Selasa, 06 Juli 2010

Analisis Struktural Beberapa Karya Satra Anak

BAB I
PENDAHULUAN
A. JUDUL MAKALAH
Judul dari makalah ini adalah Analisis Struktural Beberapa Karya Satra Anak.

B. LATAR BELAKANG MASALAH
Sastra berbicara tentang hidup dan kehidupan, tentang berbagai persoalan hidup manusia, tentang kehidupan di sekitar manusia, tentang kehidupan pada umumnya, yang semuanya diungkapkan dengan cara dan bahasa yang khas. Artinya, baik cara pengungkapan maupun bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan berbagai persoalan hidup, atau biasa disebut gagasan, adaalah khas sastra, khas dalam pengertian lain daripada yang lain. Artinya, pengungkapan dalam bahasa sastra berbeda dengan cara-cara pengungkapan bahasa selain sastra, yaitu cara-cara pengungkapan yang telah menjadi biasa, lazim, atau yang itu-itu saja. Dalam bahasa sastra terkandung unsur dan tujuan keindahan. Bahasa sastra lebih bernuansa keindahan daripada kepraktisan. Karakteristik tersebut juga berlaku dalam sastra anak (Nurgiyantoro,2005:3).
Sastra menurut Lukens (2003:9) menawarkan dua hal utama, yaitu kesenangan dan pemahaman. Sastra hadir kepada pembaca pertama-tama adalah memberikan hiburan, hiburan yang menyenangkan. Sastra menampilkan cerita yang menarik, mengajak pembaca untuk memanjakan fantasi, membawa pembaca ke suatu alur kehidupan yang penuh suspense, daya yang menarik hati pembaca untuk ingin tahu dan merasa terikat karenanya, “mempermainkan emosi” emosi pembaca sehingga ikut larut ke dalam arus cerita dan kesemuanya itu dikemas dalam bahasa yang juga tidak kalah menarik. Lukens (2003:4) menegaskan bahwa tujuan memberikan hiburan, tujuan menyenangkan dan memuaskan pembaca, tidak peduli pembaca dewasa maupun anak-anak, adalah hal yang esensial dalam sastra.
Saxby(1991:4) mengatakan bahwa sastra pada hakikatnya adalah citra kehidupan, gambaran kehidupan. Citra kehidupan dapat dipahami sebagai penggambaran secara konkret tentang model-model kehidupan sebagaimana yang dijumpai dalam kehidupan faktual sehingga mudah diimajinasikan sewaktu dibaca. Karakterisitik sastra yang telah disebutkan di atas juga berlaku dalam sastra anak. Saxby (1991:4) mengemukakan bahwa jika citraan dan atau metafora kehidupan yang dikisahkan itu berada dalam jangkauan anak, baik yang melibatkan aspek emosi, perasaan, pikiran, saraf sensori, maupun pengalaman moral, dan diekspresikan dalam bentuk-bentuk kebahasaan yang juga dapat dijangkau dan dipahami oleh pembaca anak-anak, buku atau teks tersebut dapat diklasifikasikan sebagai sastra anak.
Huck dkk (1987:4) mengemukakan perlu adanya perhatian terhadap perbedaan buku yang dimaksudkan sebagai bacaan anak dan dewasa. Buku bacaan untuk dewasa tidak begitu saja dapat diberikan dan dikonsumsikan kepada anak karena adanya berbagai kendala keterbatasan, baik yang menyangkut isi kandungan maupun unsur kebahasaan. Isi kandungan sastra anak dibatasi oleh pengalaman dan pengetahuan anak, pengalaman dan pengetahuan yang dapat dijangkau dan dipahami oleh anak, pengalaman dan pengetahuan anak yang sesuai dengan dunia anak sesuai dengan perkembangan emosi dan kejiwaannya. (Nurgiyantoro, 2005:6).

C. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat dirumuskan masalah pokok yaitu bagaimanakah unsur struktural dalam beberapa karya sastra anak.

D. TUJUAN PENULISAN
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan unsur struktural dalam beberapa karya sastra anak.


E. MANFAAT PENULISAN
Jabaran manfaat ditulisnya karya ini antara lain sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
a. Dapat menambah khasanah penelitian kesusastraan Indonesia dalam memahami unsur struktur dalam suatu karya sastra.
b. Sebagai alat motivasi, setelah dilakukan penelitian ini muncul penelitian-penelitian baru sehingga dapat menimbulkan inovasi dalam kesusastraan Indonesia.
2. Manfaat Praktis
Membantu pembaca untuk memahami dan mengetahui unsur structural dalam.

