Jumat, 01 Mei 2009

My Special Story in IPM: Tentang Perjuangan


“Aku terlentang di karpet biru yang sudah kumal. Di ruangan IRM ini, serasa surga, lalu aku mencoba lelapkan mata sayuku. Tak ada ayal, hanya erangan lirih yang mencoba menemani dengan menggoda pilu pada pikiran kalut ini. Tapi aku hanya ingin lelap dan lari. Aku ulangi, aku hanya ingin lelap, emangnya kenapa? Aku sebenarnya tidak yakin sebabnya, tapi aku hanya ingin pergi dari detik-detik ini. Semuanya serasa menghujam, bak pedang mengiris kulit ari tanpa ampun. Lalu meluncur berbagai kalut yang kian mengelayut. Kian menggurui, semakin memenuhi batok kepalaku ini. Aku ingin lari, menuju sunyi, yang hanya sendiri, tak ada bisik dan canda yang tiada lucu lagi. Di sana hanya ada damai, gaduh, dan keruh sudah dilerai dari telinga dari habitatnya yang selalu menjejali telinga!”

Inilah yang benar-benar aku rasakan ketika akan mengadakan kajian Islam yang kemudian aku karyakan menjadi sebuah cerpen “Kajian”. Cerpen ini akhirnya dimuat di majalah Kuntum edisi desember 2008, Sungguh, inilah kejadian yang terus memberikan spirit besar kepada pendapat, pandangan hidup, dan sikap hidupku. Semula aku memandang bahwa kehidupan adalah sebuah yang ruwet bak benang basah hanyut di kali opak.

Dunia ini berputar bagai roda. Namun dunia ini adalah misteri yang menjadikan buta bagi penghuninya. Ke depan, tidaklah semudah yang diucapkan sebuah bualan hasil dari REGRAMAL yang membuai dengan dayuannya. Entah apapun itu latar belakang, bagaimanapun proses yang sedang dilaluinya, tidak ada yang tahu bagaimana kelanjutannya. Inilah nikmat Tuhan yang tidak akan habis dipikirkan perihalnya atau bagaimana kesudahannya.

***

Aku adalah Hamdan Nugroho. Anak terakhir dari enam bersaudara putra takmir masjid ( banyak yang bilang: sing mbaureksa) kampung. Dididik dengan kekukuhan berprinsip, terutama untuk selalu stand by di masjid lima menit sebelum azan berkumandang. Tapi, memang seringnya dulu, bapakku yang seorang imam sekaligus yang melantunkan azan berbonus jamaah satu atau tiga wanita tua yang rumahnya sepuluh meter dari masjid. Aku tidak begitu suka dengan jamaah yang tidak seberapa ini, karena akan sangat seru pergunjingannya ketika bacaan shalat diperpanjang.

Kehidupan yang aku jalani sangat rutin. Pagi berangkat sekolah, sore bermain atau menonton TV yang baru bisa dibeli ketika kelas 2 SMP. Menjelang maghrib menuju masjid, tadarus hingga isya’, setelah itu (seakan-akan) belajar, dan tidur. Selalu seperti itu kecuali malam ahad, diperbolehkan menonton TV namun hanya sampai pukul 21.00 WIB demi subuh yang keterlaluan pagi bagiku.

Kemapuanku bersosialisasi hingga berumur belasan, ketika seumuran SMP, sangat minim. Mungkin hanya pernah menjadi pengikut setia tadarus setiap sehabis maghrib sampai isya di masjid yang fanatik. Selain itu tidak pernah. Apalagi, kakak keempatku memberikan petuah yang menakutkan, “Janganlah kamu ikut OSIS, soalnya kamu akan menjadi sibuk dan lupa belajar. Sekarang belajar sebaik-baiknya dulu!” Hem, terkesan nasehat sederhana. Namun, nasehat inilah yang menjadi alur pikiranku sehingga aku benar-benar study oriented walau kadang (atau malah lebih sering?) meluangkan waktu untuk pacaran, tak sekedar mencari waktu luang..

Hal itu cukup bertolak belakang dengan kondisiku sekarang. Aku menjadi orang yang gila organisasi. Walaupun ketika kecil antipati alias tidak ikut organisasi apapun, tapi setelah itu aku melanjutkan ke SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, aku mejadi aktivis yang sungguh sibuk.

