Teori dan Produk Membaca Sintopis
Disusun untuk Memenuhi Tugas akhir semester Mata Kuliah
Membaca Kritis, Kreatif, dan Sintopis
Dengan dosen Pengampu Siti Nurbaya, M. Si.
Disusun oleh
Hamdan Nugroho
07201241024
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2009
TEORI MEMBACA SINTOPIS
1. Pengetian Membaca Sintopis
Sebuah topik yang menarik pasti akan diminati banyak orang. Forum-forum diskusi diselenggarakan untuk mendiskusikan topik tersebut. Banyak orang menulis artikel atau esai tentang topik tersebut. Tentu saja secara otomatis ada banyak bahan bacaan yang membicarakan topik yang menarik tersebut atau yang menarik perhatian banyak orang. Konsekuensi lanjut dari situasi ini adalah adanya beberapa sudut pandang dari beberapa penulis tentang topik tersebut karena penulis punya kebebasan untuk mengekspresikan ide atau gagasannya.
Membaca sintopis atau syntopical reading merupakan jenis membaca dengan membanding-bandingkan ide mengenai topik yang sama pada beberapa teks atau bahan bacaan. Menurut Adler dalam bukunya How to Read a Book menerangkan bahwa membaca banding-banding adalah jenis membaca yang bertujuan untuk membaca beberapa materi bacaan dengan topik yang sama atau yang berkaitan sekaligus untuk menyusun suatu pemecahan masalah yang dihadapi pembaca.
2. Langkah-langkah Membaca Sintopis
Masih menurut Adler, ada dua tahap pokok membaca sintopis. Tahap pertama adalah tahap persiapan membaca dan tahap kedua adalah tahap kegiatan membaca. Berikut uraian langkah-langkah dari masing-masing tahap membaca sintopis.
a. Tahap persiapan
i. Membuat bibliografi untuk sumber pustaka atau literatur yang akan dipakai yang tentu saja memiliki topik pokok yang sama (dari katalog perpustakaan, buku, internet, dll).
ii. Membaca secara inspeksional bahan bacaan yang telah terkumpul untuk memperoleh ide yang lebih jelas tentang materi yang akan dipakai.
b. Tahap membaca
i. Membaca secara inspeksional bahan bacaan yang digunakan seperti tahap a.ii untuk menemukan bagian yang paling penting dan relevan.
ii. Membawa penulis menuju masalah dengan mengkonstruksi terminologi netral dari subjek.
iii. Membangun serangkaian proporsi netral untuk semua penulis dengan membuat kerangka pertanyaan untuk masing-masing ide.
iv. Mendefinisikan isu atau ide baik besar maupun kecil dengan membuat jarak antara jawaban penulis dengan beberapa pertanyaan untuk masing-masing ide. Kadang-kadang isu atau ide ini tidak secara eksplisit dinyatakan dalam teks.
v. Menganalisis topik dengan memberi pertanyaan dan ide dengan beberapa cara untuk mendapat keterangan yang lebih jelas dari materi. Ide pokok atau umum harus didahulukan dan relasi antar ide harus jelas.
Dalam kegiatan membaca sintopis, studi atau kajian terhadap bahan bacaan harus dilakukan secara hati-hati, teliti, mendalam, dan menyeluruh. Pembaca dituntut untuk melakukan studi komparasi yang detil dan dapat dipertanggungjawabkan. Masing-masing sumber atau bahan bacaan semestinya dicari persamaan dan perbedaannya yang terangkum dalam sintesis dari pembaca itu sendiri.
PRODUK MEMBACA SINTOPIS
A. Judul
Judul dari karya tulis ini adalah “Pembelajaran Menulis Cerpen dengan Strategi 3M Siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta ”.
