Kampus merupakan laboratorium pemikiran dan produksi dari teori. Civitas akademia berusaha memunculkan ide-gagasan baru sekaligus bisa bereksperiman sekaligus berkarya. Tapi sebagai unsur pelaku yang paling penting dari kampus, mahasiswa ternyata belum mampu memanfaatkan kesempatan dan peluang yang terbuka lebar tersebut di kampus. Istilah kuno, mahasiswa kupu (kuliah-pulang) masih relevan hingga saat ini. Tak sampai separuh dari jumlah mahasiswa yang rela bergabung dalam Organisasi Kemahasiswaan, UKM, maupun komunitas lainnya. Hal ini menyebabkan sedikitnya ide, gagasan, dan pemikiran yang dimunculkan oleh mahasiswa. Mahasiswa baru mengejawantahkan statusnya sebagai warga belajar tapi terbatas hanya di dalam kelas beserta pekerjaan rumahnya. Mahasiswa belum memahami bahwa belajar tak hanya itu, disekretariat Ormawa adalah laboratorium kehidupan, di tongkrongan merupakan tempat diskusi paling aktual dan faktual, dan di tempat ibadah adalah bengkel otak supaya tajamnya tepat arah. Wajar saja jika mahasiswa kurang produktif atau kalau produktif kualitasnya sangat terbatas. Belum lagi kurangnya ruang publikasi yang cukup sebagai bentuk apresiasi yang memadai atau setidaknya layak untuk karya-karya mahasiswa tersebut.
Mahasiswa seyogyanya memulai untuk berkarya dimulai sejak menjadi mahasiswa. Diakui mahasiswa memang terbatas ruang sebagai mahasiswa dan waktu sebagai pekerja tugas dari dosen. Tapi hal itu bukanlah alibi yang tepat untuk mengiyakan pernyataan “Mahasiswa belum boleh berkarya!”. Tidak tepat bila mahasiswa harus menunggu berkarya menunggu lulus dulu. Setelah itu bekerja atau disebut berkarya, kemudian menikah, beranak pinak, membeli rumah dan perabot, lalu berakhir setelah menjadi ketua RT.
Generasi mahasiswa kreatif, inilah wacana yang tepat untuk mahasiswa sekarang. Wacana kreatif layak disejajarkan dengan wacana mahasiswa kritis, transformatif, atau berkarakter. Kreatif berarti kemampuan seseorang untuk melaksanakan atau menyusun sesuatu dengan adanya nilai tambah tersendiri sehingga membedakan dengan yang lainnya dan sebelumnya. Kreatif dekat dengan inovatif, tapi tidak sekedar asal beda. Kreatif mampu mengubah hal luar biasa menjadi sangat biasa. Kreatif mengajarkan hal rumit menjadi sederhana dan yang sederhana untuk dilakukan menjadi terlalu mudah untuk dilakukan. Kreatif mengolah sampah menjadi barang mewah. Kreatif itu menghasilkan sedangkan mandul itu manghabiskan. Kreatif itu menyenangkan sekaligus mengenyangkan, tapi mandul menyedihkan dan mengerikan untuk kemajuan nusa dan bangsa Indonesia.
Ada sebuah kisah dalam film 3 Idiots, Virus sang rektor keras kepala nan killer dalam pertemuan perdana siswa baru memamerkan penanya sebagai pena seorang astronot. Dia mengatakan bahwa pena itu merupakan hasil penelitian jutaan dolar karena bisa digunakan di bulan karena tidak terpengaruh gravitasi, bisa menulis dari berbagai sudut, dalam suhu apapun, dan lancar. Semula para astronot dan peneliti bingung bagaimana semisal mau mencatat di luar angkasa. Tapi dengan pena istimewa tersebut masalah tersebut dapat diatasi. Virus menerima pena tersebut dari dosennya sebagai bentuk penghargaan terhadap kesempurnaannya dan nantinya akan diberikan kepada mahasiswanya yang sangat hebat. Tapi Rancho salah satu 3 idiots yang sebenarnya sangat jenius bertanya, “Pak, di luar angkasa, pena tinta dan ballpoint tidak bisa digunakan, kenapa astronot tidak mencoba memakai pensil?” Ternyata rektor tidak bisa menjawabnya ketika itu dan baru bisa menjawab saat jauh selanjutnya walau dengan rasionalisasi tidak rasional.
Dari kisah tadi, kreatif bisa juga diartikan multi dimensional dalam melihat apapun. Sudut pandang yang digunakan tidak hanya satu. Dengan berpikir dan bertindak kreatif akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam hal apapun. Selain itu hasil karyanya pun akan semakin banyak dan baik. Sangat tepat dengan prinsip paling egois yang diajarkan pelajaran ekonomi, mengeluarkan sedikit-sedikitnya dan menghasilkan sebanyak-banyaknya.
Dalam konteks seni apalagi kehidupan akademis, kreatif merupakan nafas utama. Tak ada karya tanpa pemikiran, tak ada pemikiran tanpa kreativitas. Seni dan dunia akademis selalu menggunakan kacamata atau parameter, seberapa banyak karya sebagai tolok ukur kreativitas seseorang. Memang ini ada benarnya, sehingga mahasiswa kreatif ya hanya yang bisa berkarya. Tak peduli apapun media seninya, sastra, rupa, tari, pertunjukan, atau suara tetap saja nilai ini relevan sebagai tolok ukur. Seorang sastrawan berkualitas berarti bisa menerbitkan karya-karyanya. Seorang ahli seni rupa berkualitas merupakan seniman yang banyak pameran. Penari, dramawan, dan penyanyi atau musisi, akan diakui berkualitas ketika bisa tampil di sana-sini.
Untuk meningkatkan apresiasi dibutuhkan peran media yang besar. Media harus menempatkan hasil karya kreatif sebagai menu utama atau setidak-tidaknya menu tidak terlewatkan dalam setiap wacana yang dibangunnya. Peran tersebut berupa penyebarluasan momen, karya, atau penyusun seninya. Dengan begitu seni kian merakyat dan rakyat kian apresiatif terhadap seni. Pelaku seni semakin dihargai sehingga karyanya semakin meningkat kualitas dan kuantitasnya.
Mahasiswa haruslah mengambil peran besar untuk kali ini. Mahasiswa yang seperti inilah layak disebut generasi mahasiswa kreatif. Kalau tidak, inilah generasi mandul yang tak bisa berkarya.
0 komentar:
Poskan Komentar