Seorang yang Non Organisatoris tapi Geleman

Allah menunjukkan kuasa-Nya sekali lagi padaku. Setelah dengan mentah-mentah aku ditolak di salah satu sekolah negeri favorit di kotaku, aku terjerembab ke sekolah yang tidak pernah aku inginkan, apalagi cita-citakan, dan tidak mungkin aku impikan: SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Sebuah sekolah swasta kejuruan terbesar se-DI Yogyakarta.

Di sekolah yang dengan bangga telah menerapkan SMM ISO 9001:200 ini sungguh menyiksaku di hari-hari pertama mengenalnya. Selain bangunan-bangunannya yang banyak, ruwet, dan berjejalan tidak simetris sama sekali, ditambah acara Fortasi (Forum Ta’aruf Siswa) yang benar-benar menjadikanku berta’aruf dengan yang namanya bangun pagi, mandi pagi, tidak sarapan pagi, dan siang yang panjangnya minta ampun. Kakak-kakakku yang sampai sekarang aku hormati walau tidak tahu bagaimana kondisinya sekarang, benar-benar wajah panitia perfeksionis yang cukup memerindingkan siswa agak penakut dan bertubuh kecil (ketika itu tinggiku baru 153 cm) atau menjadikan garang sebagian siswa lain yang memang sejak dulunya “mafia”.

Hem, lima hari Fortasi yang amat sangat mengesankan, terutama menu makan siang bercampur debu lapangan serta perlombaan-perlombaan (ada futsal, qiroah, adzan. Kaligrafi, dll) yang menjadikan kelasku, yang belum pernah kenalan sebelumnya, hampir tawuran. Cukup, benar-benar cukup menjadikan IRM ketika itu sosok yang diidolakan bagi siswa yang ingin balas dendam terhadap adik kelasnya kelak. Aku akui, aku ada niatan untuk itu. Namun, hanya sedikit.

Aku berpikir, masuk sungai kenapa tidak menyelam sekalian. Oleh karena itu, aku menjerembabkan diri lebih mantab dan dalam untuk bergabung sebagai pimpinan IKATAN REMAJA MUHAMMADIYAH. Pada mulanya aku mencoba bergabung dengan hanya berbekal keinginan berlandaskan kebingungan. Aku mencoba mengenal apa itu organisasi, itu saja. Eh, ada satu lagi, pada pertemuan siang itu akan mendapatkan lunch lezat sekaligus gratis. Maka, tiada kata lain pada waktu itu selain: Ngikuu..T!!!

Ketika itu adalah Musyawarah Ranting Pimpinan Ranting IRM SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Hem, kini aku bisa merenung, aturan macam mana pula yang dipakai kakak-kakakku yang dulu sangat aku hormati dalam menyuguhkan pertanggungjawaban dan perencanaan masa depan IRM di sekolah megah kami. Mungkin karena saking parahnya, tidak mengenal apa itu pertanggungjwaban, ketika itu aku anggap biasa aja, kecuali makan siangnya yang gratis. Tidak ada pembahasan arah kebijakan bidang, silakan bayangkan... Yang paling menggelitik, prosesi pemilihan Ketua Umum yang super duper aneh. Semua menjadi calon Ketua Umum, semua menyampaikan Visi dan Misi, semua juga ikut yang memilih. Tanpa harus mengenal, tanpa harus bertanya-tanya, intinya harus ditemukan Ketua Umum yang baru. Muncullah nama Edy Prasetya, dan tanpa sengaja, semoga bukan karena kesalahan perhitungan, sang Hamdan Nugroho menjadi Ketua I.. Percaya tidak percaya semuanya tergantung anda!

Namun dalam perjalanannya organisasi itu tidak berjalan efektif, sehingga potensi yang kumiliki tidak tertampung bagi kepentingan bersama. Heh, “kepentingan bersama” sepertinya terlalu muluk-muluk bukan? Tapi itulah yang cukup menggambarkan gerak dan langkah kami, para pimpinan IRM prematur yang terbentuk tanpa pelatihan kader dan pelatihan formal apalah namanya. Yang kami tahu, kami menjadi pimpinan dan selalu menunggu langkah gerak kakak-kakakku. Setelah itu sudah. Tak pernah kami dengar yang namanya kajian, yang namanya Taruna Melati, apalagi gerakan Iqro’, mungkin sebuah mimpi ketika kami ketika itu bisa menggamblangkan makna manifesto gerakan kritis, kreatif, dan transformatif. Itulah hal realistis yang ada mengenai sebuah Ranting yang ada di ibukota Muhammadiyah.