B. Latar Belakang Masalah
Menulis merupakan wujud kemahiran berbahasa yang mempunyai manfaat besar bagi kehidupan manusia, khususnya para siswa. Dengan menulis siswa dapat menuangkan segala keinginan hati, perasaan, keadaan hati di saat susah dan senang, sindiran, kritikan dan lainnya. Tulisan yang baik dan berkualitas merupakan manifestasi dan keterlibatan aktivitas berpikir atau bernalar yang baik. Hal ini dimaksudkan bahwa seorang penulis harus mampu mengembangkan cara-cara berpikir rasional. Pada saat melakukan aktivitas menulis, siswa dituntut berpikir untuk menuangkan gagasannya berdasarkan skemata, pengetahuan, dan pengalaman yang dimiliki secara tertulis. Aktivitas tersebut memerlukan kesungguhan untuk mengolah, menata, mempertimbangkan secara kritis gagasan yang akan dicurahkan dalam bentuk tulisan atau karangan.
Jadi pada dasarnya, keterampilan menulis merupakan serangkaian aktivitas berpikir menuangkan gagasan untuk menghasilkan suatu bentuk tulisan. Secara lebih mendalam, Akhadiah (1994:2-3) menyatakan bahwa aktivitas menulis yang dimaksud adalah aktivitas untuk mengekspresikan ide, gagasan, pikiran atau perasaan ke dalam lambing-lambang kebahasaan. Secara lebih luas, Rofi’udin (1997:16) menjelaskan tahapan menulis meliputi, tahap pra-menulis, penulisan draf (pengedrafan), revisi/perbaikan, penyuntingan, dan pubilikasi. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa menulis sebagai proses melalui tiga tahap yakni tahap pramenulis, menulis, dan pascamenulis. Pada tahap pramenulis yang dilakukan menulis adalah menyusun draf sampai batas menulis kerangkan tulisan, selanjutnya tahap menulis draf kasar dan yang terakhir tahap pasaca menulis yang meliputi tahap revisi, menyunting, bahkan mengikuti uji coba.
Di SMA, keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan yang ditekankan pembinaannya. Aspek menulis difokuskan agar siswa mampu mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam menyusun karangan, menulis surat pribadi, meringkas buku bacaan, membuat poster, dan menulis catatan dalam buku harian. Sedangkan pada kemampuan bersastra, standar kompetensi aspek menulis dijadikan satu dengan aspek keterampilan lainnya, yakni siswa mengapresiasi ragam sastra anak melalui mendengarkan dan menaggapi cerita pendek, menulis prosa sederhana, memerankan drama anak tanpa teks, dan menulis puisi bebas (Depdiknas, 2006:16).
Dari pembelajaran menulis cerpen diharapkan siswa memiliki kompetensi untuk menyusun karangan dan menulis prosa sederhana. Setelah mengikuti pembelajaran tersebut siswa diharapkan mampu menyebutkan beberapa pengalaman yang menarik (menyenangkan, tidak menyenangkan, mengharukan, dsb), memilih salah satu, dan merinci segi-segi yang hendak diuraikan tentang satu pengalaman itu, menyusun kerangka cerita, dan mengembangkan kerangka cerita pengalaman menjadi cerita yang utuh dan padu. Dengan prosa sederhana inilah yang bisa dikembangkan menjadi bentuk cerita lainnya, salah satunya cerita pendek (cerpen).
Siswa bisa dianggap lulus dalam pembelajaran jika mampu (1) menentukan tema, (2) mengembangkan alur (awal, tengah, dan akhir), (3) menggambarkan karakter tokoh melalui dialog, monolog, dan komentar pengarang, (4) mendeskripsikan latar dengan menunjukkan bukti paragraph deskripsi, (5) mengembangkan cerita melalui dialog, narasi, dan komentar pengarang, dan (6) merevisi hasil cerpen dengan memperhatikan pilihan kata, tanda baca, dan ejaan, dan mempublikasikan hasil karya secara tertulis dan lisan.