BAB II
LANDASAN TEORI
Sastra anak adalah sastra yang secara emosional psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak, dan itu pada umumnya berangkat dari fakta yang konkret dan mudah diimajinasikan. Menurut Huck dkk (1987:5) isi kandungan yang terbatas sesuai dengan jangkauan emosional dan psikologi anak itulah yang, antara lain, merupakan karekteristik sastra anak. Sastra anak dapat berkisah tentang apa saja, bahkan yang menurut ukuran dewasa tidak masuk akal. Misalnya berkisah tentang binatang yang dapat berbicara, bertingkah laku, berpikir dan berperasaan layaknya manusia. Imajinasi dan emosi anak dapat menerima cerita itu secara wajar dan memang begitulah seharusnya menurut jangkauan pemahaman anak.
Secara garis besar Lukens mengelompokkan genre sastra anak ke dalam enam macam, yaitu realisme, fiksi formula, fantasi, sastra tradisional, puisi dan nonfiksi dengan masing-masing mempunyai beberapa jenis lagi. Genre drama sengaja tidak dimasukkan karena menurutnya, drama baru lengkap setelah dipertunjukkan dan ditonton, dan bukan semata-mata urusan bahasa-sastra (Nurgiyantoro,2005:15).
1. Realisme
Karakteristik umum cerita realisme adalah narasi fiksional yang menampilkan tokoh dengan karakter yang menarik yang dikemas dalam latar tempat dan waktu yang dimungkinkan. Ada beberapa cerita yang dapat dikategorikan ke dalam realisme, yaitu cerita realistik, realisme binatang, realisme historis dan cerita olahraga(Nurgiyantoro, 2005:15).
2. Fiksi Formula
Genre ini sengaja disebut sebagai fiksi formula yang karena memiliki pola-pola tertentu yang membedakannya dengan jenis lain. Jenis sastra anak yang dapat dikategorikan ke dalam fiksi formula adalah cerita misteri dan detektif, cerita romantis, dan novel serial (Nurgiyantoro, 2005:18).
3. Fantasi
Fantasi dapat dipahami sebagai cerita yang menawarkan sesuatu yang sulit diterima. Cerita fantasi dikembangkan lewat imajinasi yang lazim dan dapat diterima sehingga sebagai sebuah cerita dapat diterima oleh pembaca. Jenis sastra anak yang dapat dikelompokkan ke dalam fantasi ini adalah cerita fantasi, fantasi tingkat tinggi, dan fiksi sain (Nurgiyantoro, 2005:20).
4. Sastra Tradisional
Istilah “tradisional” dalam kesastraan (traditional literature atau folk literature) menunjukkan bahwa bentuk itu berasal dari cerita yang telah mentradisi, tidak diketahui kapan mulainya dan siapa penciptanya, dan kisahkan secara turun temurun secara lisan. Jenis cerita yang dikelompokkan ke dalam genre ini adalah fabel, dongeng rakyat, mitologi, legenda dan epos (Nurgiyantoro,2005:22).
5. Puisi
Sebuah bentuk sastra disebut puisi jika di dalmnya terdapat pendayagunaan berbagai unsur bahasa untuk mencapai efek keindahan. Bahasa puisi tentulah singkat, padat, dengan sedikit kata, tetapi dapat mendialogkan sesuatu yang lebih banyak. Genre puisi anak dapat berwujud puisi-puisi lirik tembang-tembang anak tradisional, lirik tembang-tembang ninabobo, puisi naratif, dan puisi personal (Nurgiyantoro, 2005:27).
6. Nonfiksi
Bacaan nonfiksi yang sastra ditulis secara artistik sehingga jika dibaca oleh anak, anak akan memperoleh pemahaman dan sekaligus kesenangan. Ia akan membangkitkan pada diri anak perasaan keindahan yang berwujud efek emosional dan intelektual. Bacaan nonfiksi dapat dikelompokkan ke dalam subgenre buku informasi dan biografi (Nurgiyantoro, 2005:28).
Sebuah teks sastra adalah sebuah kesatuan dari berbagai elemen yang membentuknya. Elemen-elemen itu dibedakan ke dalam unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur cerita fiksi yang secara langsung berada di dalam, menjadi bagian, dan ikut membentuk eksisitensi cerita yang bersangkutan. Unsur fiksi yang termasuk dalam kategori ini misalnya adalah tokoh dan penokohan alur, pengaluran, dan berbagai peristiwa yang membentuknya, latar, sudut pandang dan lain-lain. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar teks fiksi yang bersangkutan, tetapi mempunyai pengaruh terhadap bangun cerita yang dikisahkan, langsung atau tidak langsung. Hal-hal yang dapat dikategorikan ke dalam bagian ini misalnya jatidiri pengarang yang mempunyai ideologi, pandangan hidup dan way of life bangsanya, kondisi kehidupan sosial-budaya masyarakat yang dijadikan latar cerita, dan lain-lain (Nurgiyantoro, 2005:221).