Daripada selalu menggerutu, untuk memperindah makna kehidupan, kita diharapkan bersyukur atas apa yang kita dapatkan. Maka Allah Swt akan menambah nikmatnya kepada kita. Jadi, walau dulu aku hanya mendapatkan tempat nongkrong rutin sepulang sekolah, tempat penitipan pakaian olah raga kotor, dan teman-teman yang bisa dihutangi di akhri bulan, serta persembunyian yang sedikit aman di kala malas mengikuti pelajaran, aku cukup bersyukur dengan itu semua. Aku pun tetap sangat mensyukurinya bagaimanapun kondisinya, tapi itu cukup memberiku dasar berteman yang menggunakan peraturan organisasi. Ini pulalah yang ternyata cukup membentuk orang-orang terpilih di sekolahku, yang selalu aktif di berbagai kegiatan, yang tiada hentinya menghembuskan nafas persahabatan walau dilandasi kebingungan ber-IRM.

Loncatan intelektualitas kadang terjadi. Hal ini aku alami, tidak pakai majas hiperbola (yang sebentar lagi diganti nama: majas lebbai). Pada awal sebelum mengikuti Perkemahan Ilmiah Remaja PD IRM Kota Yogyakarta aku adalah makhluk culun yang kuper dan berbonus tidak bisa berbicara di depan umum. Hanya berbekal kemauan tanpa tujuan, aku dengan sepenuh hati mengikuti pelatihan itu. Aku akui, pelatihan itu tidak berhasil bagi diriku, karena samapi sekarang, sekitas empat tahun setelahnya, aku belum pernah melakukan penelitian satu kali pun. Namun, pelatihan itu cukuplah menjebol ketidaksemangatku ber-IRM. Dalam pelatihan, aku mengenal banyak teman dari berbagai sekolah, dengan berbagai latar belakang intelektual, bermacam-macam kondisi ekonomi, penuh dengan warna dunia ketika itu. Atau mungkin, saat itulah aku baru bisa keluar dari kungkungan sekolah yang kala itu siswanya berjumlah 1.200 yang 0,3 persennya wanita. Parahnya, sejak kelas satu sampai aku lulus sebagai lulusan yang terbaik, tak ada satupun makhluk hawa di kelasku. Jadi, dengan mengikuti pelatihan itu aku mulai mengenal bagaimana berkomunikasi “secara modern”, aku langsung berniat membeli HP, langsung terlihat gagu ketika tidak mahir menggunakan MiRC, sangat kikuk ketika orang lain berbicara friendster, padahal aku baru bisa berbangga: aku telah mampu menggunakan ms word dengan baik?!

Setelah itu, ada kegiatan apapun di PD IRM, akulah yang paling pertama terobsesi untuk berpartisipasi. Entah, dorongan macam apa. Namun, ini menjadi semakan penyakit menular: “aktivis tidak ketulungan”. Namun lagi, aku tetap tertib belajar dan beribadah. Mulai saat itu pula, aku sering berada di kantor IRM ranting, entah hanya ingin tiduran, ngerumpi bersama teman-teman, atau memang mengerjakan proposal kegiatan.

Walau aku baru aktif di PR IRM, namun cita-cita besarku mulai tumbuh. Pandanganku tidaklah sesempit kurungan wilayah atau daerah, tapi dunia! Sangat tepat untuk menggambarkan bahwa aku kini siap diberi tanggung jawab. Sangat siap mengampu permasalahan dengan mencetuskan solusi-solusi handal nan efektif. Sungguh tepat ketika memaksimalkan modal dan kemampuan untuk berhasil di atas keterbatasan. Itulah. Aku bermetamorfosis, menjadi makhluk percaya diri, makhluk yang tidak rela tertindas karena diam.

Sungguh aku merasakan keringanan, walau aku menjadi ketua panitia Fortasi, bedah buku, talk show, kajian mingguan, bahkan ulang tahun teman karibku. Hal semacam itu mungkin makhluk langka ketika aku tidak di IRM. Namun, IRM menjawab lain, akukah mankhluk baru, bocah ajaib yang terlahir belum pada waktunya.

Namun, pada suatu ketika aku pernah hampir pindah ke lain hati. Aku pernah bersama-sama mengikuti kajian yang berhaluan “salaf” selama hampir setengah tahun. Cukup menjadikanku bisa selalu menundukkan pandangan dan menaikkan bawahan celana sampai di atas mata kaki serta merasakan kedamaian dalam menjalani kehidupan dunia yang hanya fana. Aku juga pernah mengikuti kajiannya sahabatku yang sering menamakan diri “gerakan tarbiyah”. Di sana, aku melihat semangat berjuang dan berteman yang jauh lebih kokoh dan indah dari pada keluarga sendiri. Aku juga terfasilitasi makan malam gratis setiap kajian. Serta dunia baru, dunia bahwa organisasi bukanlah yang memanfaatkan kita untuk diperalat. Namun, kitalah yang memanfaatkan organisasi untuk perjuangan tegakkan kalimatullah di persada ini. Maka, jangan pernah membenci organisasi, tapi bencilah diri sendiri ini yang sering salah menjalankan organisasi.

Sepertinya jalan yang memang harus aku tempuh adalah di Muhammadiyah. Aku merasa membohongi diri. Pasalnya, aku terlahir Muhammadiyah 24 karat, mungkin dalam setiap kentutku pun bisa menjadi saksinya. Dengan begitu aku merasa asing dalam setiap patah kata dan merasa risih dalam jengkal gerakku. Dari seorang bapakku, Sang Tupar yang aktivis Muhammadiyah tulen walau tidak paham sama sekali tentang MKCH. Jadi, bapakku itu ketika diajak berdiskusi tentang apa dan bagaimana mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, tidak akan nyambung walau menggunakan kabel yang bezarr…

Aku belajar bahwa aku sedang belajar. Kini, belajar yang benar dulu, itu kata bapakku. Tidak usahlah neko-neko ikut gerakan yang baru-baru itu. Kalau mau aktif, tetaplah di Muhammadiyah, atau yang tidak beda jauh, NU. Walau kemudian aku menimpali, bukankah belajar tidak selalu di kelas? Aku merasa mendapatkan apa yang memang aku butuhkan dari pada pelajar normatif di penjara suci yang bernama sekolah?! Aku kini terus menggelutinya, entah sampai kapan, atau mungkin sampai hembusan nafas terakhirku keluar. Dan keputusanku, aku tetap aktif di IRM-ku yang aku cintai, tidak tahu sampai seberapa dalam.

Pada akhirnya, aku disibukkan dengan aktivitas IRM, benar-benar memfosirku. Tanpa aku berusaha menolaknya, aku pernah menjadi Ketua 1 PR IRM SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta selama dua periode, 2004-2005 dan 2005-2006. Lalu pernah nampang di Aggota Bidang Organisasi PC IRM Kotagedhe, tapi aku lupa tahunnya je Lebih parahnya aku juga pernah tercatat sebagai Sekretaris Korps Mubaligh SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Dewan penghela Kwartir Ranting Hisbul Wathan Qabilah Salman al Farisi SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, dan Ketua asrama SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Untuk kepanitiaan, aku sampai sudah lupa, seberapa sering menjadi panitia, saking banyaknya. Yup, beginilah aktivis, berangkat pagi, pulang paling cepet sore, malah seringnya malam

Kaisan Kisah di PD IRM-IPM Kota Yogyakarta

Debut Perdana: Ketua Komunitas Da’i PD IRM Kota Yogyakarta (2006)

Dulu, dulu sekali, aku setengah tidak percaya ketika aku pernah menjadi seorang ketua Komunitas Da’I men…Kelompok orang yang diamanahi lebih untuk beramar makruf nahi munkar di kalangan pelajar. Pemberi contoh di awal, mengawal dalam pelaksanaan, dan memastikan bahwa pelajar di Kota Yogyakarta ini menjadi pelajar yang tertib ibadah, belajar, dan tentunya berorganisasi.

Hem, tidak usahlah dipikirkan tentang itu. Permasalahannya hal tersebut tidaklah bertahan lama. Aku hanya sempat berkarya sedikit. Sebatas yang aku ingat, dan memang hanya ini yang kami lakukan dengan beberapa rekan ketika itu, kami mengadakan Talk Show Moment of Valentine “Valentin vs Manten”. Acaranya hanya sederhana, hanya mengundang pembicara Munif Tauchid (penulis buku Pacaran is Solution) dan dipanelkan dengan Salim A. Fillah (penulis buku Nikmatnya Pacaran setelah Pernikahan). Memang kami sengaja, dengan dua pembicara yang memiliki pandangan yang berbeda tentang virus pink yang banyak melanda pelajar di manapun itu.

Karena itu pulalah, aku memiliki dalih sahih untuk tidak mengikuti pelajaran selama hanya satu minggu. Padahal ketika itu aku tinggal di asrama sekolahan dan keluar sebelum pelajaran dimulai untuk kemudian seharian berkeliling-keliling membagi-bagikan undangan dan publikasi ke seantero kota pelajar yang semoga benar-benar memberikan pelajaran yang benar. Walau yang datang 90 peserta, tidak penuh memang karena kapasitas tempat duduknya 100 peserta, namun hal ini cukup menggenjot motivasiku bahwa, seorang Hamdan yang dekil dan kampungan, BISA.

Aku akui, perjuanganku ketika masa awal itu, bersama Wening, Dika, Erma, dan lain-lainnya sangat membekas ketika para peserta keluar dari ruangan acara dengan senyum mengembang tanda kepuasan. Jerih payah yang seyogyanya tidak perlu payah kalau sudah tahu bagaimana baiknya, sungguh pembelajaran kegigihan hingga titik nadir yang paling dalam untuk memperjuangkan kinerja rapi dan disiplin tinggi demi keberhasilan sebuah acara.

Pasca Musyda kesembilan belas: Ketua Lembaga Pers Remaja PD IRM Kota Yogyakarta (2006-2007)

Aku, masih secara tidak sengaja, masuk menjadi salah satu tim formatur PD IPM Kota Yogyakarta periode 2006-2008. Padahal, ketika itu aku belum pernah sekalipun membicarakan pepolitikan, mungkin ketika itu aku berpikir inilah hal tabu kedua setelah porno dalam kamus pemikiranku. Walau kini, setelah melewati dua kali Musyda, dua kali Musywil, dan sekali Muktamar, ternyata perpolitikan IPM kadang memberikan pembelajaran yang buruk menurutku. Aku teringat, bagaimana sucinya alias lugunya perjuangan para saudaraku di ranting, namun, menjadi sekedar kotoran telinga ketika itu diceritakan di permusyawaratan agung. Yang enak dibicarakan adalah siapa yang mau mendukung calonku menjadi ketua umum, nanti kalian akan kami posisikan di tempat strategis yang empuk lagi basah.

Hasil rapat formatur, kemudian dilantik oleh kakak dari PW IRM DI Yogyakarta yang terhormat, aku resmi menjadi ketua Lembaga Pers Remaja. Sebuah lembaga yang sudah berusaha “dipaksa berdiri” sejak tahun 2004 namun sampai ketika itu masih terbit berkala, kadang kala terbit kadang kala tidak, tergantung bagaimana maunya redaksi. Kalau lagi moody bisa terbit rutin sebulan sekali, kalau sedang malas abiz-abizan, biarlah LPR mangkrak menjadi calon bangkai namun sudah belatungan terlebih dahulu.

Untuk itu, yang aku impikan, tak sekedar harapan, buletin kami yang bernama Gudeg (Gudang Ide dan Gagasan) bisa terbit rutin sebulan sekali. Itu saja. Sedangkan yang lainnya masih dalam bentuk niat saja ketika itu. Walau ketika ditanya apa niatanku ketika itu, aku sendiri bingung menjawabnya. Dalam perjalanannya, perjuangan untuk merutinkan penerbitan sungguh berat, ditambah posisiku sebagai warga kelas tiga yang ikut-ikutan teman-temanku mengaku sibuk menghadapi Ujian Nasional dan Ujian Sekolah. Jadinya, penerbitan lumayan terseok-seok, walau entah keajaiban apa ketika itu, LPR bisa menyelenggarakan pelatihan jurnalistik gratis. Sungguh berjuangan besar dari seorang Anggita Oktafiani Dewi dan Agus Sam’an, serta rekan-rekan yang lain.

Kini, LPR sang produsen Gudeg, jangan ditanya lagi kiprahnya. Sudah terkenal sampai seantero aceh sampai papua. Katanya sebagai satu-satunya daerah yang bisa memproduksi media yang bisa rutin, apik, dan layak jual walau terus dibagikan secara gratis. Walau masih dalam bentuk majalah kecil, namun inilah satu-satunya oleh-oleh yang terus membanggakan kami, karena tidak mungkin kan kalau ada tamu kemudian kami beri oleh-oleh seonggok kantor sempit lagi sumpek? Apalagi rintisan komunitas yang akan menghasilkan jurnalis-jurnalis muda dan novelis handal yang mumpuni mengalahkan Andrea Hirata.

Saya merenung, seorang Andrea Hirata, siswa SD Muhammadiyah thothok yang dekil saja bisa, mengapa kami yang Kumpulannya pelajar sekolah kader muhammadiyah (Muallimin-Muallimat), sekolah Berstandar Internasional yang setiap kelasnya sudah ada LCD proyektor (SMA Muh 1), dan sekolah yang berstandar manajemen mutu ISO 9001:200 (SMK Muh 3), tidak bisa mewujudkan mimpi yang seharusnya tinggal mengurusi kemudian mewujudkannya?!

Pasca Konpicabran: Ketua Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) (2007-2008)

Kondisi lebih menguntungkan daripada kinerja. Karena yang ada di hadapanku adalah kondisi kekurangan kader, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, memaksaku untuk terus merenung, aku menuju posisi pimpinan yang lebih penting walau kinerja tidak bagus-bagus amat. Ya, merenung salah satu hobiku yang belum pernah aku tuliskan dalam CVku.

Menjadi manusia dalam posisi yang lebih terhormat, walau sekedar menjadi Ketua PIP, cukup menjadikanku membusungkan dada. Entah ketika ketika aku berkunjung ke ranting, bertemu pimpinan IPM lain, atau ketika di kampus yang dengan bangganya aku mengenakan identitas atau simbol apa pun itu, kesemuanya memberikan asumsi bahwa kehormatan harus dibuktikan dengan karya!

Aku ingin membuktikan itu semua. Walau ketika aku diamanahi merasa seakan-akan kucing takut dengan tikus. Aku mengadakan Workshop pembuatan Website bekerja sama dengan Koma Amikom, walau acaranya hancur tapi syukur sudah selesai. Kemudian dilanjutkan dengan lomba pembuatan desain web PD IRM Kota Yogyakarta, yang rencananya menjadi web resmi kami, namun sampai tiga tahun kemudian belum bisa diresmikan karena memang tidak ada yang bisa diresmikan. Padahal inilah usaha internasionalisasi PD IRM Kota Yogyakarta, dengan website.

Konsep Forum Srawung KIR Muhammadiyah Yogyakarta (Fosika) kami matangkan. Pena kami tajamkan, dengan road show Journalistik Goes to School ke seluruh sekolah menengah Muhammadiyah yang berada di kota yang konon katanya pameran bukunya paling sering se-Indonesia. Terjadilah dengan sengaja pelatihan itu dia SMA Muhammadiyah 3, SMA Muhammadiyah 4, dan SMP Muhammadiyah 2 dengan melibatkan seluruh ranting yang berjumlah 26 ranting.

Dunia sepertinya terus membutuhkan bukti, bahwa seorang Hamdan itu BISA!

Pasca Musyawarah Daerah Kedua Puluh: Ketua Umum PD IRM-IPM Kota Yogyakarta (2008-2010)

Aku membuktikannya sekali lagi. Aku menganggap diriku sukses menjadi ketua panitia Musyda XX. Dengan pembukaan paling meriah dan wah, begitu katak Ketua Umum PW IRM DI Yogyakarta, Aad Satria Permadi. Peserta yang hadir ketika itu 500an dengan “dibuka yang ditandai pemukulan Gong oleh bapak Walikota atau yang mewakili…”

Satu lagi yang menggelitikku selama berada di organisasi pelajar kuning ini, tidak pernah sekalipun Bapak Nomor satu baik di PDM (Ketua: Drs. Marwazi Nz) dan di Pemerintah Kota Yogyakarta (wali kota: Heri Zudianto, M. M.) mau menghadiri seremonial yang kami adakan. Mungkin, mereka cukup menjadi pendukung di balik layar saja, tidak usahlah mengurusi atau sekedar perhatian terhadap pelajar yang masih anak-anak ini.

Aku tidaklah orang spesial kemudian menjadi Ketua Umum yang banyak dihormati. Aku merasa aku hanya kadang melakukan apa yang sudah seyogyanya dilakukan. Aku belum sempat berpikir apa yang aku inginkan karena untuk menjawab apa yang harus aku kerjakan saja memakan waktu yang cukup banyak. Tidak cukup nafas dan tenaga yang aku miliki ini untuk mengejawantahkannya.

Karena itu pula, aku hanya sering memberi tahu saudara-saudaraku seperjuangan di IRM/IPM Kota Yogyakarta bahwa nanti sore ada rapat pimpinan atau panitia. Kalau tidak datang aku tanyai, “Ada apakah gerangan sehingga dikau enggan datang. Macam mana kesibukanmu itu?”. Itu saja yang paling sering dilakukan selain menghadiri undangan-undangan yang membutuhkan sosokku hadir di dalamnya.

Ada yang istimewa untuk tahun 2009 ini: IPM Jogja Award. Ini baru pertama kalinya PD IPM Kota Yogyakarta menyambangi seluruh ranting kemudian menyapa, bagaimana identitas, atribut, kesekretariatan, keuangan, permusyawaratan, kegiatan, aset organisasi, dan hubungan personalia di sekolah maupun di luar sekolah. Ada berbagai warna dan rupa ranting, namun semuanya menyiratkan bahwa KAMI INGIN MENJADI PELAJAR CERDAS BERAKHLAK MULIA.

Dan sekarang aku dikenal sebagai makhluk yel yel yang belum pernah berganti. Yel yel itu seperti ini.

Aku mengatakan kepada seluruh hadirin dengan selalu mengepalkan tangan: IKRARKAN BERSAMA…

Seluruh hadirin menjawab dengan sopan namun semangat: IPM BERJAYA!!!

Mungkin ini hanya sederhana. Benar-benar biasa dinyanyikan dan diteriakkan. Namun menginspirasi bahwa kita harus berteriak. Semuanya tidak boleh diam, karena diam adalah ketertindasan. Pelajar Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi pembelajar kelas, namun, harus mengepalkan tangan kemudian menyingsingkan lengan untuk menumbuhsuburkan Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Sebuah organisasi milik kita bersama, satu untuk semua. Tak boleh ada yang hanya berpangku tangan, memandang masa depan sebagai keniscayaan tanpa harus diperjuangkan.

Harapan untuk masa depan.

Ada banyak kesederhanaan yang aku inginkan. Tentunya di samping aku ingin menjadi manusia biasa yang makan, minum, berdandan, kawin, dan jalan-jalan. Serta menjadi mahasiswa biasa yang mendengarkan dosen dan mengerjakan tugas-tugas, menjadi ketua umum yang biasa yang biasanya menopang sekaligus mendorong laju gerak organisasi, menjadi anak dari orang tua, menjadi paman dari keponakan, menjadi adik dari kakak, menjadi pengguna jalan raya Yogyakarta, yang kesemuanya biasa saja.

Kesederhanaan adalah aku masih bisa terus belajar dan terus belajar. Baik di kampus, di kantor, atau di rumah yang seperti surga. Entah itu petang hari, siang, sore, malam, agak malam, lumayan malam, sementara malam, atau malam banget, bahkan malam banget-banget sekalipun. Tidak mengenal siapun dan dari manapun. Kesemuanya adalah misteri. Kesemua misteri itulah sumber ilmu.

Kesederhanaan itu aku bisa menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna amanah. Sebuah kalusa terberat yang dipaksa Bang Izul Muslimin untuk mendoktrin kami tentang kaderisasi yang tiada henti. Sebuah slogan yang hendaknya memberikan semangat yang meluap-luap. Sebuah cita-cita yang semoga bisa banyak teman kita yang dipengaruhi dan menjadi maju. Menjadi seorang pelajar yang kritis-tranfsormatif. Menjadi sesosok pejuang pembela teman sebaya. Menjadi seonggok badan berbonus nyawa yang terus mencari ilmu, menajamkan pena, beramal ilmiah dan berilmu amaliah. Jangan sampai lupa, IPM harus menjadi organisasi pelajar cerdas yang benar-benar mencerdaskan.

0 komentar: