Pencitraan organisasi yang kurang.
Ikatan Pelajar Muhammadiyah jika ditilik dari segi sejarah merupakan organisasi tua -48 tahun- dan dari segi akar rumput sangatlah mengakar dan menyebar seantero nusantara. Ada belasan ribu Ranting dalam lima ratusan Daerah. Cukup menjadikan berbangga jika dilihat secara capaian idealistis. Walau hal tersebut masih menjadi masalah pelik sekaligus mengakar tentang pencitraan dan tingkat keberterimaan pelajar terhadap organisasi berwarna khas kuning ini.
Diakui, PP Muhammadiyah telah berhasil menelorkan peraturan meng-IPM-kan seluruh organisasi pelajar Muhammadiyah di sekolah menengah Muhammadiyah. Namun, pada kenyataannya masalah identitas belumlah selesai begitu saja di kalangan Ranting. Jangan lagi ditanya tentang kinerja atau pengabdian IPM terhadap anggota sendiri. Di Kota Yogyakarta sendiri, masalah ruh gerakan dan profesionalitas kinerja pimpinan IPM se-Kota Yogyakarta yang rendah serta kurangnya konsep gerakan IPM untuk pelajar SMP yang kadang malah membebani pembina IPM dan membingungkan pimpinannya. Hal ini menunjukkan, IPM di rumah sendiri saja belum berhasil diterima dengan baik. Masih berat untuk memaksimalkan peran apalagi untuk mengembangkan di ”luar rumah”.
Perkaderan untuk seni atau seni untuk perkaderan?
Alur perkaderan IPM yang lebih banyak meminta bukannya memberi. Anehnya, Taruna Melati 1 selalu di awal, mendasari bukannya mengokohkan proses yang sedang berlangsung. Jadi, pelajar yang akan mengenal IPM langsung diideologisasi tanpa diberi kesempatan untuk mengambil maslahat lebih, menimbang apakah IPM tepat di hati maupun pikiran, dan apakah IPM dirasa pantas mengembangkan potensinya. Hal inilah malah yang menyebabkan IPM masa aktifnya banyak untuk permusyawaratan, perencanaan, pembelajaran, belum sempat mengembangkan ruh gerakan, terutama dalam bidang seni dan olah raga. Jadi, seniman dan olah ragawan IPM sekarang ahli diskusi tanpa karya dan prestasi. Kalau pun ada, itu satu dua, itupun bukan karena dia aktif di IPM kemudian ahli berseni dan berolah raga. Mana gerakan seni dan olah raga kita?
Padahal, jika kita berani jujur melihat kecenderungan pelajar yang notebene remaja, seni dan olah ragalah yang paling disukai mereka. Walau belum ada penelitian yang menyebutkan seberapa besar tingkat antusiasme mereka tetapi, kita bisa membandingkan antara penonton konser ungu dengan pengajian akbar pembicaranya Prof. Dien Syamsudin,atau nonton bareng final liga Champions dengan nonton bareng kajian kristologi. Tentu orang akan menjawab: menonton ungu dan final liga camphion lebih banyak karena memang lebih asyik.
Pembahasan :
Perkaderan
Ikatan Pelajar Muhammadiyah dalam perjalanannya memang membutuhkan energi yang cukup besar untuk membuat Ikatan menjadi lebih dewasa dan sigap menanggapi segala problem yang ada terutama kaderisasi. Tolak ukur keberhasilan kemudian menjadi poin penting yang diharapkan mampu mengatasi segala permasalahan kader yang menjadi inti penggerak Ikatan. Jika Ikatan tidak merancang dan menyiapkan para kadernya secara sistematis dan organisatoris, maka dapat dipastikan bahwa Ikatan sebagai organisasi akan menjadi stagnan dan tidak berkembang, sehingga tidak memiliki prospek yang jelas. Karena itu, Ikatan harus mempunyai konsep yang jelas, terencana dan sistematis dalam menyiapkan dan mengembangkan suatu sistem yang menjamin keberlangsungan transformasi dan regenerasi kader.
