Rabu, 24 Juni 2009

PAPER MENGGUGAH CINTA; ANALISIS PRAGMATIK NOVEL ”AYAT-AYAT CINTA” KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY

Digunakan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Sastra Mutakhir dengan dosen pengampu Esti Swatikasari, M. Hum.




Oleh:
Hamdan Nugroho
07201241024



PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2009
A. Pendahuluan
Salah satu jenis karya sastra yang menarik untuk dikaji ialah novel. Pengkajian terhadap salah satu genre karya satra tersebut dimaksudkan selain untuk mengungkapkan nilai estetis dari jalinan keterikatan antar unsur pembangunan karya satra tersebut, juga diharapkan dapat mengambil nilai-nilai amanat di dalamnya. Nilai-nilai amanat itu merupakan nilai-nilai universal yang berlaku di dalam masyarakat seperti nilai moral, etika, religi. Nilai-nilai amanat itu tercermin dalam tokoh cerita, baik melalui deskripsi pikiran, maupun perilaku tokoh.
Novel selain untuk di nikmati juga untuk dipahami dan di manfaatkan oleh masyarakat. Dari sebuah novel dapat diambil banyak manfaat. Karya satra (novel) menggambarkan pola pikir masyarakat, perubahan tingkah laku masyarakat, tata nilai dan bentuk kebudayaa lainnya.. karya astra merupakan potret dari segala aspek kehidupan masyarakat. Pengarang menyodorkan karya satra sebagai alternatif untuk menghadapi permasalahan yang ada mengingat karya satra erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat. Hal ini sesuai dengan asumsi bahwa satra diciptakan tidak dalam keadaan kekosongan budaya (Teeuw, 1989:20).
Novel ayat-ayat cinta karya Habiburrahman El Shirazy yang dijadikan sebagi obyek analisis ini, kehadirannya tentu tidak dalam kekosongan budaya. Pengarang tentu saja melihat suatu tata nilai yang terdapat di dalam masyarakat, kemudian ia menanggapinya melalui karya sastra. Novel Ayat-ayat Cinta menceritakan kehidupan seorang pemuda yang bernama Fahri, memiliki sifat sabar, ramah, serta tawakal mengahdapi ujian.
Adapun analisis ini menggunakan pendekatan pragmatik, hal ini sangat ideal karena di dalam novel Ayat-ayat Cinta pengarang memiliki tujuan tertentu untuk di sampaikan kepada pembaca. Novel ini banyak mengandung pesan dan nasehat luhur. Apabila pembaca mampu mengambil pesan dan amant ini maka ia akan berhasil dalam menjalani hidup. Novel Ayat-ayat Cinta ini bahkan difilmkan dan mendapat sambutan baik oleh pemirsa dengan mencatatkan 2 juta pemirsa dalam waktu 2 minggu. Novel ini tidak mustahil mengandung nilai-nilai akhlak islami, nilai-nilai ini dimunculkan lewat perilaku tokoh utama.