A. Cerita Fiksi Anak
Unsur-unsur intrinsik cerita fiksi anak adalah sebagai berikut:
1. Tokoh
Tokoh cerita dimaksudkan sebagai pelaku yang dikisahkan perjalanan hidupnya dalam cerita fiksi lewat alur baik sebagai pelaku maupun penderita berbagai peristiwa yang diceritakan. Dalam cerita fiksi anak, tokoh tidak harus berwujud manusia, seperti anak-anak atau orang dewasa lengkap dengan nama atau karakternya, melainkan juga dapat berupa binatang atau suatu objek yang lain yang biasanya merupakan bentuk personifikasi manusia (Nurgiyantoro, 2005:222).
Jenis tokoh cerita fiksi anak dapat dibedakan ke dalam bermacam kategori tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Misalnya jika dilihat berdasarkan realitas sejarah, tokoh dapat dibedakan ke dalam tokoh rekaan dan tokoh sejarah, berdasarkan wujudnya dapat dibedakan ke dalam tokoh manusia, binatang atau objek lain, berdasarkan kompelksitas karakter dapat dibedakan ke dalam tokoh sederhana dan tokoh bulat (Nurgiyantoro, 2005:224).
Tokoh cerita fiksi hadir ke hadapan pembaca, anak sekalipun, tidak serta-merta begitu saja, tetapi sedikit demi sedikit dengan teknik tertentu sejalan dengan perkembangan alur. Ada sejumlah cara penghadiran tokoh, namun secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam dua macam, yaitu teknik uraian atau narasi pengarang (telling) dan teknik ragaan (showing). Teknik pertama menunjukkan bahwa pemunculan karakter tokoh itu secara langsung diceritakan oleh pengarang, sedangkan teknik yang kedua menunjukkan bahwa tokoh dibiarkan tampil sendiri untuk memperlihatkan karakter jati dirinya dengan perkembangan alur cerita (Nurgiyantoro, 2005:231).
2. Alur Cerita
Alur berhubungan dengan berbagai hal seperti peristiwa, konflik yang terjadi, dan akhirnya mencapai klimaks, serta bagaimana kisah itu diselesaikan. Alur berkaitan dengan masalah bagaimana peristiwa, tokoh, dan segala sesuatu itu digerakkan, dikisahkan sehingga menjadi sebuah rangkaian cerita yang padu dan menarik. Selain itu, alur juga mengatur berbagai peristiwa dan tokoh itu tampil dalam urutan yang enak, menarik, tetapi juga kelogisan dan kelancaran ceritanya (Nurgiyantoro, 2005:237).
Unsur esensial dalam alur adalah peristiwa baik yang dilakukan oleh dan ditimpakan kepada tokoh maupun yang bukan. Berkat peristiwa yang dikisahkan itu, alur cerita dapat berkembang. Di dalam peristiwa ada unsur yang esensial juga, yaitu konflik. Konflik pada hakikatnya menjadi motor penggerak alur, menyebabkan munculnya ketegangan dan hubungan sebab akibat, yang kesemuanya menjadi semacam “jaminan” bahwa alur cerita akan menarik karena memiliki kadar suspense yang tinggi (Nurgiyantoro, 2005:238).
3. Latar
Latar (setting) dapat dipahami sebagai landas tumpu berlangsungnya berbagai peristiwa dan kisah yang diceritakan dalam cerita fiksi. Peristiwa dan kisah dalam cerita fiksi tidak dapt terjadi begitu saja tanpa kejelasan landas tumpu. Apalagi untuk cerita fiksi anak yang dalam banyak hal memerlukan rincian konkret yang lebih menjelaskan “apa” dan “bagaimana”-nya berbagai peristiwa yang dikisahkan (Nurgiyantoro, 2005:249).
Latar terdiri dari tiga unsur, yaitu tempat, waktu, dan lingkungan sosial budaya. Kehadiran ketiga unsur tersebut saling mengait, saling memperngaruhi, dan tidak sendiri-sendiri walau secara teoritis memang dapat dipisahkan dan diidentifikasikan secara terpisah (Nurgiyantoro, 2005:250).
Kehadiran unsur latar dalam sebuah cerita fiksi tidak semata-mata hanya berfungsi untuk menjadi landas tumpu cerita, tetapi juga mengemban sejumlah fungsi yang lain. Namun, intensitas pemfungsian latar bervariasi di antara cerita fiksi yang kesemuanya tergantung pada niatan penulisnya. Kehadiran unsur latar yang bersifat fungsional lazimnya terkait dengan berbagai unsur fiksi yang lain di samping juga terlihat memiliki fungsi-fungsi tertentu (Nurgiyantoro, 2005:255).
4. Tema
Secara sederhana tema dapat dipahami sebagai gagasan yang mengikat cerita (Lukens, 2003:129), mengikat berbagai unsur intrinsik yang membangun cerita sehingga tampil sebagai sebuah kesatupaduan yang harmonis. Tema merupakan dasar pengembangan sebuah cerita. Tema sebuah cerita fiksi merupakan gagasan utama dan atau makna utama cerita. Tema lazimnya berkaitan dengan berbagai permasalahan kehidupan manusia karena sastra berbicara tentang berbagai aspek masalah kemanusiaan: hubungna manusia dengan Tuhannya, manusia dengan diri sendiri, manusia dengan sesama, dan manusia dengan lingkungan alam (Nurgiyantoro, 2005:260).
5. Moral
Moral, amanat atau messages dapat dipahami sebagai sesuatu yang ingin disampaikan kepada pembaca. Sesuatu itu selalu berkaitan dengan berbagai hal yang berkonotasi positif, bermanfaat bagi kehidupan, dan mendidik. Moral berurusan dengan masalah baik dan buruk, namun istilah moral itu selalu dikontasikan dengan hal-hal yang baik.Kehadiran moral dalam cerita fiksi dapat dipandang sebagai saran terhadap perilaku moral tertentu yang bersifat praktis, tetapi bukan resep atau petunjuk bertingkah laku (Nurgiyantoro, 2005:265).
6. Sudut Pandang
Sudut pandang dalam istilah bahasa Indonesia atau dalam istilah bahasa Inggris point of view, view point, merupakan salah satu sarana .sastra (literary device) (Stanton via Pradopo, 2003:75). Walau demikian hal itu tidak berarti bahwa perannya dalam fiksi tidak penting. Sudut pandang haruslah diperhitungkan kehadirannya, bentuknya, sebab pemilihan sudut pandang akan berpengaruh terhadap penyajian cerita. Reaksi afektif pembaca terhadap sebuah karya fiksi pun dalam banyak hal akan dipengaruhi oleh bentuk sudut pandang (Nurgiyantoro, 2007: 246).
7. Stile dan Nada
Stile berkaitan dengan masalah pilihan berbagai aspek kebahasaan yang dipergunakan dalam sebuah teks kesastraan, nada adalah sesuatu yang terbangkitkan oleh pemilihan berbagai bentuk komponen stile tersebut. Jadi, nada pad hakikatnya merupakan sesuatu yang terbentuk, terbangkitkan atau sebagai konsekuensi terhadap pilihan stile (Nurgiyantoro, 2005:273).