Ada banyak teori perkaderan yang kesemuanya merupakan proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader. Dalam proses pembinaan kader itulah ada 3 cara yang harus dilakukan dan ditekuni. Pertama pelatihan. Tidaklah disebut pelatihan bila hanya pemberian teori atau informasi. Memberikan keteladanan dan melibatkan (mengikutsertakan atau menugaskan) adalah bagian dari pelatihan. Kasus Hasan dan Hussein berdakwah amaliyah ketika melihat seorang kakek tua salah dalam berwudu adalah contoh bentuk pelatihan.
Kedua supervisi. Supervisi merupakan kelanjutan dari pelatihan. Kader-kader yang sudah diberi pengarahan dan diikutsertakan dalam pelatihan (berupa pembiasaan dan penugasan) kemudian diikuti perkembangannya lewat pemantauan dan evaluasi (mutabaah). Ada pelatihan khusus, yaitu Taruna Melati dimana dikelola melalui jenjang struktural yang sudah menerapkan konsep monitoring tetapi, selama ini masih belum menjadi dasar analisis kader untuk pengembangan selanjutnya. Supervisi akan sangat bermanfaat untuk tercapainya pembentukan kader yang berkualitas tinggi. Memasuki era globalisasi kader-harus dibiasakan untuk berinteraksi dengan realitas publik. Mereka akan belajar dari kegagalan dan keberhasilan dalam berinteraksi dengan masyarakat luas yang heterogen. Kader-kader kita harus dibiasakan dengan dinamika kelompok agar mereka lebih dewasa dalam menyikapi berbagai qadhaya (tidak over reaktif = kaget-kagetan, ora gumunan). Menjadi tugas para tim fasilitator pendampinglah untuk memantau sepak terjang mereka. Menegur, meluruskan dan memberi penilaian (kritik, masukan juga penghargaan) atas aktivitas sehari-hari mereka.
Ketiga doa. Betapa harus kita akui bahwa kadang kala proses pembentukan yang kita jalankan tidak membawa hasil yang memuaskan. Sekian lama kita membina sejumlah individu, namun tidak terlihat perkembangan yang cukup berarti pada diri mereka. Tindak lajut demi Tindak lajut misalnya sekolah kader disertai supervisi ternyata belum cukup mengubah jati diri mereka. Maka dalam kondisi ini sudah selayaknya kita mengerahkan segenap upaya dengan memperbanyak doa. Harus terus kita sadari bahwa Allah lah yang memberi hidayah, bukan kita. “Sesungguhnya engkau tidak bisa memberi hidayah kepada orang yang kau cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi hidayah kepada orang-orang yang dikehendakinya dan Allah lebih mengetahui siapa yang mau menerima hidayah.”(28:56)
Dalam proses kaderisasi itu merupakan upaya untuk menumbuhkan kesadaran berorganisasi, mengakui bahwa IPM sebagai organisasi adalah merupakan wadah dan alat perjuangan semata untuk mengamalkan dan memperjuangan tegaknya nilai-nilai ajaran Islam, dan bukan merupakan tujuan dari perjuangan itu sendiri. Lalu menumbuhkan Keahlian atau berkemampuan sebagai subyek dakwah, yang memiliki wawasan luas, menguasai teknologi informasi sebagai media dan bagian dari strategi dakwah.
Hingga akhirnya terbentuk kader IPM yang memiliki ruh (spirit) serta mempunyai integritas dan kompetensi untuk berperan di Ikatan, dalam kehidupan pelajar dan dinamika bangsa serta konteks global.
Pengembangan seni untuk pencitraan.
Di dalam IPM saat ini belumlah memiliki ruh jelas tentang konsep seni yang akan diusung, atau setidaknya ada yang menjadi isu massal pelajar Muhammadiyah se-Indonesia yang itu bersifat sederhana namun bisa booming. Untuk itu sepertinya perlu pengkajian dan pengembangan konsep seni budaya menurut visi misi IRM untuk menghasilkan langkah-langkah strategis pengembangan dakwah seni yang lebih diterima.
Perlu ditekankan, keberadaan seni di lingkungan Muhammadiyah bukanlah suatu hal yang kosong tetapi, kurang sentuhan manajemen dan promosi. Hal ini mengakibatkan keberadaannya lebih sering ditelan waktu daripada ditelan pasar seni. Banyak sekali potensi yang dimiliki, namun hal itu belumlah milik IPM karena IPM belum mampu memberikan apa-apa di sana. Wajar saja kemudian para pelaku seni di lingkungan Muhammadiyah tidak kenal dan mengenalkan IPM padahal mereka sudah terkenal.
Untuk itu, sangat dibutuhkan pengoptimalan kegiatan yang bertujuan untuk mengapresiasikan kreatifitas para kader dalam bidang seni dan budaya sehingga terwujud kader kreatif. IPM di tingkatan daerah dan wilayah tidaklah harus mengembangkan seni pada taraf mikro, sudah luar biasa jika sudah bisa mengkoordinasikan potensi dalam daerah masing-masing. Jadi, dari potensi yang tersebar itu kemudian IPM daerah bersama dengan ranting setempat memberikan kontribusi aktif dalam pengelolaan dan pengembangannya. Akhirnya, akan muncul grup teater besar menghasilkan rendra Muhammadiyah, komunitas pelukis handal melahirkan afandi yang Muhammadiyah, satrawan Chairil Anwar Muhammadiyah, dan tak lupa Andrea Hirata muda dari amal usaha Muhammadiyah yang terbatas pula?!
Pengembangan olah raga sebagai penguatan emosional.
Ada satu hal lagi yang juga menyedot perhatian, minat, dan bakat pelajar Muhammadiyah: olah raga. Hal ini siapapun suka. Bahkan Prof. Dien Syamsudin pun berkali-kali bertanding bola persahabatan untuk refreshing dan mengakrabkan emosional. Padahal, potensi yang kita miliki sangatlah banyak dengan kemampuan yang kadang mencapai profesional. Kita tidaklah terlalu berharap sampai seberapa profesional pelajar kita. Namun, kita cukup memaksimalkan pengembangan olah raga ini sebagai wahana pengenalan IPM dan proses interaksi pimpinan dengan anggota saja, itu suda syukur.
Walau tidak boleh dikesampingkan, pengoptimalan kegiatan yang diarahkan pada penyaluran dan pembinaan minat dan bakat remaja di bidang olah raga haruslah diprioritaskan. Remaja sebagai masa peralihan tentunya membutuhkan pilihan yang tak cukup hanya tiga untuk menentukan sampai seberapa tepatkah minat yang dimiliki dengan apa yang ditekuni. Makanya itu, pemberian wadah minat inilah yang bisa menampung segala rupa minat kader yang tentunya tidak semuanya memiliki pengetahuan dan kemampuan tentang mengembangkan IPM. Sekali lagi, itu tidak masalah. Yang penting para peminat bakat-bakat tertentu ini mengenal labih dekat IPM melalui pencitraan generasi pelajar cinta seni dan olah raga.
Untuk lebih mengembangkan, butuh penjalinan kerjasama dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan olah raga. IPM saat ini sangatlah terbatas tenaga pembimbing minat dan bakat, tentunya akan sangat lebih baik jika kekurangan tersebut diatasi dengan jalinan kerjasama. Diharapkan nanti kader-kader utama IPM juga memiliki kompetensi unggul dalam ranah olah raga dan bisa menularkannya kepada anggota-anggota. Atau setidaknya IPM mampu menawal gerak olah raga oleh dan untuk IPM ini tetap berlangsung dengan atau tanpa meminta bantuan pihak dari luar tadi.
Yang paling disukai dari peminat olah raga sampai olah ragawan adalah kompetisi yang di dalamnya ada bentuk apresiasi terhadap prestasi-prestasi. Karena selain termotivasi untuk lebih mengembangkan kemampuan, peningkatan kualitas mental bertanding, tentunya apresiasi juga sangat penting bagi penumbuhan minat pelajar yang aktif dalam bidang olh raga.
Tak ayal lagi,even olah raga harus ada dalam setiap level! Dari ranting sampai pusat, karena perlombaan seperti ini juga mengenal penjenjangan sehingga akan muncul the real choosen people dari pelajar Muhammadiyah di Indonesia ini. Pelaksanaan evennya pun haruslah periodik, misalnya setiap tahun sekali, dimulai dari ranting hingga pusat secara berurutan dan berjenjang tentunya. Sehingga pencitraan yang dilakukan lebih massif dan pembinannya pun lebih tertata karena adanya kontinyuitas program baik itu dari ranting sampai pusat dan dilaksanakan setiap tahun.
Nah, aktifitas seni dan olah raga merupakan aktifitas ”luar ruangan” yang penuh dengan tawa dan canda dalam pelaksanaannya, menjadikan pelakunya sehat dan segar baik badan maupun pikirannya. Tak perlulah mengernyitkan dahi hanya untuk mengingat-ingat rumus nada lagu, tak perlu hafalan semalam untuk pertandingan final futsal beok pagi, dan yang pasti hemat biaya namun sangat menguntungkan.
Perlu diingat dan ditekankan, aktifitas-aktifitas kaderisasi banyak sekali di ruangan. Misalnya Taurna Melati miliknya perkaderan, penelitian maupun jurnalistik miliknya PIP, apalagi Kajian miliknya bidang KDI. Hal ini cukup menjadikan momok paling menybalkan dan penolak minat paling efektif bagi para penikmat pemula IPM. Apalagi saat ini Taruna Melati lebih bayak dijadikan sebagai gerbang welcome, padalah seharusnya Taruna Melati menjadi gerbang ”selamat berjuang”. Kegiatan ”dalam ruangan” ini ya wajar jika kekurangan peserta. Makanya, untuk meningkatkan minat dan julah peserta sebaiknya IPM lebih mendekatkan terlebih dahulu aktifitas ”luar ruangan” untuk memikt labih anyak dan lebih baik.
Mungkin sekali ikut aktifitas seni maupun olah raga, biasanya muncul keinginan mencoba lagi kemudian lama-lama kenal dekat dengan IPM baik secara struktural maupun personalia pimpinan IPM. Sehingga akan lebih mudah mengajak mengikuti aktifitas-aktifitas ”ruangan” yang notebene menjemukan.
Kondisi ini menunjukkan perbedaan, dimana kondisi pertama lebih menitik beratkan pada ideologisasi kemudian pemberian keahlian berorganisasi khususnya dalam bidang seni dan olah raga, sedangkan posisi satunya lagi lebih mengedepankan tingkat kebernyaman dalam beraktifitas berorganisasi dengan meningkatkan ikatan emosional dengan aktifitas-aktifitas seni dan olah raga, sehingga memunculnya rasa cinta IPM, siap menerima ilmu dan pengalaman dari IPM serta siap mengajarkan apa-apa yang didapat di IPM.
Hal inilah yang sering IPM lupakan, lebih sering ideologisasi tanpa memaslahatkan keberadaannya dengan menampung aktifitas dakwah dari minat dan bakat yang sebegitu luasnya, yaitu seni dan olah raga.
2 komentar:
Assalamu'alaikum Wr.Wb
bersatu berpadu menjalin ukhuwah.....
didalam ikatan Pelajar Muhammadiyah..
termpil berilmu berakhlak mulia.....
pelopor dan pelangsung penyempurna amanah......
berjuang dengan sekuat tenaga tegakkan islam yang utama.....
menjadi kader yang siap sedia.....
untuk umat dan bangsa....
berdiri tegkalah tampilah dimuka.....
ikrarkan bersama IPM berjaya........
sip.
berjuang sekuat tenaga untuk IPM kreatif!
Poskan Komentar