B. Sinopsis Novel Ayat-ayat Cinta
Novel Ayat-ayat Cinta merupakan novel yang menceritakan tentang tokoh utama bernama Fahri sebagai seorang mahasiswa berasal dari Indonesia yang kuliah di Universitas Al- Azhar Mesir. Ia tinggal di apartemen milik keluarga Boutros bersama mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia (Rudi dan Saiful). Dalam kehidupan sehari-hari, Fahri selalu berusaha meneladani Rosulullah saw. Hal ini tercermin dari perilakunya di apartemen, mereka selalu salig mengingatkan, saling mendo’akan, tolong menlong. Mereka juga mempunyai tanggung jawab masing-masing. Fahri sebagai tokoh utama juga meneladani rasul dalam hal bertetangga dan berinteraksi dengan lawan jenis. Dalam berinteraksi ia selalu mendasarkan diri pada Al Qur’an dan Al Hadist.
Dakwah adalah aktivitas keseharian Fahri. Baginya, dakwah merupakan pekerjaan utama yang sangat mulia yang bisa dilakukan dimana saja kapan saja. Di ceritakan bagaimana seorang fahri di dalam metro mengingatkan kepada penumpang untuk menghormati tamu dari negara lain (Amerika serikat).
Cerita Fahri dalam novel ini berkaitan dengan aktivitas di kampus, hubungan kepada para perempuan, terhadap Maria sebagai gadis Koptik, Naura (gadis Mesir), Nurul, Aisya (gadis Turki). Fahri juga memiliki aktivitas di luar kampus seperti (Tallaqi, ceramah, penerjemah).
Kehidupan fahri berubah 180 ketika menikah dengan Aisyah seorang muslimah Turki anak orang kaya. Dari pernikahan itu kehidupan Fahri otomatis di kelilingi kekayaan yang melimpah. meskipun demikian, ia tetap rendah hati dan tidak sombong. Sejak membangun rumah tangga dengan Aisyah hidupnya serasa mimpi, ia mempunyai istri cantik solihah lagi kaya. Mereka tinggal di apartemen di kawasan elit Kairo yang juga merupakan tempat tinggal orang-orang penting Mesir.
Ketika Fahri menikah dengan Aisyah itu ternyata membuat kecewa tiga gadis lainnya. Maria sampai sekarat, Nurul hampir patah hati, dan Noura tega menjebloskannya ke penjara dengan tuduhan telah memperkosanya. Keimanan dan keikhlasan Fahri diuji ketika ia harus masuk di dalam penjara oleh gadis Mesir yang ditolongnya. Dalam penjara pun Fahri konsisten menjalankan perintah Allah dengan berpuasa dan sholat lima waktu dan sholat sunnah. Tidak hanya itu ia juga belajar ilmu dari seorang guru besar ekonomi yang di penjara karena kritiknya yang pedas. Namun,setelah bukti-bukti menyatakan bahwa Fahri tidak bersalah, ia pun bebas dari penjara. Setelah Fahri bebas, Maria kembali dirawat ke rumah sakit hingga pada akhirnya meninggal setelah masuk islam dan menikah dengan Fahri.