B. Puisi Anak
Puisi adalah genre sastra yang amat memperhatikan pemilihan aspek kebahasaan sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa bahasa puisi adalah bahasa yang “tersaring” penggunaannya. Artinya, pemilihan bahasa itu, terutama aspek diksi, telah melewati sekesi ketat, dipertimbangkan dari berbagai sisi baik yang menyangkut unsur bunyi, bentuk, makna yang kesemuanya harus memenuhi persyaratan untuk memperoleh efek keindahan (Nurgiyantoro, 2005:312).
Di dalam puisi anak, intensitas dalam pendayaan unsur rima dan irama masih dominan. Hal itu seacar jelas terlihat pada puisi-puisi lagu dan tembang-tembang dolanan yang terlihat mengeksploitasi kedua aspek itu untuk memperoleh efek keindahan puisi. Keindahan bunyi puisi itu memberikan kesenangan, kepuasan, dan kebahagiaan tersendiri bagi anak. Itulah salah satu fungsi puisi bagi anak dan kita: memberikan kesenangan dan kepuasan batin (Nurgiyantoro, 2005:314).
Unsur bentuk atau unsur pembangun puisi atau yang biasa disebut dengan unsur intrinsik puisi antara lain bunyi, kata, sarana retorika, dan tema. Huck, dkk (1987:406-12) membedakan puisi anak ke dalam jenis balada, puisi naratif, verse bebas, dan puisi konkret.

C. Bacaan Nonfiksi Anak
Bacaan nonfiksi akan memberikan kita kesenangan dan kepuasan, yaitu yang berwujud pemerolehan fakta dan atau informasi konseptual, yang dibutuhkan. Lukens (2003:34) mengelompokkan bacaan nonfiksi anak ke dalam dua kategori saja, yaitu buku informasi (informational books) dan biografi (biography).
Berbagai buku bacaan yang berisi berbagai hal, peristiwa, atau apa saja yang menghadirkan informasi dan fakta-fakta secara mudah dikelompokkan ke dalam buku informasi. Di pihak lain, buku bacaan yang berangkat dari dan atau berdasarkan kisah hidup seseorang – juga merupakan suatu bentuk fakta – dikelompokkan ke dalam biografi (Nurgiyantoro, 2005:237).







BAB III
HASIL KAJIAN

I. Cerita Fiksi Anak (Novel)
Judul Novel : Kulit Manusia Serigala (Goosebumps)
Pengarang : R. L. Stine
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 1998

a. Sinopsis
Alex pergi ke rumah paman dan bibinya di Wolf Creek. Ia akan tinggal dan sekolah di sana untuk beberapa minggu karena orang tuanya pergi ke Paris. Alex menyukai fotografi, sama seperti paman dan bibinya. Awal sampai di Wolf Creek, ia mengutarakan keinginannya untuk menjadi manusia serigala saat Hallowen nanti dan keinginannya untuk memotret hutan di Wolf Creek. Pamannya langsung mengingatkannya akan sebuah rumah di sebelah rumah pamannya milik Mr dan Mrs. Marling. Mereka memperingatkan agar tidak dekat-dekat dengan rumah itu dan berhubungan dengan pemilik rumahnya, dengan alasan mereka punya anjing yang buas.
Di Wolf Creek, Alex bersahabat dengan Hanna. Ia yang menemani Alex memotret di hutan. Suatu malam kamera Alex ketinggalan di hutan, sehingga ia harus mengambilnya. Malam itu juga, pertama kalinya ia mendengar lolongan serigala dan mengetahui sumber suara berasal dari rumah Mr. dan Mrs. Marling. Ia sangat takut dengan kejadian itu dan curiga kalau Mr. dan Mrs. Marling adalah manusia serigala yang ditakuti orang-orang di Wolf Creek. Alex menanyakannya pada Hanna dan ia membenarkan pertanyaan Alex. Akan tetapi Paman Colin dan Bibi Marta mengatakan kalau semua itu tidak benar. Mendengar penjelasan yang berbeda, Alex penasaran dan berusaha menyelidikinya agar ia tahu kebenaran semua itu.
Suatu malam, ia menyelidiki sendiri tentang manusia serigala itu dan berniat memotretnya. Ia mengikuti kemana serigala yang selalu melolong tiap malam dan berusaha memotret keduanya agar ia bisa punya bukti tentang manusia serigala. Alex berhasil mengikuti sampai tengah hutan, menyaksikan apa yang dilakukan kedua manusia serigala itu dan berhasil mengambil gambar mereka dalam berbagai posisi dan kesempatan. Alex yakin kedua serigala itu adalah Mr. dan Mrs. Marling, karena ketika matahari mulai muncul mereka pulang ke rumah di sebelah rumah pamannya. Namun, ia sangat terkejut ketika ia tahu bahwa kedua serigala yang diikutinya adalah Paman Colin dan Bibi Marta. Ia tak percaya, paman dan bibinya adalah manusia serigala. Berarti selama ini mereka selalu mengarang cerita, mereka mengatakan kalau mereka pergi tiap malam untuk memotret hewan-hewan malam di tengah hutan.
Alex mengatakan kenyataan tersebut pada Hanna. Mereka punya rencana,mereka akan memakai kostum serigala milik paman dan bibi ketika Hallowen, tepat saat bulan purnama. Rencana mereka berhasil, Paman Colin dan Bibi Marta mencari kostum mereka tersebut. Saat bulan purnama tepat tinggi, mereka seperti tersiksa. Namun, akhirnya mereka berterima kasih pada Alex dan Hanna, karena tindakan mereka membuatnya terbebas dari kutukan. Alex dan Hanna mengembalikan kostum itu ke rumah Mr. dan Mrs. Marling. Betapa terkejutnya Alex karena di sana masih ada kostum serigala. Ia menanyakannya pada Hanna. Ia pun menjawab kalau kostum yang dipakainya adalah miliknya. Alex kembali terkejut mendengar pernyataan Hanna tersebut.