Pembelajaran menulis cerita pendek (cerpen) penting bagi siswa, karena cerpen dapat dijadikan sebagai sarana untuk berimajinasi dan menuangkan pikiran. Menurut Widyamartaya (2005:102) menulis cerpen ialah menulis tentang sebauh peristiwa atau kejadian pokok. Selain iut, menurut Widyamartaya (2005: 96) menulis cerpen merupakan dunia alternatif pengarang. Sedangkan Sumardjo (2001: 84) berpendapat bahwa menulis cerita pendek adalah seni, keterampilan menyajikan cerita. Berdasarkan tiga pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa menulis cerpen merupakan seni/keterampilan menyajikan cerita tentang sebuah peristiwa atau kejadian pokok yang dapat dijadikan sebagai dunia alternatif pengarang.
Kemampuan menulis cerpen yang dimiliki siswa tidaklah sama. Sebagian siswa mampu menulis cerpen dengan baik dan sebagian siswa yang lain masih belum mampu menulis cerpen dengan baik. Kondisi ini diperburuk dengan rendahnya minat menulis siswa. Dari beberapa sebab rendahnya kulaitas menulis siswa maka dapat disimpulkan bahwa perlu adanya penanganan khusus dalam pembelajaran menulis siswa sekolah menengah pertama. Inti penanganan tersebut adalah diperlukannya suatu strategi pembelajaran menulis yang efektif dan efisien bagi siswa. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, guru memegang peranan yang penting dalam pembelajaran, sehingga strategi pembelajaran dijadikan sebagai inti penanganan dalam memperbaiki pembelajaran.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan merencanakan strategi pembelajaran yang menarik. Berdasarkan pertimbangan tersebut, peneliti berusaha untuk memberikan alternatif strategi pembelajaran menulis yang kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan fasilitas yang ada. Strategi pembelajaran yang ditawarkan dilandasi oleh strategi copy the master. Ide ini diperkuat pendapat bahwa strategi copy of master adalah strategi pemodelan yang dekat dengan calon penulis. Adanya model yang dekat dengan penulis berarti memudahkan penulis untuk memulai kegiatan menulis.
Strategi copy the master tersebut selanjutnya dikembangkan menjadi strategi menulis cerpen yang diberi nama strategi 3M (Meniru-Mengolah-Mengembangkan). Tahapan dalam strategi 3M adalah tahapan meniru, mengolah, lalu mengembangkan. Adapun subjek penelitian adalah SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta berdasarkan pertimbangan bahwa sekolah ini memerlukan pemberian alternatif dalam strategi pembelajaran. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis akan melakukan penelitian yang berjudul “Pembelajaran Menulis Cerpen dengan Strategi 3M Siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta ”.
C. Identifikasi Masalah
Permasalahan yang muncul berkaitan dengan latar belakang masalah dapat diidentifikasikan sebagai berikut.
1. Penggunaan metode pembelajaran strategi 3M untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen Siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada tahap Meniru.
2. Penggunaan metode pembelajaran strategi 3M untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen Siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada tahap Mengolah.
3. Penggunaan metode pembelajaran strategi 3M untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen Siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada tahap Mengembangkan.
4. Keefektifan penggunaan penggunaan metode pembelajaran strategi 3M untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen Siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta
D. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, peneliti kemudian membatasi masalah pada nomor satu, dua, dantiga5 yaitu sebagai berikut.
1. Penggunaan metode pembelajaran strategi 3M untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada tahap Meniru.
2. Penggunaan metode pembelajaran strategi 3M untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada tahap Mengolah.
3. Penggunaan metode pembelajaran strategi 3M untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada tahap Mengembangkan.
E. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada identifikasi masalah, masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. Secara umum masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah meningkatkan pebelajaran menulis cerpen dengan strategi 3M (Meniru-Mengolah-Mengembangkan) di kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Secara khusus masalah dalam penelitian ini sebagai berikut
1. Bagaimanakah penggunaan metode pembelajaran strategi 3M (untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada tahap Meniru?
2. Bagaimanakah penggunaan metode pembelajaran strategi 3M untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada tahap Mengolah?