C. Pembahasan Hasil Analisis dengan Pendekatan Pragmatik
Menurut Pradopo dalam Wiyatmi (2006, 85) pendekatan pragmatika adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung menilai karya sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya.
Pendekatan ini mengkaji dan memahami karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan pendidikan (ajaran) moral, agama, maupun fungsi sosial lainnya. Semakin banyak nilai pendidikan moral dan atau agama yang terdapat dalam karya sastra dan berguna bagi pembacanya, makn tinggi nilai karya sastra tersebut.
Dengan pendekatan pragmatik dalam novel ayat-ayat cinta dapat di pahami karya satra (novel) sebagai sarana yang cukup efektif untuk menyampaikan tujuan-tujuan tertentu pengarang kepada pembaca. Dalam novel ini terdapat nilai-nilai moral, dan nilai-nilai religius. Pengarang menyampikan pesan moral cukup elegan, misalnya tampak pada judul novel ini mengandung kata “cinta”, akan tidak lengkap rasanya jika kita tidak membahas kesan yang tertangkap bahwa novel ini merupakan novel romantis. Memang, novel ini juga novel asmara.
Kehidupan Fahri diwarnai dengan kisah hubungan lelaki dan perempuan. Perasaan Fahri diceritakan dengan baik ketika ia harus menjadi rebutan tiga orang perempuan. Pada bagian cerita bulan madu Fahri dan Aisha jelas sekali digambarkan terjadinya adegan percintaan yang selalu merupakan bagian penting dari disebutnya novel asmara. Di sinilah kelebihan lain novel ini yang menceritakan hubungan suami-istri namun tidak terjatuh ke dalam kevulgaran. Hal ini sangat berbeda dengan novel “Saman” miliknya Ayu Utami yang sepertinya seks malah menjadi komoditas tersendiri.
“…Dengan suara pelan kubalas puisinya:
alangkah manis bidadariku ini
bukan main elok pesonanya
matanya berbinar-binar
alangkah indahnya
bibirnya,
mawar merekah di taman surga
Kami lalu memainkan melodi cinta paling indah dalam sejarah percintaan umat manusia, dengan mengharap pahala jihad fi sabillillah dan mengharap lahirnya generasi pilihan yang bertasbih dan mengagungkan asma Allah Azza wa Jalla di mana saja kelak mereka berada. …”
Dalam Novel Ayat-ayat cinta, Habiburrahman El Shirazy sebagai seorang pengarang ingin mengajak umat Muslim pada kebenaran dengan bahasa yang mudah diterima. Aspirasi tersebut diekspresikan dalam novel Ayat-ayat Cinta melalui tema cinta. Penulis novel ini menyampaikan pesan keharmonisan hidup sebagai umat manusia yang beradab di muka bumi dengan peristiwa ketika Maria, seorang gadis beragama koptik yang bertetangga baik dengan Fahri dan teman-temannya menempuh studi di Mesir.
“… Maria berbuat begitu atas nama keluarganya atas petunjuk ayahnya yang baik hati itu. Dan karena kepala keluarga di rumah ini adalah aku, maka tiap kali memberi makanan dan minuman atau menyampaikan sesuatu atas nama keluarganya dan aku dianggap representasi kalian semua. Jadi ini bukan hanya interaksi dua person saja, tapi dua keluarga. Bahkan lebih besar dari itu, dua bangsa dan dua penganut keyakinan yang berbeda. …”
Ia memandang bahwa hubungan cinta dengan lawan jenis itu harus berdasarkan kepada hukum agama yang berlaku, sehingga tidak seperti apa yang sekarang terjadi terutama di lkalangan pemuda yang sedang di rundung asmara. Menurutnya menjalin hubungan cinta kasih harus melalui prosedur yang benar, yakni kewajiban untuk menikah antara kedua belah pihak yang sedang jatuh cinta.
Selain itu Habiburrahman El Shirazy juga mengajak kepada pembaca untuk saling menghormati kepada tamu-tamu asing yang berkunjung kesuatu Negara. Hal ini dapat di lihat ketika tokoh Fahri sedang menasehati penduduk mesir di sebuah metro untuk tetap menghormati tamu asing, sebagaimana ajaran rasulullah walau orang asing itu merupakan orang kafir sekalipun. Hal ini terlihat dalam kutipan sebagai berikut.
“… Ahlu dzimmah adalah senua orang non muslim yang berada di dalam negara kaum muslimin secara baik-baik, tidak illegal dengan membayar jizyah dan mentaati peraturan yang ada di dalam negara itu. Hak mereka sama dengan hak kaum muslimin. Darah dan kehormatan dan kehormatan mereka sama dengan darah dan kehormatan kaum muslimin. Mereka harus dijaga dan dilindungi. Tidak boleh disakiti sedikit pun. Dan kalian pasti tahu, tiga turis Amerika itu masuk ke Mesir secara resmi. Mereka membayar visa. Kalau tidak percaya silakan lihat saja paspornya. Maka mereka hukumnya sama dengan ahlu dzimmah. Darah dan kehormatan mereka harus kita lindungi. Itu yang diaajrkan Rasulullah Saw. …” (Shirazy, 2004: 50)
Jadi, melalui tokoh Fahri ini ini pengarang juga berpesan supaya umat islam senantiasa menjaga hubungan baik antara hubungan manusia dengan Allah (hablumminallah) dan hubungan manusia kepada sesama manusia (hablumminannas).
Dalam memandang kehidupan, dibutuhkan optimisme dan perencanaan yang matang. Seperti yang dituliskan oleh penulis pada halaman 144 yang tertulis seperti berikut.
“…Peta masa depan itu saya buat terus terang saja. Berangkat dari semangat spiritual ayat suci Al Quran yang saya yakini. Dalam Ar-Ra’ad ayat sebelas Allah berfirman, Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya. Jadi nasib saya, masa depan saya, mau jadi apa saya, sayalah yang menentukan. Sukses atau gagalnya saya, sayalah yang menciptakan. Saya sendirilah yang mengarsiteki apa yang akan saya raih dalam hidup ini.”
Novel sebagai karya sastra inilah yang berhasil memadukan dakwah, tema cinta dan latar belakang budaya suatu bangsa. Novel ini sangat menyentuh dengan romatisme yang sangat terasa namun menuntun pembaca untuk tidak cengeng dalam bercinta. Kodrat keberadaan cinta dalam diri setiap insan itu keniscayaan, tetapi bagaimana mengolah dan mengarahkannya supaya sesuai dengan yang digariskan. Novel ini juga menggugah para pelaku percintaan untuk terus tegar menghadapi cobaan.

D. Daftar Pustaka
Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Penerbit Pustaka.
Shirazy, Habiburrahman El. 2004. Ayat-ayat Cinta. Jakarta: Penerbit Republika.

3 komentar:

liukman mengatakan...

wahahaha saya ikut copy yach

lukmanfiles mengatakan...

saya copas mas

Hamdan Nugroho mengatakan...

oya, silahkan..
asal jangan lupa kaidah pengutipannya ya.
makasih..