 07201241024
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2010
Wabihi nastangin ngala
Ini hikayat daripada menceritakan lagi ketika Rasulullah shollallahu ngalaihi wassalam. Syahdan maka sekalian kaum Rasulullah itu sekalian berangkat karena mengiringkan Rasulullah ke masjid karena hendak sembahyang shubuh, lalu sekalian sembahyang. Kemudian daripada sembahyang maka Rasulullah pergi keluar dari masjid karena pulang ke rumahnya seraya diiringkan akan sekalian kaumnya itu. Kemudian daripada sampai Rasul astananya, maka Rasulullah berbaring-baring.
Kemudian daripada itu maka berfirman hak subhanallahu watangala kepada malaikat Jabrail.
Demikian firmanNya, “Hai Jabrail, pergilah engkau seraya bawa olehmu malaikat maut kepada kekasihku Muhammad, Rasulullah, karena aku pengen sekali.”
Kemudian, maka malaikat Jabrail itu lalu mohon sembah kepada Tuhan Rabbul ngarsyil karim. Maka lalu berjalanlah kedua malaikat itu membawa firman Allah mendatangkan Rasulullah barang seketika jua.
Sampai ke hadapan Rasulullah, maka Rasulullah melihat kepada malaikat yang kedua itu seraya bangkitlah daripada berbaring-baring itu. Kemudian, maka sabda yang kedua itu memberi salam Rasulullah.
Demikian salamnya, “Assalamu’alayka ya Akhi.”
Maka pun dijawab oleh Rasulullah itu salamnya, “’Alayka ‘alaihissalam yaa Sodaraku Jabrail.”
Dan lagi Rasulullah bertanya kepada Jabrail, “Ya Jabrail siapa namanya itu sayyid yang mengaku akan tuan hamba?”
Maka dijawab oleh Jabrail, “Ya Rasulullah, yaitulah nama malaikat maut itu. Apakah kehendak tuan datang berhadapan kepada hamba atau hendak mengambil nyawaku kemudian.”
Maka dijawab oleh malaikat maut, “Ya Rasulullah hamba ini karena disuruh oleh Tuhan Yang Maha Tinggi berhadap kepada tuan hamba karena disuruh mengambil nyawa engkau sebab Tuhan itu amat pengen sekali dan lagi karena tiada lagi yang terlebih daripada sekalian melainkan tuan jua nabi yang menjadi kekasih sayang Allah itu dan lagi tuan hamba disuruh oleh Allah subhanallahu watangala membaca satu ayat ini.”
Maka lalu Rasulullah membaca demikian bunyinya, “Innaka mayyitu tsumma innaka yaumal qiyamah takhtasimuun.”
Kemudian daripada membaca ayat itu maka tahulah Rasulullah itu karena menjadi tanda pulang ke Rahmatullah seraya menangis-nangis dan berkata-kata pula ketika itu.
Demikian katanya “Hai Jabrail aku menangis-nangis ini bukannya aku berat akan dunia dan bukan sebab berat kepada sohabat dan bukan sebab bercerai dengan umi salamah dan ngaisah dan khatijah dan maimunah dan kepada anak Abu Qosim dan Fatimah dan Hasan dan Husaain bukan sekali karena hamba menangis ini sebab kasih akan sekalian umatku karena aku disuruh pulang ke Rahmatullah karena umatku jikalau matitiada membawa iman demikian tangisku ini.”
Syahdan kemudian maka datang lagi satu malaikat yang bernama Mikail seraya memberi salam akan Rasulullah.
Demikian salamnya, “Assalamu ngalaika ya Sayyidi Rasulullah.”
Maka dijawab oleh Rasulullah salamnya itu, “Ngalaika ngalaihissalam ya malaikat mikali dan mikali itu menyuruh akan membaca suatu surat Innalillahi wa innailaihi roji’un lalu dibaca oleh Rasulullah.
Rasulullah ayat itu adapun kemudian daripada mambaca ayat itu memanggil Rasulullah dewi ngaisah.