3. Bagaimanakah penggunaan metode pembelajaran strategi 3M (untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada tahap Mengembangkan?
F. Kajian Teori
Dalam bagian ini secara berurutan diuraikan sebagai berikut: (1) cerita pendek yang meliputi, (a) pengertian cerita pendek (cerpen) dan (b) unsur-unsur pembangun cerita pendek, (2) menulis cerpen meliputi, (a) hakikat menulis cerpen, (b) tahapan menulis cerpen, (3) pembelajaran menulis cerpen yang meliputi, (a) materi pembelajaran menulis cerpen, dan (b) strategi menulis cerpen dengan strategi 3M.
1.1 Cerita Pendek (cerpen)
2.1.1 Pengertian Cerita Pendek (cerpen)
Sebagai salah satu bagian dari karya sastra, cerita pendek (cerpen) memiliki banyak pengertian. Berikut pendapat beberapa ahli tentang pengertian cerita pendek (cerpen). Sumardjo (2001: 91) mengungkapkan bahwa cerita pendek adalah seni, keterampilan menyajikan cerita, yang di dalamnya merupakan satu kesatuan bentuk utuh, manunggal, dan tidak ada bagian-bagian yang tidak perlu, tetapi juga ada bagian yang terlalu banyak. Semuanya pas, integral, dan mengandung suatu arti. Adapun Edgar Allan Poe dalam Nurgiyantoro (1995: 10) mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam-suatu hal yang kiranya tak mungkin dilakukan untuk novel.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian cerpen adalah cerita fiksi (rekaan) yang memiliki tokoh utama yang sedikit dan keseluruhan ceritanya membentuk kesan tunggal, kesatuan bentuk, dan tidak ada bagian yang tidak perlu.
Sifat umum cerpen ialah pemusatan perhatian pada satu tokoh saja yang ditempatkan pada suatu situasi sehari-hari, tetapi yang ternyata menentukan (perubahan dalam perspektif, kesadaran baru, keputusan yang menentukan). Tamatnya seringkali tiba-tiba dan bersifat terbuka (open ending). Dialog, impian, flash-back dsb. sering dipergunakan (pengaruh dari film). Bahasanya sederhana tetapi sugestif. (Hartono dan B. Rahmanto, 1986: 132).
2.1.2 Unsur-Unsur Pembangun Cerpen
Cerpen sebagai salah satu jenis prosa fiksi memiliki unsur-unsur yang berbeda dari jenis tulisan yang lain. Tompkins dan Hoskinson (dalam Akhadiah 1994: 312) berpendapat bahwa unsur-unsur sebuah cerpen terdiri atas (1) permulaan/pengantar, tengah/isi, dan akhir cerita, (2) pengulangan atau repetisi, (3) konflik, (4) alur/plot, (5) latar/seting, (6) penokohan, (7) tema, dan (8) sudut pandang penceritaan. Cerpen yang baik memiliki keseluruhan unsure-unsur yang membangun jalan cerita yang memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik meliputi tema, penokohan, alur/plot, latar/seting, gaya bahasa, dan sudut pandang penceritaan. Adapun Suroto (1990: 88) berpendapat bahwa cerpen pada dasarnya dibangun atas unsur-unsur tema, amanat, perwatakan, latar, dialog, dan pusat pengisahan. Sedangkan Nurgiyantoro berpendapat (1995: 12) unsur-unsur novel memang lebih rinci daripada novel namun memiliki kesamaan, yaitu plot, tema, penokohan, dan latar.
Berdasarkan pendapat tentang unsur-unsur pembangun cerpen di atas dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur pembangun cerpen terdiri atas tema, perwatakan, seting, rangkaian peristiawa/alur, amanat, sudut pandang, dan gaya. Adapun semua unsur tersebut berjalinan membentuk makna baru.
