Pagi yang sejuk walau hujan tidak Nampak di April yang kadang masih basah ini. Hanya lantang terdengar:“ASSHALAATUKHAIRUMMINANNAUUM !!!”
Suara masjid sebelah yang parau. Sangat tidak nyaman bagi telinga dan masa pertumbuhan. Cukup ironi, masjid di tengah kawasan kampus penuh pondokan mahasiswa masih saja mempertahankan muazin kolot yang kejam dalam membangunkan. Tapi tak apalah, hitung-hitung inilah panggilan sesungguhnya yang mengajak bersujud tanpa mendayu-dayu, soalnya, semakin mendayu-dayu semakin merdu semakin meninabobokkan warga sekitar.
Ada balasan bersama dalam sebuah pondokan:
“Ghregh… Ghregh… Ghregh… Ghregh… Ghregh… Ghregh…”
Benar-benar kompak walau tanpa latihan paduan suara sebelumnya. Suara satu dari kamar paling ujung dengan khas melengking, sebelahnya kamar berpintu penuh stiker tidak karuan, menambahi dengan suara berat. Yang paling ujung, yang paling parah, selain paling antusias juga paling deras dalam memproduksi tinta pembuat peta pada bantal merah bermotif bunga-bunga.
Orang berliur deras inilah mahasiswa tela(d/t)an pada sebuah universitas calon pemimpin bangsa. Dialah yang sering mengaku agen of change. Sosok pendek kurus yang berpandang mata kuat ini selalu berteriak HIDUP MAHASISWA!!! sehingga merasa tidak masalah dalam memasuki semester 12. Hidupnya penuh dengan aksi demonstrasi keduali demontrasi memasak karena tangan dekilnya alergi dengan yang namanya kompor. Lebih baik makan puntung rokok dan kertas dalaman bungkus rokok yang mengkilap daripada kudu menanak nasi atau sekedar memasak mie rebus telur.
Mentari sedang galak. Tan tanggung-tanggung, pukul 07.33.33 tega menyusup jendela yang tadi malam lupa ditutup gordennya. Mengena muka sang mahasiswa tela(d/t)an, cukup mengeringatkan muka dan punggungnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, sang mahasiswa tela(d/t)an harus menyekanya dan mendongkrak mata untuk melihat jam digital hasil mengambil lupa izin di toko sebelah.
“Duh Biyung!!! Aku harus segera di kampus. Saat ini mid semester matakuliah anu dengan ibu dosen Inu, S. Pd.!”
Tak pakai mandi. Tak pakai sarapan. Tak pakai melipat selimut. Tetap pakai yang bebas tetapi sopan. Tetap pakai cuci muka. Tetap pakai topi pet.
Dunia terhenyak dari pikirannya. Kerikil terhempas dari kedudukannya. Penjual tertohok melihat antusiasme selangit. Itu semua hanya efek samping kecepatan Sang mahasiswa tela(d/t)an dalam mengendarai bebek bututnya. Adapun efek tengahnya tergencetnya ayam Babon hitam Ny. Sutilah, sepatu yang masih di tempat belum sempat diinjak-injak kaki si empu, Sang mahasiswa tela(d/t)an. Serta efek pusatnya, seorang petugas perempatan berbaju hijau yang suka jika dipanggil Polisi mengejar dengan tampang memuakkan, ayam pun akan tertawa jika melihatnya. Bebek butut Sang mahasiswa tela(d/t)an tak kalah juangnya; emisi tanpa tanding, lembut alias nyaring sangat bersuara, dan sekedar penyambung langkah tanpa STNK.
Untung saja, Sang mahasiswa tela(d/t)an bisa lari dari Ny. Sutilah karena Babon dan Polisi yang hanya bawel masalah lampu merah yang tidak pernah melarang untuk melanjutkan perjalanan. Pelarian itu dengan memasuki gang kecil, memasukkan motor ke dalam kos-kosan teman senasib, sepenanggungan, dan seperjuangan dalam berlomba-lomba dalam keburukan. Tanpa izin, Sang mahasiswa tela(d/t)an masuk ke kamarnya, meminjam jaket beda warna, melepas topi dan menyisir rambutnya dengan sisir patah sana-sini, lalu berlari ke kampus berjarak 33 meter dari kos-kosan rekannya tersebut.
Hatinya Dag Dig Dug sangat karuan, langkahnya panjang namun serasa terbang, matanya naik turun bak orang lift. Mulutnya bermantra. Setelah memasuki pintu kelas dia tersenyum sangat manis dan membungkukkan punggung.
“Ibunda Dosen Inu, S. Pd. yang kami hormati, maafkanlah anakanda yang lalai ini. Tadi malam ada perhelatan panjang tentang penggulingan presiden yang tidak tahu balas budi. Walau masih dalam niatan, namun pemikiran anakanda benar-benar menguras tenaga sehingga dini hari pun belumlah purna tugas anakanda tersebut. Apa mau dikata, esok ini anakanda masuk dengan terlambat. Apakah Ibunda memperkenankan anakanda yang hina dina ini mengais ilmu dengan mengikuti ujian tengah semester yang sangat matang telah dipersiapkan sejak anakanda memasuki jagat candradimuka yang banyak rekan kami sebut perkuliahan ini? Sungguh kehormatan besar jika Ibunda mempersilakan. Apapun tidak akan kami tolak demi kesediaan Ibunda yang tiada tara kami sanjungi.” tetap menunduk dan senyum setengah menganga, lalu ditutup kembali, Sang mahasiswa tela(d/t)an sadar lupa sikat gigi.
“Baiklah, silakan duduk di barisan depan saja. Tetap tunjukkan profesionalitas dalam berkarya, jangan memalukan institusi tertinggi dalam organisasi kemahasiswaan universitas calon pemimpin bangsa ini. Dan tolong tekankan serta contohkan kepada yang lainnya, jaga iman dan taqwa dalam ujian tengah semester kali ini.” kata Ibunda dengan (sok-masih dalam harapan maksudnya-) bijaknya.
Muka berkerut. Punggung berair. Dada menguap. Tangan meremas-remas. Mata mengucel-ucel. Entahlah, pokoknya segala rupa ekspresi indentik Sang mahasiswa tela(d/t)an sedang jatuh cinta pada keberuntungan.
33 menit kemudian.
“Baiklah, silakan kumpulkan perkerjaan kalian.” kata Ibu Dosen Inu, S. Pd. yang terhormat. “Ayo contoh Sang mahasiswa tela(d/t)an yang telah menyelesaikan dengan amat cepat lagi baik pekerjaannya ini. Sekarang dia telah beranjak bisa berjuang di tempat lain. Ayolah…”
33 minggu kemudian.
“Lulusan yang sangat kita harapkan telah datang. Dunia telah menanti karyanya yang segera tiba. Partai politik sudah tidak sabar menanti buah pikirnya yang besar bagi amanah yang akan diembannya, untuk memperjuangkan demokrasi demi terwujudnya kebangkitan, keadilan, serta kesejahteraan rakyat dan Negara. Inilah lulusan kita yang menyelesaikan masa studi 14 semester yang sangat berliku, Sang mahasiswa tela(d/t)an.” kata rektor Universitas calon pemimpin bangsa dalam sambutan wisuda.
33 bulan kemudian.
“Para Mahasiswa, inilah masa pemilihan umum tahun antah berantah di Negara antah berantah dapil antah berantah. Silakan gunakan hak pilihnya dengan sebaik-baiknya. Hati-hati hukum gantung bagi yang tidak mengikuti pemilihan umum.” kata Ibu Dosen Inu, M. Hum. yang semakin terhormat. “Ini bukan kampanye, tapi jangan lupa diingat salah satu kakak kelas kalian yang sekarang menjadi calon legislatif partai Begini Anti Begitu. Rekam kerjanya bersih, namanya sudah tenar, alumni kebanggaan Universitas Calon Pemimpin Bangsa, siap dan tangguh dalam berjuang, dialah Sang mahasiswa tela(d/t)an. Sekali lagi, ini bukan kampanye, apalagi ini di institusi pendidikan, sangat tidak etis bagi siapapun untuk berkampanye. Tapi yang aku katakan memang kenyataan, tidak ada fitnah, sepenuhnya apa adanya. Aku sendiri yang akan berteriak paling lantang jika ada yang menggunakan institusi ini untuk kampanye, camkan itu.”
33 tahun kemudian.
“Sungguh luar biasa mahasiswaku yang satu ini. Sudah lama dia lulus, tapi tetap ingat kepada almameter dan dosennya. Aku sangat mencintainya.” kata Ibu dosen Prof. Inu, Ph. D. yang sudah pensiun.
“Terimakasih atas kunjungannya di universitas ini. Inilah rumah kita, rumah Sang mahasiswa tela(d/t)an. Dalam peresmian gedung olah raga mewah berwarna pink yang kemudian kami namakan MEGRENGMEGRENG ini kami haturkan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada presiden Negara Kesatuan Republik Antah Berantah yang juga alumni kebanggaan universitas ini.” kata rektor Universitas Calon Pemimpin Bangasa yang masih berumur muda.
“Baik-baik. Gedung olah raga MEGRENGMEGRENG ini akan menjadi simbol kebesaran. Kebanggan bersama milik bangsa, satu untuk semua, milik kita bersama. Hidup! Hidup! Hidup!” kata presiden Sang mahasiswa tela(d/t)an sambil tersenyum dan mengepalkan tangan ke atas.
Dalam kerumunan itu, masih ada mahasiswa yang mengikuti peresmian Gedung olah raga MEGRENGMEGRENG dengan molor alias tertidur pulas. Itulah anak kandung pak presiden yang sudah bosan tiap hari bertemu dan diberi wejangan olah bapaknya. Dia kuliah di jurusan Nekoneko di fakultas Ruparupa.
0 komentar:
Poskan Komentar