Demikian katanya “Hai Ngaisah inilah kami memberi salam kepada Ngaisah dari karena salamku ini itu tiada penghabisan bertemu di dalam dunia ini dan lagi. Hai Ngaisah engkau tiada mendengar tatkala kau membaca Qur’an dan engkau belum tahu ada satu orang datang berhadap kepadaku itu karena yang datang itu hendak memberceraikan yakni hendak mencabut nyawaku.”
Maka lalu bercerai-cerai nabi itu tidurnya dengan ngaisah dan fatimah. Syahdan kemudian daripada berkata-kata Rasulullah maka sekalian yang mendengarkan kata nabi itu pada menangis gempar seraya masing-masing menangisnya dan lakunya dan setengahnya menjerit-jerit dan berjanggut-janggut akan rambutnya itu dan berpukul-pukulan akan dadanya sebab terlalu sangat sedihnya dan adapula.
Maka berkata lagi demikianlah katanya, “Siapa lagi yang akan ikut karena hatiku ini terlalu masygul rasanya karena bercerai dengan kekasih Allah subhanallahu watangala itu karena siapa lagi yang mengajari akan daku kepada jalan yang benarnya itu.”
Kemudian maka kedengaran oleh Rasulullah maka bersabda Rasulullah kepada nGaisah dan kepada Fatimah kepada sekaliannya demikian katanya, “Hai Ngaisah dan sekalian Engkau maka jangan sekali-kali Engkau itu masygul dengan menangisi berjanggut-jangut kepada rambut dan berpukul-pukul akan dada kita itu karena pekerjaan yang demikian itu haram karena Allah itu tiada memberi izin pekerjaan yang demikian itu melainkan sekedar mengalir air matanya dan sedih hati jua.”
Maka lalu memanggil anaknya yaitu dewi Fatimah namanya katanya, “Hai Engkau Fatimah marilah Engkau karena aku pegang olehmu kepalaku.”
Fatimah memegang seraya mencium akan Rasulullah itu seraya menangis juga maka kata Rasulullah, “Hai Fatimah janganlah Kau mengagungkan menangis karena aku berhadap akan Tuhan yang maha besar itu tertahanlah sebab mendengar tangis kita.”
Maka menjawab Fatimah itu, “Hai bundaku Rasulullah karena aku bertahan bercerai dengan bundaku ini dan aku itu kepada siapa yang aku mengikut.”
Dan berkata pula Rasulullah demikian, “Hai Fatimah diamlah engakau karena ada juga yang engkau ikut itu kepada Allah Ta’ala memohonkan taufiq.
Kemudian maka berkata Fatimah, “Hai bundaku karena tinggal beberapa lagi kau bertemu dengan bundaku itu karena aku tiada mau jauh dan aku lebih daripada supaya sekali hatiku ini. Sebab belum habislah tangisku terjadi maka kepada yang bundaku ini.
Itu adapun kemudian daripada itu maka Rasulullah bersabda lagi demikian, “Daripada perkataan yang bunda kita, karena Engkau itu jangan sekali lagi bertemu kita dengan bunda ketika di padang mahsyar.”
Berkata Fatimah, “Hai Bundaku, jika aku tiada bertemu di padang mahsyar itu maka daripada aku ini bertemu dengan bunda itu. Hai Fatimah jika tiada bertemu di situ maka yaitu di titian shirotol mustaqim. Syahdan kemudian daripada itu, ketika Rasulullah berkata-kata dengan Fatimah maka datanglah sayyidina Jabrail dan sayyidina Mikail ngalaihissalam seraya memberi salam dan lag.
Lalu duduk Jabrail sebelah kanan Rasulullah dan Mikail sebelah kiri Rasulullah kemudian maka berkata lagi Rasulullah dengan Fatimah sebeb belum puas pada perjanjiannya, “Hai bundaku jika tiada bertemu di situ di mana lagi aku hendak bertemu dengan bundaku itu.”
Maka bersabda Rasulullah, “Hai anakku Fatimah, jika tiada bertemu di situ maka bertemu juga tatkala bundaku duduk pada telaga Al Kautsar ketika bunda memberi minum akan sekalian umat yang mukmin.”
Kemudian maka menangis lagi Fatimah demikian katanya, “Hai bundaku jika tiada bertemu di suatu dari manalah dipertemukan itu.”
Maka sabda Rasulullah, “Hai Fatimah, tatkala bunda akan berhadap akan Allah karena memohonkan umat yang dikeringkan daripada di padang mahsyar jika tiada bunda di padang mauquf itu maka yaitu di dalam surga Engkau bertemu dengan bunda itu.
Syahdan kemudian daripada itu, maka bersabdalah lagi Rasulullah kepada Bilal. Demikian sabdanya, “Hai Bilal, sesungguhnya aku memberi salam kepadanya, maka yaitulah salamku penghabisan bertemu di dalam dunia ini dan lagi mudah-mudahan Engkau dipertemukan dengan aku daripada hari kiamat.”
Kemudian daripada mendengarkan kata Rasullullah Bilal itu maka lalu juga menangis serta menjerit-jerit suaranya.
Demikian tangis Bilal itu, “Hai Junjuunganku, Rasullullah siapa lagi yang mengajar diri hamba ini akan jalan yang sempurna?”
Maka sekalian orang mendengarkan perkataan nabi itu sekalian pada menangis. Juga sahabat yang empat terlalu amat ribut sekalian sebab bicaranya dengan kekasih Allah subhanallahu watangala.
Adapun kemudian daripada itu, maka lalu nabi itu memanggil Ngali Radiallahunganhu dan anak Ngabas kerena disuruh memegang tangan Rasullullah karena hendak pergi ke masjid dan lagi berkata Rasullullah demikian katanya, “Hai Ngali dan Ngabas jangan sekali, maka bersyukurlah berjalan ini, maka perlahan jauh.”
Kemudian maka sampai pada pintu masjid itu, kemudian Sayyid Abu Bakar melihat Rasullullah ketika di atas mimbar. Sayyid itu maka lalu turunlah memburu sekalian orang karena berkhidmat akan Rasullullah serta bergemparnya pada menangis dan tetapi Sayyid Abu Bakar itu belum membaca akan khotbah itu. Kemudian maka lalu Rasullullah ke dalam Masjid Makah, adapun kemudian daripada itu maka sekalian orang hadir di dalam masjid itu.
Maka berkata kepada Rasullullah demikian katanya, “Hai Junjunganku, Rasullulllah belum juga membaca akan khotbah itu karena Abu Bakar itu tiada habis membacanya karena sebab menangisnya tiada tertahankan menahan nafsunya sebab sedihnya.”
Kemudian maka lalu Bilal itu adzan, maka lalu Rasullullah itu berdiri sembahyang sunnat jamangah dan Abu Bakar sebelah kanan Rasullullah dan Umar sebelah kiri dan Usman dan Ali dan Hasan dan Husein daripada berlakang nabi. Kemudian daripada sembahyang sunnat, maka lalu Bilal berdiri karena mengangkat nabi ke atas mimbar lalu adzan Bilal. Itu kemudian maka lalu Rasullullah membaca akan khotbah serta digemparkan suaranya. Maka sekaliannya orang yang mendengarkan Rasullullah pada sedih serta menangis dan tercengang-cengang sekaliannya.
Syahdan kemudian daripada membaca khotbah. Maka lalu Bilal qomat maka Rasullullah pun berjalan karena menjadi imam sembahyang. Kemudian daripada sembahyang maka sekalian kaumnya itu pada mengunjungi kepada Rasullullah. Maka lalu duduklah Rasullullah karena berkata sekalian orang yang ada disitu orang yang besar dan orang yang kecil tua dan orang muda.
Demikian sabdanya Rasullullah, “Ketahui olehmu sekalian bahwasanya aku ini disuruh pulang ke rahmat Allah disuruh oleh Tuhan Rabbil Ngalimin dan lagi jikalau ada curang atau apa-apa atau yang dipukul dengan kami maka yaitu hendak membayar utang karena kami itu takut didakwa di hadapan Qodhi Rabbun Jalil Al Akbar. Maka jawab olehmu hai sekalian orang yang hadir.”
Maka sekalian orang itu tiada yang menyahutnya melainkan pada menangis juga dan lagi nabi itu mengatakan seperti kata dahulu. Maka tiada yang menyahut itu.
Kemudian berkata lagi nabi demikian katanya, “Hai sekalian umatku Engkau itu jangan takut dan jangan malu menjawab akan kataku. Maka kata itu karena Allah juga karena kami ini hendak membayar utang.”
Maka dengan takdir Allah tangala ada satu orang yang menyahut akan kata Rasullullah itu dan lagi didekatinya itu orang di belakang sekalian orang yang banyak. Namanya Aqosah demikian katanya hai junjunganku Rasul Allah ada juga yang kena pukul oleh tuan tatkala tuan pergi perang sabilillah ketika tuan hendak mengendarai kuda. Maka tatkala itu memukul tuan kepada hamba ini waba’dahu. Kemudian daripada itu maka Rasullullah berkata lagi demikian katanya, “Hai Bilal, Aqosah, maka segeralah engkau pergi ke rumah Fatimah karena ambil olehmu cemeti kuda kami karena kami ini hendak membayar utang dari karena aku ini takut didakwa aku ngaku di hadapan Qadhi Rabbul Jalil al-Akbar”.
Syahdan kemudian daripada itu, maka kedengaran oleh Abu Bakar perkataan dan Aqosah itu.
Maka mengatakan Abu Bakar, “Hai Aqosah, jangan sekali-kali engkau memukul akan Rasullullah itu karena mengatakan seperti kata yang dahulu itu karena nabi sangat sakit. Maka lebih baik aku juga dipukul dengan Aqosah.”
Maka kedengaran Abu Bakar oleh Rasullullah.
“Hai Abu Bakar, janganlah engkau melarang akan Aqosah karena aku ingin hendak membayar utang. Maka segeralah Aqosah berjalan ke rumah Fatimah! Ambil olehmu cemeti kuda!”
Maka Bilal lalu berjalan. Barang sampai ke rumah Fatimah, maka berkata-kata Bilal itu kepada Fatimah.
“Aku ini berhadap Rasullullah mengambil cemeti kuda karena Rasul Allah itu akan membayar utang akan kami.”
Adapun kemudian daripada itu, maka Fatimah mendengar perkataan Aqosah itu terlebih ribut sekali-kali serta tiada mau memberikan akan pemukul itu. Padahal berkata lagi Fatimah.
Demikian katanya, “Hai mana Bilal, maka janganlah memukul kepada bapakku karena bapakku itu setengah sakit. Terlebih baik aku juga dipukul itu.”
Kemudian maka menjawab Aqosah kepada Fatimah, “Hai Fatimah, jangan engkau berkata-kata seperti yang demikian itu karena Rasullullah hendak membayar utang akan daku.”
Kemudian maka diambil cemeti oleh Fatimah itu, lalu diberikan kepada Aqosah serta dengan tangisnya Aqosah. Itu kemudian maka lalu pergi berjalan serta dengan tangisanya Aqosah.
Maka seketika juga datang Aqosah itu kemudian Rasullullah ada di dalam masjid. Lalu diberikan cemeti itu kepada Rasullullah, kemudian maka dikembalikan lagi kepada Aqosah karena disuruh ia pukulkan.
Kemudian maka kedengaran oleh Abu Bakar. Katanya, “Hai Aqosah, janganlah Rasullullah dipukul. Lebih baik aku juga pukul.”