2.2 Menulis Cerpen
2.2.1 Hakikat Menulis Cerpen
Menulis cerpen pada hakikatnya sama dengan menulis kreatif sastra yang lain. Adapun pengertian dari menulis kreatif sastra. Menurut Perey (dalam Mulyati, 2002) menulis kreatif sastra adalah pengungkapan gagasan, perasaan, kesan, imajinasi, dan bahasa yang dikuasai seseorang dalam bentuk karangan. Tulisan yang termasuk kreatif berupa puisi, fiksi, dan non fiksi. Sedangkan menurut Roekhan (1991: 1) menulis kreatif sastra pada dasarnya merupakan proses penciptaan karya sastra. Proses itu dimulai dari munculnya ide dalam benak penulis, menangkap dan merenungkan ide tersebut (biasanya dengan cara dicatat), mematangkan ide agar jelas dan utuh, membahasakan ide tersebut dan menatanya (masih dalam benak penulis), dan menuliskan ide tersebut dalam bentuk karya sastra. Jadi menulis kreatif sastra adalah suatu proses yang digunakan untuk mengunkapkan perasaan, kesan, imajinasi, dan bahasa yang dikuasai seseorang dan pikiran seseorang dalam bentuk karangan baik puisi maupun prosa.
Dari beberapa pengertian di atas dapat diketahui bahwa hakikat menulis cerpen adalah suatu proses penciptaan karya sastra untuk mengungkapkan gagasan, perasaan, kesan, imajinasi, dan bahasa yang dikuasai seseorang dalam bentuk cerpen yang ditulis dengan memenuhi unsur-unsur berupa alur, latar/seting, peratakan, dan tema.
2.2.2 Tahapan Menulis Cerpen
Pembelajaran menulis cerpen melalui empat tahap proses kreatif menulis yaitu (1) tahap persiapan, (2) tahap inkubasi, (3) tahap saat inspirasi, dan (4) tahap penulisan. Pada tahap persiapan, penulis telah menyadari apa yang akan ia tulis dan bagaimana menuliskannya. Munculnya gagasan menulis itu membantu penulis untuk segera memulai menulis atau masih mengendapkannya. Tahap inkubasi ini berlangsung pada saat gagasan yang telah muncul disimpan, dipikirkan matang-matang, dan ditunggu sampai waktu yang tepat untuk menuliskannya. Tahap inspirasi adalah tahap dimana terjadi desakan pengungkapan gagasan yang telah ditemukan sehingga gagasan tersebut mendapat pemecahan masalah. Tahap selanjutnya adalah tahap penulisan untuk mengungkapkan gagasan yang terdapat dalam pikiran penulis, agar hal tersebut tidak hilang atau terlupa dari ingatan penulis (Sumardjo, 2001: 70).
Dari pernyataan tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa menulis cerpen sebagai salah satu kemampuan menulis kreatif mengharuskan penulis untuk berpikir kreatif dan mengembangkan imajinasinya setinggi dan seluas-luasnya. Dalam menulis cerpen, penulis dituntut untuk mengkreasikan karangannya dengan tetap memperhatikan struktur cerpen, kemenarikan, dan keunikan dari sebuah cerpen.
2.3.1 Bahan Pembelajaran Menulis Cerpen
Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran adalah belum maksimalnya penggunaan bahan pembelajaran. Bahan pembelajaran erat kaitannya dengan tingkat kesiapan anak. Dalam hal ini, diperlukan suatu pertimbangan khusus tentang bahan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi perkembangan kognitif dan bahasa sekolah menengah pertama.
Siswa yang dijadikan subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI sekolah menengah atas. Pada periode ini anak mampu memahami konsep keadilan, kepribadian, dan kebenaran. Pertimbangan dalam menentukan bahan pembelajaran menulis cerpen bagi anak sekolah menengah adalah disesuaikan dengan konsidi psikologis siswa yakni, bahan yang sudah mulai meninggalkan unsur-unsur fantasi dan masuk kepada unsur realitas, mulai mengarah pada upaya pemahaman melalui hipotesis, dan adanya implementasi konsep/prinsip. Pertimbangan psikologis tersebut diperlukan agar dapat menumbuhkan minat, daya ingat, kemauan mengerjakan tugas, kesiapan bekerja sama, dan kemungkinan pemahaman situasi atau pemecahan problem yang dihadapi. Pemilihan bahan pembelajaran erat kaitannya dengan tingkat kesiapan anak.
Pertimbangan selanjutnya untuk menentukan bahan pembelajaran menulis cerpen adalah sudut pandang bahasa. Guru dalam memilih bahan pembelajaran cerpen dengan mempertimbangkan kosakata yang baru, segi ketatabahasaan, situasi dan pengertian isi wacana termasuk ungkapan dan referensi yang ada. Sedangkan Johnson dan Louis (dalam Hasanah, 2006: 42) memberikan ciri-ciri bahan pembelajaran yakni menarik, mengandung banyak lakuan, bahagia pada akhir cerita, tidak terlalu panjang, dan menyenangkan.
Adapun bahan dalam cerita pendek, Hasanah (2006:43) menjelaskan secara rinci unsur-unsur literer yang membangunnya adalah memiliki alur, latar, tema, penokohan, dan gaya yang khas. Alur cerita tersusun dalam urutan yang logis dan sesuai tuntutan cerita. Latar cerita memiliki ciri-ciri: uiversal, menanamkan kebenaran, dan perjuangan antara kekuatan baik dan jahat. Penokohan atau penggambaran watak tokoh memiliki ciri-ciri: meyakinkan, nyata, tindakannya konsisten dengan plot, penggambarannya sederhana dan langsung. Selain itu juga sedikit memiliki citraan, penggambaran tokohnya hidup, memiliki suatu yang khas dan menarik, serta nama tokoh mudah diingat atau mengesankan. Sedangkan gaya pengarang dalam cerita memiliki ciri-ciri: mengesankan, segar, tepat, serta bila dibacakan terlihat menarik.
Berdasarkan keterangan di atas diketahui bahwa materi pembelajaran sastra tidak hanya mencakup tentang peristiwa sastra atau cipta sastra, melainkan sejumlah persoalan dan hasil olah pikir dan karya siswa. Hasil tulisan siswa dapat menjadi materi pembelajaran yang menarik dalam sebauh kelas apresiasi sastra. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan siswa dalam sebuah diskusi, merupakan materi pembelajaran yang menghidupkan kelas. Materi pembelajaran ditujukan untuk mengmbangkan pengetahuan siswa tentang sastra dan membangkitkan minat siswa untuk menulis kreatifsastra.
2.4 Strategi (Meniru-Mengolah-Mengembangkan) 3M
2.4.1 Pengertian Strategi 3M
Strategi 3M (Meniru-Mengolah-Mengembangkan) merupakan strategi hasil pengembangan dari strategi copy the master. Secara harfiah, copy the master berasal dari bahasa Inggris yang artinya adalah model untuk ditiru. Model yang akan ditiru ini tidak hanya terbatas pada peniruan lateral, namun ada tahap perbaikan. Tahap peniruan sampai dengan perbaikan inilah yang menonjol dalam strategi ini. Pada dasarnya strategi ini menuntut dilakukan latihan-latihan sesuai dengan model yang ditawarkan. Selanjutnya strategi ini dikembangkan menjadi strategi 3M yang lebih sederhana. Strategi 3M hanya melalui tiga tahap, yakni tahap meniru, mengolah dan mengembangkan. Tahap meniru diisi dengan kegiatan membaca, mengidentifikasi, selanjutnya menyadur. Hasil saduran tersebut akan diolah pada bagian alur dan tokoh. Hasil olah tersebut akan dikembangkan dalam bentuk dialog, monolog, dan komentar pengarang. Hal inilah yang menjadi kelebihan pada strategi 3M. Strategi ini mengedepankan proses yang sesuai dengan kemampuan siswa. Dalam hal ini, kreativitas siswa juga dikembangkan pada tahap mengembangkan.
2.4.2 Tahap Strategi 3M
Tahapan strategi 3M mengacu pada beberapa tahapan pembelajaran menulis pada penelitian-penelitian sebelumnya. Adapun penjelasannya sebagai berikut. Adapun rincian dan penjelasan tahap pada strategi 3M sebagai berikut.
1. Tahap Meniru
Tahap meniru diawali dengan kegiatan pramenulis yakni dengan membaca cerpen yang dijadikan model. Pada tahap ini siswa akan diberikan satu cerpen yang dijadikan model yang dekat dengan dunia mereka. Selanjutnya siswa mengidentifikasi unsur cerpen dengan mengisi bagan yang telah disediakan. Adapun bagan tersebut berisi tentang siapa, kapan, bagaimana, dimana, mengapa. Setelah itu siswa akan menyadur cerpen model dengan mengganti unsur tokoh dan latar yang sesuai dengan dunia siswa.
2. Tahap Mengolah
Pada tahap olah siswa akan mengolah hasil saduran namun hanya beberapa unsur. Unsur tersebut adalah tokoh, latar, dan alur. Pertimbangan digunakannya tiga unsur karena unsur tokoh, latar, dan alur adalah unsur yang paling mudah dikembangkan secarakreatif dan untuk efisiensi waktu pembelajaran. Pada tahap mengolah tokoh, yang dilakukan siswa yakni dengan menambah tokoh dalam cerita, mendeskripsikan watak tokoh, dan mengubah cerita secara relatif sama. Sedangkan pada tahap mengolah alur cerita, kegiatan siswa adalah dengan membuat urutan-urutan peristiwa baru.
3. Tahap Kembangkan
Tahap mengembangkan dilakukan siswa setelah tahap mengolah. Pada tahap ini, siswa akan mengembangkan tema baru, mengembangkan tokoh baru, mengembangkan latar baru, dan mengembangkan peristiwa yang baru. Adapun rincian dari setiap unsur yang dikembangkan adalah (1) tema dikembangkan secara orisinil dan unik, (2) mengembangkan tokoh dengan melengkapi dilaog, monolog, dan komentar, (3) mengembangkan latar dengan mendeskripsikan secara rinci, (4) mengembangkan peristiwa dalam kalimat secara lengkap, (5) menggunakan bahasa yang komunikatif, dan (6) menggunakan ejaan yang benar.
G. Daftar Pustaka
Akhadiah, Sabarti. 1994. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Hartoko, Dick dan B. Rahmanto. Pemandu di Dunia Sastra. Yogyakarta: Penerbit kanisius.
Mulyati, Y. 2002. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta: Universitas Terbuka.
Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Kajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Roekhan. 1991. Menulis Kreatif, Dasar-Dasar dan Petunjuk Penerapannya. Malang. YA3 Malang.
Sumardjo, Jacob. 2001. Beberapa Petunjuk Menulis Cerpen. Bandung: Mitra Kencana.
Suroto. 1990. Teori Bimbingan Apresiasi Sastra Indonesia untuk SMU. Jakarta: Erlangga.
Widyamartaya, Aloys dan Vero Sudiati. 2005. Kiat Menulis Deskripsi dan Narasi, Lukisan dan Cerita. Yogyakarta: Pusataka Widyatama.
2 komentar:
Salam kenal. Saya Ika, juga dari pendidikan bahasa Indonesia. Membaca tulisan Anda, jadi teringat dengan skripsi saya. Akan tetapi saya mengambil kajiannya untuk menulis puisi dengan "copy-master". Terima kasih telah berbagi inspirasi untuk saya. Jika ada kesempatan, saya ingin berkenalan lebih lanjut dan sedikit bercengkrama tentang bahasa kita, bahasa Indonesia.
salam kenal juga..
yup, saya senang berbagi ilmu pengetahuan. terutama yang sesuai dengan disiplin studi saya. yup, sangat kami tunggu kesempatan itu. terima kasih.
Poskan Komentar