b. Tema
Novel anak Goosebumps seri Kulit Manusia Serigala ini mempunyai tema kurang lebih tentang “suatu rahasia pasti akan terbongkar”. Hal ini dapat dilihat dari isi cerita yang mengisahkan sebuah rahasia di Wolf Creek yang hanya diketahui dengan jelas oleh orang-orang yang tinggal di sana. Rahasia itu tentang manusia yang dapat berubah menjadi serigala ketika bulan malam tiba. Awalnya, bibi Marta dan paman Collin menyimpan rahasia tentang manusia serigala di Wolf Creek dari Alex. Rasa penasaran yang tinggi dari Alex membuat, anak itu menyelidiki dan akhirnya diketahuilah bahwa paman dan bibinya, bahkan juga temannya yang bernama Hana juga merupakan manusia serigala, yang dapat berubah menjadi serigala ketika malam tiba. Rahasia lain yang juga terungkap adalah bahwa sebagian besar warga Wolf Creek merupakan manusia serigala.

c. Alur
Novel anak ini, beralur maju. Hal ini dapat dibuktikan dengan jalannya cerita yang mengisahkan sesuatu hal dengan penyelesaian di bagian akhir. Pada awalnya yang diceritakan adalah tentang liburan Alex di tempat paman dan bibinya di Wolf Creek. Alex menjalani petualangan ketika melewati liburan tersebut.
Rasa penasarannya tentang manusia serigala dan suami istri Marling yang penuh misteri membuatnya terus mencari tahu kebenaran tentang keberadaan mereka. Hingga akhirnya diketahuilah bahwa Mr dan Mrs. Marling sebenarnya tidak ada, dan yang menjadi manusia serigala di Wolf Creek adalah paman dan bibi Alex, selain itu teman bermainnya di Wolf Creek, yaitu Hanna juga merupakan manusia serigala.

d. Penokohan
Jenis tokoh pada cerita fiksi anak dapat dibedakan ke dalam bermacam kategori, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Berdasarkan realitas sejarah , tokoh dapat didibedakan ke dalam tokoh rekaan dan tokoh sejarah. Tokoh dalam novel ini, jika dilihat dari realitas sejarah maka merupakan tokoh rekaan. Artinya, semua tokoh di dalam novel ini imajinatif, diciptakan lewat kekuatan imajinasi pengarang. Bukan merupakan tokoh yang secara faktual dapat ditemukan di dunia nyata atau dalam sejarah.
Berdasarkan kompleksitasnya, karakter dibedakan ke dalam tokoh sederhana dan bulat. Tokoh yang berkarakter bulat dalam novel anak ini adalah Alex sebagai tokoh utamanya. Sedangkan bibi, paman dan Hanna, serta teman-temannya yang lain di Wolf Creek adalah tokoh sederhana atau tokoh berkarakter datar yang hanya memiliki karakter itu-itu saja.
Tokoh yang merupakan tokoh protagonis pada novel ini adalah Alex, ia merupakan tokoh utama yang membawa misi kebenaran dan nilai-nilai moral yang berseberangan dengan tokoh antagonis. Alex dalam novel ini berusaha mengungkap siapa manusia serigala yang sebenarnya yang mengganggu ketenangan warga di Wolf Creek, walaupun itu terjadi secara tidak sengaja. Sedangkan paman dan bibinya merupakan tokoh antagonis, walaupun mereka berbuat baik dan tidak menyakiti Alex. Mereka sebenarnya adalah manusia serigala yang mengganggu ketenangan warga karena sewaktu-waktu bisa melukai warga.

e. Latar
Latar terdiri atas tiga unsur yaitu latar tempat, waktu dan sosial budaya.
i. Latar Tempat
Latar tempat menunjuk pada pengertian tempat di mana cerita pada novel ini dikisahkan. Novel anak Goosebumps seri Kulit Manusia Serigala ini dikisahkan di sebuah daerah atau tepatnya di sebuah desa bernama Wolf Creek. Tempat yang sering menjadi latar pengkisahan ceritanya adalah terminal bus Wolf Creek, rumah paman dan bibi Alex, di hutan, di komplek sekitar rumah paman dan bibi Alex serta di sebuah rumah yang disebut sebagai rumah Mr. dan Mrs. Marling.
ii. Latar Waktu
Latar waktu biasanya dikaitkan dengan waktu kejadian yang ada di dunia nyata, waktu faktual, waktu yang mempunyai referensi sejarah. Peristiwa dan alur cerita yang dikisahkan dalam cerita itu berangkat atau mempunyai kesamaan dengan yang ada dan terjadi di dunia nyata. Novel Goosebumps seri Kulit Manusia Serigala ini berlatar waktu kehidupan Eropa sekitar tahun 90-an. Hal ini dibuktikan dengan waktu terbitnya novel ini yaitu sekitar tahun 1998 dan dihubungkan dengan latar tempatnya yaitu di Wolf Creek , sebuah desa di Eropa.
iii. Latar Sosial Budaya
Latar sosial budaya dalam cerita fiksi dapat dipahami sebagai keadaan kehidupan sosial budaya masyarakat yang diangkat ke dalam cerita itu. Novel anak ini berlatar sosial budaya masyarakat Eropa. Hal ini dapat dilihat dari latar tempatnya yang mengambil sebuah desa Eropa sebagai latarnya, sehingga secara otomatis latar sosial budaya yang diambil juga budaya masyarakat Eropa tersebut. Hal lain yang memperkuat pendapat tersebut adalah tradisi Hallowen yang juga menajdi bagian dari pengkisahan ceritanya. Di dalam novel ini diceritakan tentang perayaan tradisi Hallowen, di mana tradisi Hallowen merupakan tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat di Eropa.