Itu maka hujjah-berhujjahlah Aqosah kepada Abu Bakar, “Hai Sayyid Abu Bakar, jika aku memukul kepada orang, padahal aku itu tiada dipukul dahulu, rasaku dosa sekali tetapi yang hadir.” Itu seperti perkataan Abu Bakar, jawab Aqosah itu, lunas juga nafsunya kemudian.
Maka berkata, sabda Rasullullah kepada Aqosah, “Hai Aqosah, lekaslah kau balas pukul.”
Maka Aqosah berkata, “Ya Rasullullah, tatkala hamba dipukul oleh tuan maka tiada memakai baju.”
Maka Rasullullah hendak mengulurkan kainnya. Maka ketika itu, datanglah Dewi Fatimah serta berdiri di pintu masjid seraya berkata-kata kepada sekalian orang banyak itu.
Demikian katanya, “Hai sekalian orang yang hadir di sini, aku mubaligh, maka janganlah memukul kepada bundaku.”
Kemudian perkataan itu kedengaran oleh sekalian orang yang banyak itu.
Kemudian maka berkata-kata lagi Aqosah seperti karena kata yang dahulu. Waba’dahu, kemudian daripada itu, maka Rasullullah lalu mengulurkan kainnya bajunya. Maka Aqosah itu seperti memburu Rasullullah, mencium wudelnya Rasullullah. Tetapi pemukul itu dia lepaskan ke belakangnya bukan dipukulkan kepada Rasullullah padahal yang dimaksud demikian juga, dan lagi ketika mencium, berkata-kata serta menangis.
Demikian katanya, “Hai junjunganku Rasullullah, hamba ini mendapat suka cita hamba serta rupanya yang dahulu amat mencuri cahayanya Allah itu gilang gumilang kilau-kilauan serta harum baunya seperti kasturi.”
Maka sekalian orang itu melihat kepada Aqosah. Maka hatinya tercengang-cengang sebab kiranya serta pada memegangkan akan tangan Aqosah itu. Kemudian maka sabda Rasulullah kepada sekalian orang itu.
Demikian katanya, “Hai sekalian umatku, jika kita hendak tahu kepada orang assurga itu maka yaitulah seperti Aqosah juga demikian.”
Syahdan maka lalu Rasullullah memberi petuah akan sekalian umatnya, seperti kita.
“Maka baik –baiklah memelihara akan daripada imannya dan sembahyang dan puasa dan naik haji dan mengeluarkan zakat dan fitrah pada masanya maka jangan sekali-kali dilupakan akan perjanjian aku ini serta engkau kasih kepada anak yatim karena mudah-mudahan dilepaskan daripada api neraka kepadanya. Maka jika aku sudah pulang ke rahmatullah, maka yaitu Abu Bakar yang menjadi imam sekalian.”
Maka adapun sekalian orang mendengarkan perkataan Rasullullah terlalu amat sedihnya. Kemudian maka memanggil Rasullullah kepada Abu Bakar Sidiq karena disuruh memanggil baginda Ali karena kami seperti uzur. Maka sekalian itu datang Ali.
Maka bersabda Rasullullah, “Hai Ali dan anak Abbas, sesungguhnya kami ini sangat sekali rasanya itu.”
Maka Ali dan anak Abbas lalu akan nabi itu berangkat kepada rumahnya dewi Aisyah seraya perlahan juga. Maka lalu berbaring-baring nabi karena sedih dekat akan pulangnya dan lagi Maemunah daripada kiri nabi dan Khatijah di hadapan dan Ummi Salamah sebelah kanan dan Hasan Husein di belakang. Maka sekaliannya habislah pada menangis.
Syahdan kemudian daripada itu, maka datang malaikat maut seraya merupakan orang muda berdiri di luar pintu rumah dan berkata-kata.
Demikian katanya, “Ya Khotimah Nabiy, aku mau masuk ke dalam rumah tuan hamba karena aku hendak melihat kepada kekasih Allah Tangala.”
Kemudian maka kedengaran oleh Fatimah. Maka dijawab bahwa, “Siapa berkata-kata di luar pintu rumah serta siapa orangnya meminta pintu, maka janganlah karenaku bundaku sangat sakit.”
Kemudian maka menyeru lagi malaikat maut itu meminta masuk karena sudah hampir pulangnya. Maka lalu kedengaran oleh Rasullullah suaranya.
Maka bersabda nabi kepada Fatimah, “Hai Fatimah, engkau ini belum tahu akan nama yang menyeru itu”.
Maka lalu diberitahu Fatimah itu nama oleh Rasullullah, “Hai Fatimah, maka yaitulah malaikul maut itu, bakal yang mana memberceraikan bunda itu dan yang mengucurkan air matanya”.
Maka lalu Fatimah itu mambukakan pintu serta menangis. Maka lalu masuk malaikul maut ke istananya nabi serta memberi salam.
Demikian salamnya, “Assalamu’alaikum ya khotamun nabi”.
Maka dijawab oleh nabi, “Wa’alaikum Salam Ya Malaikul Maut”.
Lalu berkata-kata malaikul maut itu, “Hai Rasullullah, aku berdatang kepada hadapan tuan hamba karena disuruh oleh Tuhan yang Maha Tinggi karena disuruh mengambil ruh tuan hamba dari karena Tuhan Yang Maha Tinggi itu amat pengen kepada tuan hamba dari karena, dan lagi sekalian pintu langit itu berbuka karena menantikan tuan hamba, dan sekalian yang tujuh lapis langit itu turun seraya aku dan/ Arsy menggerakkan dirinya karena terlebih sukanya bakal kedatangan ruh tuan hamba.”
Demikian kemudian maka bersabda Rasullullah, “Hai Malaikul Maut, baikanlah karena hamba ridho juga disuruh diambil nyawa itu tetapi hamba hendak bertemu dengan saudara, yaitu Jabrail, karena aku hendak berjanji”.
Kemudian maka memohon malaikul maut akan nabi itu karena hendak mendapatkan Jabrail.
Maka seketika itu sampai kepada langit yang pertama seraya bertemu dengan malaikat Jabrail itu katanya, “Hai Malaikat Maut, sudahlah diambilnya ruh kekasih itu?”
Maka dijawab oleh malaikat maut, “Hai Jabrail, belum juga karena kekasih itu hendak bertemu dengan engkau karena berjanji-janji”.
Seraya kemudian, maka turunlah Jabrail mendapatkan nabi dan sekalian malaikat yang banyak seraya berhadap dan memberi salam akan Rasullullah.
Demikian salamnya, “Asaalamu’alaikum ya Tuan, ya Suruhku, Rasullullah.”
Maka lalu dijawab oleh Rasullullah, “’Alaika ‘Alaihisalam, ya Saudara Jibrail, ya Saudaraku. Terlalu amal tiada bertemu karena hamba ini jangan dijatuhkan pada masa ini.”
Innaka, lalu bersabda lagi kepada demikian katanya, “Ketahuilah olehmu bahwasanya jika bunda sudah pulang maka baik engkau memilihara wasiat bunda, dan lagi kita ini jangan bersangkal, dan hamba Anakku, Fatimah, karena bunda hendak bercium”.
Maka lalu memeluk Fatimah kepadanya seraya dijawab oleh bundanya, serta tiada putus-putus menangis.
Maka lalu Rasullullah berpalingkan mukanya mula ke kanan serta memohon akan Allah Subhanallahu Watangala supaya lepaslah daripada bebannya. Kemudian maka sekalian pada sedihlah. Seperti Umi Salamah dan Abu Qosim dan Hasan dan Husein maka sekaliannya itu sedih juga.
Waba’dahu, kemudian daripada pulangnya Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam itu, maka sekalian umatnya itu masing-masing suara tangisnya.
Maka setengah ada yang mengetahui sekalian taulanku bersungguh menjuang-juangkan akan pesan Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.
2 komentar:
mas ham ijin nyimak yaaa....
very helpfull nih :)
wokey..
monggoo..
sip. semangat!
Poskan Komentar