f. Sudut Pandang
Dalam novel ini pengarang menggunakan sudut pandang persona pertama “aku”. Tokoh “aku” adalah Alex yang merupakan tokoh utama dari novel anak ini. Alex mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifat batiniah dalam diri sendiri maupun fisik, serta hubungannya dengan sesuatu yang berada di luar dirinya.
Contoh penggunaan sudut pandang “aku” terlihat dari penggalan novel anak Goosebumps seri Kulit Manusia Serigala berikut:
Aku turun dari bus dan langsung memicingkan mata karena silau. Sambil menaungi mata dengan sebelah tangan, aku mencari-cari Paman Colin dan Bibi Marta di pelataran parkir yang kecil itu. Aku tak ingat lagi tampang mereka, aku masih empat tahun, delapan tahun lalu
(Goosebumps 60, 1998:1)
Penggunaan sudut pandang persona pertama “aku” dilakukan pengarang dari awal cerita novel ini sampai akhir cerita atau sampai pada penyelesaiannya.

g. Moral
Moral dapat dipahami sebagai pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca baik secara eksplisit maupun secara implisit. Novel Goosebumps seri ini, mengandung moral yang disampaikan oleh pengarang secara implisit. Pengarang ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa segala sesuatu walaupun sesulit apapun pasti akan dapat diselesaikan dan membuahkan hasil jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, disertai usaha yang keras.
Hal ini dapat dilihta dari usaha Alex yang dengan gigih mencari tahu misteri tentang Mr. dan Mrs. Marling. Alex tidak kenal takut dan berusaha dengan sekuat tenaga menguak kebenaran tentang sebenarnya siapa manusia serigala di Wolf Creek. Akhirnya, diketahuilah siapa manusia serigala yang sebenarnya.

h. Stile dan Nada
Stile dan nada sangat erat kaitannya. Stile berkaitan dengan masalah pilihan berbagai aspek kebahasaan yang dipergunakan dalams ebuah teks kesastraan. Nada merupakan sesuatu yang terbangkitkan oelh pemilihan berbagai bentuk komponen stile tersebut.
Stile pengarang pada novel Goosebumps ini berhubungan dengan cara pengarang mengungkapkan apa yang ingin diceritakan dan disampaikan kepada pembaca. Pengarang mengungkapkannya dengan impilisit. Jalan ceritanya memang disampaikan dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami oleh pembaca yang terutama adalah anak-anak. Akan tetapi, jauh dari itu sebenarnya pengarang ingin menyampaikan suatu hal secara implisit dari cerita yang dikisahkannya tersebut.
Sedangkan nada yang digunakan oleh pengarang pada novel ini adalah dengan menyampaikan cerita secara msiteri. Anak-anak walaupun takut biasanya akan tertarik untuk membaca bacaan yang mengandung hal misteri. Anak akan tertantang untuk mencoba tahu jalan ceritanya.

II. Puisi Anak

a. Puisi I
Judul Puisi : Diam
Pengarang : Afifah Fauzziyah R
Sumber : Kompas Anak Minggu, 20 April 2008

Diam
Diam bukan berarti bisu
Diam bukan berarti kaku
Diam bukan berarti hantu

Orang yang banyak diam adalah orang brilian
Bak air tenang menghanyutkan
Karena dengan baik dia menjaga lisan
Agar terhindar dari dosa perbuatan

Fauziyyah R,
Kelas VI Al-Banna SDIT Abu Bakar Ash-Shidiq, Pati

Puisi berjudul diam di atas termasuk ke dalam puisi lirik. Sesuai dengan pengertiannya bahwa puisi lirik adalah puisi yang menggambarkan suasana hati, jiwa, perasaan, dan pikiran (Nurgiyantoro, 2005:362). Unsur-unsur pembangun dari puisi di atas adalah sebagai berikut:
1. Bunyi
Puisi berjudul “Diam” di atas pendayaan pola bunyi dilakukan lewat persajakan dengan dominan bunyi vokal /u/ pada bait pertama //Diam bukan berarti bisu/ diam bukan berarti hantu/ diam bukan berarti kaku// dan suku kata terakhir yang berakhir dengan /an/ pada bait kedua //Orang yang banyak diam adalah orang brilian/ Bak air tenang menghanyutkan/ Karena dengan baik ia menjaga lisan/ Agar terhindar dari perbuatan dosa//. Sesuai dengan pengertian yang sudah ada bahwa aspek bunyi dalam puisi, selain berfungsi sebagai persajakan dan pendukung arti, juga sekaligus sebagai pembangkit suasana tertentu. Dominan bunyi pada bait pertama dan kedua itu mampu memberikan sugesti terhadap terciptanya suasana dan nada yang tegas yang diungkapkan oleh pengarang.
2. Kata
Kata yang digunakan pengarang untuk menyusun larik-larik puisi di atas menunjukkan kesederhanaan jika dilihat dari bentuk katanya. Seperti yang terlihat pada bait pertama //Diam bukan berarti bisu/ Diam bukan berarti kaku/ Diam bukan berarti hantu//. Kata-kata penyusunnya sederhana tetapi menunjukkan makna yang dalam, pengarang ingin mengungkapkan isi hatinya tentang deskripsi “diam”. Larik-larik yang pendek dan kata-kata yang sederhana juga menimbulkan efek ekspresivitas dari puisi tersebut. Istilah ekspresif menunjuk pada penuturan sesuatu secara serta-merta, apa yang terlintas di hati langsung dilontarkan keluar, tanpa dipikirkan panjang.
3. Sarana Retorika
Sarana retorika di pakai di sini untuk menghidupkan pengekspresian serta untuk memperoleh efek khusus yang bernilai lebih, baik yang menyangkut bentuk-bentuk ekspresi kebahasaan maupun berbagai dimensi makna yang dapat dibangkitkan. Sarana retorika yang dimaksud meliputi bentuk-bentuk pemajasan (figures of thought), citraan (imagery), dan penyiasatan struktur (figures of speech).
Pada puisi berjudul “Diam” di atas, pemajasan yang digunakan pengarang adalah majas perumpamaan. Hal ini tampak pada bait kedua //Orang yang banyak diam adalah orang brilian/Bak air tenang menghanyutkan/Karena dengan baik ia menjaga lisan/Agar terhindar dari perbuatan dosa//. Majas itu diwakilkan dengan kata “bak” yang terdapat pada bais kedua bait kedua. Citraan (imagery) yang tampak pada puisi “Diam” ini adalah citraan penglihatan. Sedangkan penyiasatan struktur yang menghasilkan efek retoris dari puisi ini adalah pengulangan kata “diam”,yang dilakukan secara berturut-turut di tiap baris pada bait pertama.// Diam bukan berarti bisu/diam bukan berarti kaku/diam bukan berarti hantu//.
4. Tema
Tema pada puisi anak biasanya lekat dengan hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Bisa tentang orang tua, guru, teman sepermainan, binatang kesukaan, lingkungan alam, empati terhadap sesama yang menderita dan religiusitas. Puisi berjudul “Diam” di atas berbicara tentang sikap sikap hidup yang biasa ada di lingkungan anak. Jadi bisa dikatakan tema puisi ini adalah tentang sikap dalam kehidupan kita yang lebih khususnya yaitu sikap “diam”.

b. Puisi II
Judul Puisi : Senyuman Hati
Pengarang : Asti Rahman Puspita
Sumber : Kompas Anak Minggu, 30 Maret 2008

SENYUMAN HATI

Kusambut pagi
Dengan hati riang
Senyumku mengembang
Tuk mereka yang datang

Indahnya hari
Menyejukkan sanubari
Terasa hangat
Dari dalam diri

Kubuka mata hati
Melihat setiap insani
Tersenyum riang
Seperti sang mentari

Kuberjalan menurut arah
Tersenyum ke seluruh dunia
Hati senang
Senyum riang

Asti Rahman Puspita
Kelas VIII SMPN 85, Jakarta

Puisi berjudul “Senyuman Hati” di atas termasuk ke dalam puisi lirik. Sesuai dengan pengertiannya bahwa puisi lirik adalah puisi yang menggambarkan suasana hati, jiwa, perasaan, dan pikiran (Nurgiyantoro, 2005:362). Unsur-unsur pembangun dari puisi di atas adalah sebagai berikut:
1. Bunyi
Puisi berjudul “Senyuman Hati” di atas pendayaan pola bunyi dilakukan lewat persajakan dengan dominan bunyi vokal /i/ dan suku kata terakhir yang berakhir dengan /ng/. Sesuai dengan pengertian yang sudah ada bahwa aspek bunyi dalam puisi, selain berfungsi sebagai persajakan dan pendukung arti, juga sekaligus sebagai pembangkit suasana tertentu. Dominan bunyi vokal /i/ dan akhiran /ng/ pada akhir kata di beberapa baris pada puisi di atas, menggambarkan suasana yang riang. Perpaduan bunyi tersebut dapat menambah sugesti kegembiraan yang ingin diungkapkan oleh pengarang.
2. Kata
Kata yang digunakan pengarang untuk menyusun larik-larik puisi di atas menciptakan suatu rangkaian bunyi yang padu. Jika dibaca akan menghasilkan bunyi-bunyi dengan rima yang sama. Hal ini menjadikan bentuk kata-kata tersebut menjadi padu dan membuat makna yang dihasilkan menjadi semakin jelas. Kepaduan kata-kata yang digunakan membuat apa yang ingin disampaikan oleh pengarang tentang isi hatinya menjadi semakin jelas, yaitu bahwa pengarang ingin mengungkapkan kegembiraan di hatinya. Hal ini tampak pada setiap bait, seperti pada bait ketiga berikut ini //Kubuka mata hati/ Melihat setiap insani/ tersenyum riang/ seperti sang mentari//.
3. Sarana Retorika
Sarana retorika di pakai di sini untuk menghidupkan pengekspresian serta untuk memperoleh efek khusus yang bernilai lebih, baik yang menyangkut bentuk-bentuk ekspresi kebahasaan maupun berbagai dimensi makna yang dapat dibangkitkan. Sarana retorika yang dimaksud meliputi bentuk-bentuk pemajasan (figures of thought), citraan (imagery), dan penyiasatan struktur (figures of speech).
Pada puisi berjudul “Senyuman Hati” di atas, pemajasan yang digunakan pengarang adalah majas perumpamaan. Hal ini tampak pada bait ketiga //Kubuka mata hati/ Melihat setiap insani/ tersenyum riang/ seperti sang mentari//. Majas itu diwakilkan dengan kata “seperti” yang terdapat pada bais keempat bait ketiga. Citraan (imagery) yang tampak pada puisi “Senyuman Hati” ini adalah citraan penglihatan. Hal ini dapat dilihat pada bait ketiga //Kubuka mata hati/ Melihat setiap insani/ tersenyum riang/ seperti sang mentari//. Citraan lain yang juga ada pada puisi ini adalah citraan gerak, seperti yang tampak pada bait keempat //Kuberjalan menurut arah/ tersenyum ke seluruh dunia/ hati senang/ senyum riang//. Sedangkan penyiasatan struktur yang menghasilkan efek retoris dari puisi ini adalah pengulangan kata yang berakhiran vokal /i/ dan berakhir dengan /ng/ yang dilakukan berkali-kali sehingga pembaca dapat menangkap aura kegembiraan dari pengarang.
4. Tema
Tema pada puisi anak biasanya lekat dengan hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Bisa tentang orang tua, guru, teman sepermainan, binatang kesukaan, lingkungan alam, empati terhadap sesama yang menderita dan religiusitas. Puisi berjudul “Senyuman Hati” di atas berbicara tentang sikap hidup yang biasa ada di lingkungan anak. Jadi bisa dikatakan tema puisi ini adalah tentang lingkungan alam sekirtar dan sikap yang ada di lingkungan tersebut. Lebih khususnya lagi, puisi ini berbicara tentang “kegembiraan” atau keriangan dunia anak-anak.


III. Buku Informasi
Judul Buku : Pendengaran
Ilustrasi : Mike Gordon
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo

a. Ringkasan
Mendengar berbagai suara di sekitar kita. Apa yang kita dengar? Beberapa suara terdengar tenang dan damai. Beberapa suara terdengar keras dan bising. Beberapa suara membuat kita bahagia. Beberapa suara membuat kita marah. Suara merambat melalui udara, tetapi kita tidak dapat melihatnya. Kita memakai telinga untuk mendengar. Bagian luar telinga kita menangkap suara dan mengirimnya ke dalam lubang telinga. Lubang ini mengarah ke saluran yang menuju bagian dalam telinga. Di akhir saluran terdapat selaput tipis. Selaput ini terbentang dari ujung saluran, seperti selaput gendang. Oleh karena itu, saluran ini disebut gendang telinga.
Gendang telinga akan bergetar ketika terkena suara, seperti saat kalian memukul genderang. Ketika gendang telinga bergetar, tulang kecil di dalamnya juga akan ikut bergetar. Tulang-tulang kecil ini mengirim pesan ke otak lewat pipa panjang melingkar yang disebut rumah siput. Pesan-pesan itu menuju ke otak melewati lintasan khusus yang disebut urat syaraf. Kemudian, otak akan menentukan jenis suaranya. Beberapa binatang, mempunyai pendengaran yang lebih baik dari manusia. Kelinci mempunyai telingan panjang , sangat bagus pendengarannya. Ia dapat menggerakkannya untuk menemukan raha datangnya suara.Anjing dapat menggerakkan telinga untuk menangkap suara lebih mudah. Pendengaran anjing bagus, karena dapat mendeteksi suara yang tidak didengar oleh manusia.
Saat kita flu, kita tidak dapat mendengar dengan baik karena telinga tersumbat. Tunarungu, tidak dapat mendengar sama sekali, ia memakai alat bantu khusus. Dia dapat melihat lawan bicara untuk tahu kalimat yang diucapkan. Suara keras dapat merusak telinga, gendang telinga. Oleh karena itu gendang telinga harus dijaga. Beberapa orang yang bekerja di tempat yang sangat bising harus menggunakan penutup telinga agar pendengarannya tidak rusak.
b. Analisis
Buku informasi adalah buku yang sengaja dirancang sebagai buku pengetahuan bagi anak-anak. Buku berjudul “Pendengaran” ini termasuk ke dalam golongan buku informasi. Buku ini berisi informasi mengenai pendengaran terhadap anak-anak. Informasi dalam buku ini merupakan informasi tentang sains. Cara pengarang menyampaikan informasi kepada pembaca dengan menggunakan teknik narasi, dengan model disertai dengan ilustrasi berupa gambar. Hal ini dilakukan agar informasi mengenai pendengaran yang sebenarnya berat, akan mudah dipahami oleh anak-anak dan tampak sebagai pengetahuan yang ringan. Dengan cara ini, anak-anak menjadi kaya akan pengetahuan sejak kecil dan dengan mudah memahami pengetahuan baru tersebut.
Adanya ilustrasi dan narasi juga tone yang dipilih oleh pengarang melalui bahasa dan kata-kata yang familiar dalam menyampaikan pengetahuan tersebut dapat melibatkan emosi anak ke dalam bacaan. Cara yang digunakan pengarang dalam buku ini, membuat anak-anak tidak merasa digurui oleh pengarang. Fakta yang ada di dalam buku tentang “pendengaran” ini dapat dibuktikan dan dapat dipertanggungjawabkan. Isi buku ini dapat di sinkronkan dengan buku-buku pengetahuan dengan topik yang serupa tetapi yang tidak untuk anak-anak sehingga isi buku ini sudah sesuai dan tidak menyesatkan pikiran anak-anak sebagai pembacanya.

BAB IV
KESIMPULAN

Sastra anak memiliki kontribusi yang besar bagi perkembangan kepribadian anak dalam proses menuju ke kedewasaan sebagai manusia yang mempunyai jati diri yang jelas. Kepribadian atau jati diri seorang anak dibentuk dan terbentuk lewat lingkungan baik diusahakan secara sadar maupun tidak sadar. Sastra anak berkontribusi dalam perkembangan emosional, perkembangan intelektual, perkembangan imajinasi, pertumbuhan rasa sosial anak serta pertumbuhan rasa esetetik dan religius anak.
Kajian terhadap karya-karya tentang sastra anak sangat penting dilakukan. Hasil kajian dari karya sastra tersebut dapat digunakan sebagai parameter apakah karya tersebut layak untuk dibaca anak-anak atau hanya labelnya saja “sastra anak”. Dengan mengetahui apakah karya itu layak disebut karya sastra anak atau tidak, akan membantu kita untuk memberikan bacaan bermutu bagi anak-anak sehingga otak anak-anak tidak teracuni dengan hal-hal yang belum layak untuk mereka ketahui.

DAFTAR PUSTAKA

Nurgiyantoro, Burhan . 2005. Sastra Anak. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
__________________. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

0 komentar: